Sejumlah pakar dari Fakultas Teknik UGM kembali melakukan observasi dan pengambilan sampel di rumah warga Seyegan, Sleman, yang mengalami kebakaran berulang kali.
Pantauan detikJogja, tim peneliti dari UGM sempat menyaksikan langsung kejadian terbakarnya barang di rumah Mutfia hari ini. Sekitar pukul 12:19 WIB, tiba-tiba kaus di dalam kamar terbakar.
Sebelum api membesar, tim kemudian menyemprotkan APAR untuk memadamkan api. Akan tetapi, tak berselang lama di kaus tersebut mulai muncul asap putih.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tim peneliti kemudian membawa kaus itu ke luar ruangan. Dari hasil pengukuran, terjadi peningkatan suhu di kaus tersebut dan asap putih semakin mengepul.
"Ini kami tadi barusan menyaksikan apa, live ya, maksudnya live terjadinya kebakaran setelah diinfokan oleh Mbak Mut (Mutfia) tadi. Nah, ini adalah satu satu kejadian yang memang luar biasa ya, kita bisa lihat langsung," kata Koordinator Tim Pusat Kajian Pelambatan Entropi (PKPE) FT UGM Prof Alva Edy Tontowi, saat ditemui wartawan, Senin (1/6/2026).
Prof Alva menjelaskan, saat diukur dengan alat, terdapat peningkatan suhu di kaus yang terbakar. Selain itu, salah satu temuan dalam observasi hari ini adalah keberadaan gas hidrogen atau H2 di pakaian yang terbakar hari ini.
"Dan ini pada intinya adalah tadi diukur, kita mengukur suhu. Suhunya juga naik terus. Kemudian yang terpantau hidrogennya, H2-nya yang naik terus. Gas hidrogen," jelasnya.
Ia mengatakan, sampel yang diambil akan diteliti di lab pada Selasa (2/6) guna menganalisa penyebab kemunculan gas hidrogen. Untuk sementara, ia meminta kepada pemilik rumah untuk mengosongkan ruangan tersebut untuk mengurangi potensi bahan yang mudah terbakar.
"Karena di situ ada kain, ada kertas, ada apa yang kemudian akan pindah juga tempat-tempat yang potensial tadi," katanya.
"Jadi ada satu kondisi kenapa (kebakarannya) pindah-pindah karena berupa gas. Gas itu bisa konsentrasi sana memenuhi syarat, nyala," lanjutnya.
Akan tetapi, pihaknya masih belum bisa mengambil kesimpulan. Keberadaan hidrogen, metana, dan dugaan-dugaan lain masih harus diteliti lebih lanjut agar mendapatkan hasil yang pasti.
"Nah, sementara ini dugaan-dugaan, ini baru dugaan-dugaan ya, tetapi nanti pastinya itu adalah dari yang apa lab yang sudah terukur ya. Bukan hanya sebuah kata-kata, tetapi ini adalah angka-angka yang bicara," ujarnya.
Sementara itu salah satu anggota tim peneliti FT UGM, Prof. Dr. Ir. Agung Harijoko, S.T., M.Eng, IPM., menjelaskan alat pendeteksi gas yang dibawa mendeteksi adanya gas metana hingga hidrogen. Terutama di lokasi kamar yang mengalami kebakaran siang ini terdeteksi peningkatan konsentrasi gas hidrogen.
"Jadi kami mendeteksi apa namanya, CH4, hidrogen, kemudian ada CO2 dan O2 ya. Nah, yang di tempat yang terbakar tadi di ruangan tadi itu yang ada spike langsung naik tinggi, itu adalah gas hidrogennya," kata Prof Agung.
Guru Besar bidang Ilmu Vulkanologi itu menjelaskan gas hidrogen bisa menyala tanpa perlu percikan api. Oleh karena itu, ada dugaan hidrogen yang menjadi penyebab barang-barang di rumah Mutfia terbakar.
Akan tetapi, pihaknya masih harus memastikan dari mana sumber hidrogen tersebut. Termasuk mekanisme pembentukan hidrogen yang ada di rumah itu.
"Nah, jadi suspeknya gasnya adalah gas hidrogen, kemungkinan. Cuman yang kemudian kami harus memikirkan lagi adalah sumbernya dari mana? Mekanismenya. Mekanisme pembentukan gas hidrogen ini yang perlu kami telaah lagi," jelasnya.
Untuk saat ini, tim telah mengambil sampel air dari sumur untuk mengecek apakah ada organisme pembentuk hidrogen.
"Dekomposisi, pembusukan dari organik itu apakah itu yang menghasilkan hidrogen itu yang harus kami teliti lagi," ujarnya.
(afn/dil)

Komentar Terbanyak
Saran Pakar UGM soal Polemik Jogja Last Friday Ride
Daftar Negara Lolos Semi Final Piala Dunia 2026: Isinya Rank 1-4 FIFA!
Hasil Piala Dunia 2026: Spanyol ke Final Usai Sikat Prancis 2-0