Bagi masyarakat Kalimantan Timur (Kaltim), pesut mahakam bukan sekadar satwa endemik, tapi juga hidup dalam budaya lisan di sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS) Mahakam. Sebagian warga percaya mamalia air tawar itu jelmaan dua anak manusia.
Peneliti Sejarah Kalimantan Timur, Muhammad Sarip, menjelaskan kepercayaan tersebut berasal dari legenda yang diwariskan secara turun-temurun. Legenda tersebut mengisahkan kehidupan sepasang petani sederhana yang tinggal di kawasan sungai bersama sepasang putra putri.
Putra Putri Vs Nasi Panas
Alkisah, suatu hari putra putri itu pulang ke rumah dalam kondisi sangat lapar. Sementara itu, orang tua mereka masih bekerja di kebun dan di dapur terdapat periuk berisi nasi panas.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Versi lain dari legenda menyebutkan makanan tersebut berupa bubur yang masih mendidih," ujar Sarip kepada detikKalimantan, Rabu (7/1/2026).
Sarip menyebut dalam keadaan lapar dan terburu-buru, dua anak itu nekat melahap makanan panas tersebut hingga habis. Panas yang membakar mulut dan tubuh membuat mereka menjerit kesakitan dan panik.
"Karena tidak kuat menahan panas, kedua anak itu berlari menuju sungai untuk mendinginkan tubuh," terangnya.
Dalam perjalanan menuju sungai, mereka memeluk batang-batang pohon pisang. Namun setiap pohon yang disentuh justru layu seketika, seolah ikut menanggung panas yang menyiksa tubuh dua anak tersebut.
Tiba di tepi sungai, mereka langsung menceburkan diri dan merendam seluruh tubuh ke dalam air. Tak lama kemudian, mereka muncul ke permukaan sambil menyemburkan udara dari mulut yang terasa terbakar. Gerakan itu dilakukan berulang kali.
"Peristiwa tersebut perlahan mengubah wujud kedua anak itu. Saat kedua orang tua mereka pulang ke rumah dan mendapati dapur dalam kondisi berantakan, jejak sang anak ditelusuri hingga ke sungai," jelasnya.
Namun yang ditemukan bukanlah dua anaknya. Melainkan dua hewan mirip lumba-lumba yang muncul ke permukaan air, sambil menyemburkan air dari atas kepalanya.
Hewan itulah yang kemudian disebut pesut. Orang tua mereka hanya bisa meratap, meyakini makhluk di sungai itu adalah anak-anaknya yang berubah wujud akibat kutukan.
Legenda tersebut kemudian diwariskan dari generasi ke generasi dan menjadi bagian dari kepercayaan masyarakat bantaran Sungai Mahakam. Di sisi lain, Sarip menyebut temuan ilmiah mengungkap fakta biologis bahwa pesut di Sungai Mahakam memiliki kekhasan, berbeda dibandingkan spesies sejenis di perairan lain.
"Karena kekhasan itu, spesies ini kemudian dikenal sebagai pesut mahakam," jelasnya.
Legenda dan temuan ilmiah seolah berjalan berdampingan, memperkuat posisi pesut mahakam tidak hanya sebagai satwa endemik yang dilindungi, tetapi juga sebagai bagian dari identitas budaya masyarakat Sungai Mahakam.
Pesut mahakam/ Foto: Pesut Mahakam. (Dok Ketua Kelompok Sadar Wisata Desa Pela, Alimin) |
Putra Putri Vs Ibu Tiri
Cerita serupa hidup dari lisan ke lisan di Kota Raja, julukan Kabupaten Tenggarong, Kutai Kartanegara (Kukar). Namun ada sedikit perbedaan, di mana dikisahkan dua anak tersebut merupakan anak piatu.
Budayawan Kukar, Awang M Rifani menceritakan ayah dari dua putra putri itu menikah lagi. Namun ibu tiri mereka tidak merawat mereka dengan baik.
"Namanya ibu tiri ya, jadi saat ayah mereka pergi ke ladang, mereka tidak diperlakukan dengan baik," terang Awang.
Suatu ketika, dua anak itu dalam kondisi kelaparan. Kemudian mereka mencari makan di dapur dan hanya menemukan nasi yang baru dimasak di atas tungku.
"Nasi itu belum masak, tapi mereka makan dalam keadaan panas, kemudian mereka kepanasan dan lari ke arah sungai. Di perjalanan sempat memeluk beberapa batang pohon pisang tetapi semua layu," jelasnya.
Akhir ceritanya tak jauh berbeda dengan kisah pertama. Awang menyebut sampai sekarang legenda pesut mahakam masih terdengar.
"Kalau untuk anak-anak hari ini kurang tahu ya, tapi memang cerita ini masih kuat, cuma populernya itu memang di tahun 1980-1990an," tutupnya.
Simak Video "Eksplorasi Jalanan Malam di Kawasan Tepian Berau, Kalimantan Timur "
[Gambas:Video 20detik]
(sun/bai)

