Hidrogen dalam Kasus Kebakaran 73 Kali di Rumah Fia Seyegan

Round-Up

Hidrogen dalam Kasus Kebakaran 73 Kali di Rumah Fia Seyegan

Tim detikJogja - detikJogja
Selasa, 02 Jun 2026 05:00 WIB
Api masih muncul di rumah warga Kasuran Mriyan X, Seyegan, Sleman, Senin (1/6/2026).
Api masih muncul di rumah warga Kasuran Mriyan X, Seyegan, Sleman, Senin (1/6/2026). Foto: Jauh Hari Wawan S/detikJogja
Jogja -

Kebakaran misterius terjadi hingga 73 kali di rumah Mutfiana warga Kasuran Mriyan X, Seyegan, Sleman, dalam sepuluh hari terakhir. Saat salah satu kebakaran itu terjadi, pakar dari Fakultas Teknik UGM memantau adanya kenaikan hidrogen di lokasi.

Teror Api Sejak 23 Mei

Menurut Mufttiana, kebakaran akibat api misterius itu pertama kali terjadi di rumahnya pada Sabtu (23/5) lalu. Kebakaran itu masih terjadi hingga Senin (1/6) siang.
Kemarin sekitar pukul 12.19 WIB, baju yang menggantung di kamar tiba-tiba terbakar dan membuat heboh penghuni rumah.

"Sama yang ini tadi berarti totalnya 73 kali. Di sekitar 65 titik," kata Fia saat ditemui wartawan di rumahnya, Senin (1/6/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ia mengatakan, di ruangan yang terjadi kebakaran sebenarnya hari ini telah dicek oleh peneliti dari UGM. Bahkan saat kebakaran terjadi, tim peneliti UGM juga masih berada di lokasi.

"Memang terjadi dan ruangan itu sebenarnya kosong waktu tadi, waktu terjadinya api. Ibu masuk baru kelihatan nih apinya udah gede," jelasnya.

ADVERTISEMENT

Menurutnya, sejak pertama muncul hingga hari ini, rata-rata api muncul 7 hingga 9 kali dalam sehari. Kebanyakan dari 65 titik api muncul di ruangan terbuka.

Kaus yang tiba-tiba terbakar di rumah warga Seyegan, Sleman, Senin (1/6/2026)Kaus yang tiba-tiba terbakar di rumah warga Seyegan, Sleman, Senin (1/6/2026) Foto: Jauh Hari Wawan S/detikJogja

"Sehari 7, 8, 9 (kali). Kamar itu kebakaran baru dua kali," ujarnya.

"Udah banyak (yang terbakar). Iya, kain-kain. Kain, kardus, ya yang mudah terbakar lah," imbuh dia.

Sementara itu sejumlah pakar dari UGM dan BPPTKG masih melakukan pengecekan ke lokasi untuk mencari penyebab dan sumber kemunculan api.

"Sudah lebih cerah, sudah lebih tenang, tapi tetap harus waspada. Karena ini belum berakhir. Hanya tenang, oh ini ternyata tidak ada kaitannya dengan mistis tapi memang ada dan bisa dipelajari secara ilmiah dan menunggu hasil dari (penelitian pakar) mungkin beberapa hari lagi," ucap Fia.

Hidrogen Terpantau Naik Terus

Sejumlah pakar dari Fakultas Teknik UGM kembali melakukan observasi dan pengambilan sampel di rumah Fia warga Seyegan, Sleman, yang mengalami kebakaran berulang kali.

Pantauan detikJogja, tim peneliti dari UGM sempat menyaksikan langsung kejadian terbakarnya kaus yang tergantung dalam kamar di rumah Mutfia, kemarin siang.
Sebelum api membesar, tim menyemprotkan APAR untuk memadamkan api. Akan tetapi, tak berselang lama di kaus tersebut mulai muncul asap putih.

Tim peneliti kemudian membawa kaus itu ke luar ruangan. Dari hasil pengukuran, terjadi peningkatan suhu di kaus tersebut dan asap putih semakin mengepul.

"Ini kami tadi barusan menyaksikan apa, live ya, maksudnya live terjadinya kebakaran setelah diinfokan oleh Mbak Mut (Mutfia) tadi. Nah, ini adalah satu satu kejadian yang memang luar biasa ya, kita bisa lihat langsung," kata Koordinator Tim Pusat Kajian Pelambatan Entropi (PKPE) FT UGM Prof Alva Edy Tontowi, saat ditemui wartawan, Senin (1/6/2026).

Prof Alva menjelaskan, saat diukur dengan alat, terdapat peningkatan suhu di kaus yang terbakar. Selain itu, salah satu temuan dalam observasi hari ini adalah keberadaan gas hidrogen atau H2 di pakaian yang terbakar hari ini.

"Dan ini pada intinya adalah tadi diukur, kita mengukur suhu. Suhunya juga naik terus. Kemudian yang terpantau hidrogennya, H2-nya yang naik terus. Gas hidrogen," jelasnya.

Ia mengatakan, sampel yang diambil akan diteliti di lab pada Selasa (2/6) guna menganalisa penyebab kemunculan gas hidrogen. Untuk sementara, ia meminta kepada pemilik rumah untuk mengosongkan ruangan tersebut untuk mengurangi potensi bahan yang mudah terbakar.

"Karena di situ ada kain, ada kertas, ada apa yang kemudian akan pindah juga tempat-tempat yang potensial tadi," katanya.

"Jadi ada satu kondisi kenapa (kebakarannya) pindah-pindah karena berupa gas. Gas itu bisa konsentrasi sana memenuhi syarat, nyala," lanjutnya.

Akan tetapi, pihaknya masih belum bisa mengambil kesimpulan. Keberadaan hidrogen, metana, dan dugaan-dugaan lain masih harus diteliti lebih lanjut agar mendapatkan hasil yang pasti.

"Nah, sementara ini dugaan-dugaan, ini baru dugaan-dugaan ya, tetapi nanti pastinya itu adalah dari yang apa lab yang sudah terukur ya. Bukan hanya sebuah kata-kata, tetapi ini adalah angka-angka yang bicara," ujarnya.

Sementara itu salah satu anggota tim peneliti FT UGM, Prof. Dr. Ir. Agung Harijoko, S.T., M.Eng, IPM., menjelaskan alat pendeteksi gas yang dibawa mendeteksi adanya gas metana hingga hidrogen. Terutama di lokasi kamar yang mengalami kebakaran siang ini terdeteksi peningkatan konsentrasi gas hidrogen.

"Jadi kami mendeteksi apa namanya, CH4, hidrogen, kemudian ada CO2 dan O2 ya. Nah, yang di tempat yang terbakar tadi di ruangan tadi itu yang ada spike langsung naik tinggi, itu adalah gas hidrogennya," kata Prof Agung.

Guru Besar bidang Ilmu Vulkanologi itu menjelaskan gas hidrogen bisa menyala tanpa perlu percikan api. Oleh karena itu, ada dugaan hidrogen yang menjadi penyebab barang-barang di rumah Mutfia terbakar.

Akan tetapi, pihaknya masih harus memastikan dari mana sumber hidrogen tersebut. Termasuk mekanisme pembentukan hidrogen yang ada di rumah itu.

"Nah, jadi suspeknya gasnya adalah gas hidrogen, kemungkinan. Cuman yang kemudian kami harus memikirkan lagi adalah sumbernya dari mana? Mekanismenya. Mekanisme pembentukan gas hidrogen ini yang perlu kami telaah lagi," jelasnya.

Untuk saat ini, tim telah mengambil sampel air dari sumur untuk mengecek apakah ada organisme pembentuk hidrogen.

"Dekomposisi, pembusukan dari organik itu apakah itu yang menghasilkan hidrogen itu yang harus kami teliti lagi," ujarnya.

Halaman 2 dari 2
(dil/dil)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads