Penghageng Kawedanan Hageng Nitya Budaya Keraton Yogyakarta, Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Bendara mengenalkan dua kuliner langka asal DIY di Wonderful Indonesia Gastronomy (WIG) Talk 2026. Dua kuliner legendaris itu adalah nasi golong gilig dan dawet sambal.
"Begitu banyak sebetulnya, ada beberapa makanan yang sudah tidak populer sekarang, padahal itu adalah salah satu dari sejarah kita," ujar GKR Bendara usai forum WIG Talk di Jogja, Jumat (2/10/2026).
"Jadi ada nasi golong gilig, sajian itu hanya dikeluarkan pada saat ada acara tertentu. Ini yang juga kita pre-serve menjadi, paling tidak narasinya apa, kita bisa reintroduce kepada industri untuk mulai memperkenalkannya ke restoran," imbuhnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
WIG 2026 merupakan forum yang berisi berbagai kegiatan yang mempertemukan kekayaan gastronomi Indonesia dengan industri dan pasar. Salah satunya WIG talk yang menghadirkan 22 pembicara dalam lima sesi diskusi dan satu sesi ulasan buku. GKR Bendara menjadi salah satu pembicaranya.
GKR Bendara yang juga Ketua Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) DIY menjelaskan kuliner dawet sambal yang berasal dari daerah Jatimulyo, Girimulyo, Kulon Progo.
Dilansir laman resmi Kementerian Pendidikan Dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Kebudayaan, dawet sambal Kulon Progo merupakan makanan yang sudah jarang ditemui karena usianya yang sudah hampir 70 tahun.
"Ada juga namanya dawet sambal di Kulon Progo, ini sudah menjadi warisan budaya. Ini originalnya yang buat juga masih ada, tetapi tidak ada regenerasinya karena memang tidak banyak yang mengulasnya," ungkapnya.
GKR Bendara bilang, dawet sambal tergolong kuliner langka karena sangat jarang diulas. Jika mendapat sorotan yang masif, ia yakin dawet sambal bisa jadi daya tarik wisata.
"Karena terkadang orang baru mendengar dawet sambal sudah menolak dulu, karena pikirannya dawet manis kok ada sambalnya. Jadi dawet manis tapi ada sambal pecelnya, jadi ada tahunya tapi ada dawetnya," ujarnya.
"Ini kita coba terus promosikan, dan dawet sambel itu menjadi paket perjalanan wisata di desa wisata. Dan ini harapannya juga lebih banyak orang tahu," sambung GKR Bendara.
Selain menyinggung tantangan melestarikan kuliner langka, Putri bungsu Raja Keraton Yogyakarta Sri Sultan Hamengku Buwono X itu turut membeberkan masalah yang dihadapi kuliner populer khas Jogja, gudeg.
"Ada permasalahan yang sedang coba ditangani oleh pemerintah daerah, itu adalah sourcing buah nangka untuk gudeg," ungkap GKR Bendara.
"Kebanyakan nangkanya itu dari luar Jogja, karena di Jogja itu kekurangan pohon nangka. Bahkan di Gunungkidul itu, mereka sudah tidak pakai nangka tetapi gedebok pisang, batang pohon pisang, jadi gudeg gedebok pisang," imbuhnya.
Merespons penuturan GKR Bendara, Menteri Pariwisata (Menpar) Widiyanti Putri Wardhana berharap forum sekaliber WIG ini bisa mengangkat dan melestarikan kuliner langka di Indonesia khususnya Jogja.
"Kita mempertemukan pemerintah, pelaku industri, chef, praktisi, akademisi, dan komunitas untuk membicarakan gastronomi dari berbagai sisi, sebagai identitas dan penggerak sosial-ekonomi, bagaimana warisan kuliner dapat berkembang menjadi bisnis," kata Widiyanti.
"Tujuan akhirnya bukan sekadar membuat orang mencicipi makanan Indonesia. Kita ingin rasa menjadi alasan orang melakukan perjalanan, datang ke suatu daerah, bertemu masyarakatnya, mengenal bahan pangannya, mendengar ceritanya, lalu meninggalkan manfaat ekonomi," imbuhnya.
Selain WIG Talk, juga ada Artisan Market yang menghadirkan 21 tenant dari wilayah Joglosemar dan Jakarta, 13 kolaborator yang menghadirkan berbagai workshop, sharing session, serta live cooking demo. Artisan Marker digelar mulai 2-4 Oktober 2026 di Hotel Grand de Djokja.
