Benarkah Ikan Asin Memicu Kanker? Ini Penjelasannya

Benarkah Ikan Asin Memicu Kanker? Ini Penjelasannya

Arum Sekar Pertiwi - detikJogja
Kamis, 16 Apr 2026 12:45 WIB
Penjelasan benar atau tidaknya ikan asin memicu kanker.
Proses produksi ikan asin. (Foto: Grandyos Zafna)
Jogja -

Masyarakat Indonesia tentunya sudah familiar dengan ikan asin. Di Jawa Tengah dan Jogja, ikan asin biasa dijadikan lauk nasi kenduri atau nasi selamatan. Ikan asin juga kerap menjadi pilihan makanan yang praktis karena penyajiannya yang mudah dan dapat disimpan dalam waktu lama.

Dikutip dari buku Pangan Lokal Kaya Protein karya Dewi himatul Munif, istilah ikan asin merujuk pada ikan yang diolah dengan penggaraman dan pengeringan di bawah sinar matahari. Ikan yang diolah dengan teknik ini beraneka macam, mulai dari ikan teri, ikan jahan, ikan pari, dan sebagainya.

Meski sudah dikeringkan, ikan asin masih mengandung beberapa nutrisi, mulai dari protein, kalsium, fosfor, zat besi, hingga vitamin B1. Namun, terdapat pendapat yang mengatakan bahwa ikan asin sebenarnya tidak baik untuk kesehatan, bahkan dapat memicu kanker.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Lantas, benarkah ikan asin dapat memicu kanker? Simak fakta tentang ikan asin di bawah ini!

ADVERTISEMENT

Benarkah Ikan Asin Picu Kanker?

Ikan laut sendiri, termasuk ikan yang menjadi bahan baku ikan asin, sebenarnya adalah bahan pangan kaya nutrisi dan menyehatkan. Umumnya, ikan laut mengandung protein, omega 3, dan nutrisi lainnya yang dibutuhkan tubuh. Namun, cara pengolahan ikan dapat mempengaruhi kualitas nutrisi pada ikan dan dapat memicu penyakit tertentu.

Dalam konteks ikan asin, pengolahan ikan ini dikaitkan dengan kanker nasofaring. Berdasarkan artikel bertajuk Konsumsi Ikan Asin Meningkatkan Risiko Kanker Nasofaring: Tinjauan Sistemarik dan Meta-analisis oleh Pangestu, dkk., proses pengeringan dan pengasinan ikan asin menimbulkan reaksi nitrosasi. Reaksi ini muncul dari interaksi antara ikan asin, senyawa nitrat, dan nitrit, lalu menghasilkan senyawa nitrosamin.

Senyawa nitrosamin dapat menimbulkan mutasi DNA yang akhirnya memicu kanker nasofaring. Selain itu, nitrosamin juga berkontribusi dalam pengaktifan virus Epstein-Barr yang mempengaruhi ekspresi protein LMP1, sehingga terjadi pertumbuhan sel tidak terkendali yang menyebabkan kanker nasofaring.

Kanker nasofaring sendiri merupakan jenis kanker kepala dan leher, tepatnya menyerang lapisan epitel nasofaring. Kanker ini diasosiasikan dengan asap rokok, pengaruh lingkungan, formalin, hingga konsumsi makanan yang diawetkan, seperti ikan asin.

Terdapat beberapa studi yang menunjukkan hubungan antara konsumsi ikan asin dengan kanker nasofaring. Dari beberapa penelitian yang dihimpun dalam artikel karya Pangestu dkk, disimpulkan bahwa mengonsumsi ikan asin lebih dari 3 kali dalam 1 bulan dapat meningkatkan risiko kanker nasofaring sebesar 1,65 kali. Semakin banyak frekuensi dan jumlah ikan asin yang dikonsumsi, maka semakin besar pula risiko kanker nasofaring, terutama jika dikonsumsi pada masa kanak-kanak.

Berdasarkan buku IARC Monographs on the Evaluation of Carcinogenic Risks to Humans, No. 56 yang diterbitkan oleh International Agency for Research on Cancer, konsumsi ikan asin juga dikaitkan dengan jenis kanker lainnya. Studi di Jepang, misalnya, menunjukkan korelasi antara konsumsi ikan asin dengan kanker lambung dan kanker esofagus. Studi di Amerika Serikat dan Hawaii juga menunjukkan asosiasi antara konsumsi ikan asin atau kering dengan risiko kanker lambung.

Bahaya ikan asin tidak hanya timbul dari proses pengeringan dan pengasinannya, tetapi juga bisa muncul apabila ikan asin diawetkan dengan formalin. Artikel bertajuk Food Safety Test of Salted Fish from the Traditional Markets of Kapuas Regency Indonesia and Control Efforts oleh Aryani, dkk., menunjukkan adanya penggunaan formalin pada ikan asin yang dijual di Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah.

Penelitian tersebut dilakukan di tahun 2024 dengan sampel berupa ikan asin jenis ikan selar, cumi-cumi, ikan gulama, ikan teri, dan ikan kapasan dari 2 pasar tradisional. Hasilnya, semua ikan asin yang diteliti ternyata mengandung formalin dengan kadar tinggi.

Dikutip dari laman Center for Food Safety Hong Kong, konsumsi formaldehida, senyawa pembentuk formalin, dalam jumlah kecil mungkin tidak berdampak serius. Namun, konsumsi dalam kadar tinggi dapat menyebabkan sakit perut, muntah-muntah, koma, hingga kematian. Senyawa ini juga berpotensi menyebabkan kanker.

Lantas, Apakah Ikan Asin Tidak Boleh Dikonsumsi?

Sejauh ini, BPOM sendiri tidak mengategorikan ikan asin sebagai makanan berbahaya selama ikan asin tersebut bebas formalin. Dari penelitian yang telah disebutkan sebelumnya, dapat dilihat pula bahwa risiko kanker muncul ketika ikan asin dikonsumsi secara berlebihan, terutama jika dikonsumsi oleh anak-anak.

Agar tetap aman, konsumsi ikan asin dalam moderasi dan sebaiknya hindari konsumsi ikan asin pada anak-anak. Selain itu, pastikan untuk memilih ikan asin berkualitas baik.

Sejak Kapan Ikan Asin Dikonsumsi Manusia?

Sejarah pengawetan ikan dengan metode pengasinan atau pengeringan telah dilakukan oleh masyarakat di berbagai negara sejak ribuan tahun lalu. Berdasarkan artikel bertajuk Health Benefits and Functions of Salt-fermented Fish oleh Yong-Jun Cha, manusia telah mengawetkan makanan laut dengan metode pengasinan sejak 6000 SM. Praktik ini ditemukan di peradaban Yunani Kuno dan produknya menjadi komoditas perdagangan di Mediterania.

Dikutip dari laman Science Direct, pengasinan ikan di area Mediterania biasanya dilakukan pada ikan teri dan sarden. Beberapa wilayah Eropa dan Rusia juga melakukan pengasinan pada ikan haring.

Di Indonesia, perdagangan ikan asin juga termuat dalam catatan sejarah masyarakat Jawa kuno. Dikutip dari buku Pasar di Jawa pada Masa Mataram Kuna Abad VIII-XI Masehi oleh Titi Surti Nastiti, Prasasti Kamalagyan menyebutkan bahwa Sungai Brantas menjadi salah satu jalur distribusi barang dagangan yang akan diperdagangkan di pasar. Salah satu komoditi pasar tersebut adalah pja yang diduga merujuk pada ikan asin.

Prasasti lain seperti prasasti Waharu I dan Jenggolo juga menunjukkan eksistensi gereh atau ikan asin sebagai komoditi pasar di Jawa kala itu. Ikan asin dalam prasasti tersebut diukur dalam satuan yang disebut kujur. Catatan pada prasasti era Jawa kuno menyebutkan bahwa ikan asin atau dendeng ikan umumnya dibuat dari ikan laut, seperti ikan kembung, ikan duri, ikan kakap, ikan tenggiri, ikan bawal, ikan selar, cumi-cumi, ikan layar/pari, ikan gabus, kepiting, dan udang.

Makanan tersebut umumnya disajikan dalam upacara penetapan sima, tetapi terdapat pula jenis ikan asin yang menjadi konsumsi harian masyarakat. Hingga saat ini, ikan asin pun masih sering dikonsumsi oleh masyarakat, baik sebagai konsumsi harian maupun saat upacara adat.

Demikian penjelasan tentang ikan asin dan hubungannya dengan kanker. Semoga menjawab, ya!

Artikel ini ditulis oleh Arum Sekar Pertiwi peserta Program MagangHub Bersertifikat dari Kemnaker di detikcom




(sto/aku)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads