Para pencinta ikan akuarium tentu sudah familiar dengan ikan sapu-sapu. Ikan ini biasa ditempatkan di akuarium untuk membersihkan lumut dan kotoran pada akuarium. Meski bermanfaat di akuarium, sayangnya ikan ini justru bisa berbahaya jika dilepas di alam liar, seperti sungai atau danau.
Ikan sapu-sapu sendiri bersifat invasif dan dapat mengancam kehidupan ekosistem air. Dikutip dari laman Nature World News, ancaman ikan ini salah satunya terjadi di Texas, Amerika Serikat. Lebih dari 400 ikan sapu-sapu ditemukan di perairan Texas dan disinyalir dilepasliarkan oleh pemelihara ikan. Keberadaan ikan ini tidak hanya mengancam populasi ikan lokal, tetapi juga dapat memicu erosi di perairan.
Di Indonesia, keberadaan ikan ini juga kerap dikaitkan dengan rusaknya ekosistem perairan, misalnya di Sungai Ciliwung. Berdasarkan buku Yuk Mengenal Ikan Sapu-sapu Sungai Ciliwung oleh Dewi Elfidasari, sebelumnya terdapat lebih dari 180 jenis ikan yang hidup di DAS Ciliwung. Namun, pada 2005, terjadi penurunan jenis ikan hingga tersisa 20 jenis ikan saja. Dari 20 jenis ikan tersebut, terdapat 5 jenis ikan asing yang ditemukan, termasuk ikan sapu-sapu spesies Pterygoplichthys pardalis.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lantas, mengapa ikan sapu-sapu bisa mengancam ekosistem? Simak penjelasan tentang ikan sapu-sapu dan dampaknya terhadap lingkungan di bawah ini!
Mengenal Ikan Sapu-sapu
Berdasarkan artikel dari Proceeding Biology Education Conference oleh Kukuh Munandar dan Novy Eurika, di dunia internasional, ikan sapu-sapu dikenal dengan nama Plecostomus atau pleco/plecs. Ikan ini diduga berasal dari Amerika Selatan, tepatnya Sungai Amazon. Terdapat beberapa spesies ikan sapu-sapu, tetapi spesies yang paling terkenal di Indonesia adalah Hypostomus plecostomus atau Pterygoplichthys pardalis.
Sesuai namanya, ikan sapu-sapu biasa dijadikan sebagai tukang bersih-bersih akuarium karena kemampuannya dalam membersihkan lumut, alga, sisa pakan, dan kotoran secara efektif. Ikan ini pun memiliki kemampuan hidup di lingkungan apapun, mulai dari kolam, parit, got, bahkan perairan yang tercemar.
Dikutip dari buku Yuk Mengenal Ikan Sapu-sapu Sungai Ciliwung oleh Dewi Elfidasari, keberadaan ikan sapu-sapu ditandai dengan adanya lubang atau sarang tempat telur ikan yang digali dan dijaga oleh ikan dewasa. Lubang yang masih aktif biasanya memiliki pintu masuk berbentuk triangular atau oval dengan lebar 21 cm dan panjang lubang 1 m, sedangkan lubang yang sudah ditinggalkan akan tampak terdegradasi. Kumpulan lubang buatan ikan sapu-sapu biasanya akan tampak saat sungai sedang surut.
Keberadaan ikan ini sendiri diduga sudah ada di Indonesia sejak tahun 1970, baru tercatat pada tahun 1990-an. Masuknya ikan sapu-sapu ke Indonesia diduga berasal dari perdagangan ikan hias. Ikan ini banyak diminati oleh pencinta ikan hias karena memiliki bentuk yang unik dan dapat menjadi pembersih alami pada kolam atau akuarium.
Ikan sapu-sapu awalnya berukuran kecil dan tampak lucu. Namun, seiring berjalannya waktu, ikan ini akan semakin membesar dan mengalami peningkatan kemampuan dalam mengkonsumsi makanan. Akhirnya, ikan ini tidak hanya memakan lumut, tetapi juga menyantap telur ikan jenis lain di kolam/akuarium tersebut. Hal ini membuat banyak pemilik ikan sapu-sapu melepaskan ikan tersebut ke sungai atau perairan air tawar lainnya seperti Sungai Ciliwung.
Bahaya Ikan Sapu-sapu bagi Ekosistem Perairan
Karakteristik ikan sapu-sapu yang dapat hidup di berbagai lingkungan dan perilaku makannya membuat ikan ini menjadi ancaman bagi ekosistem perairan air tawar. Berikut adalah beberapa bahaya ikan sapu-sapu bagi ekosistem yang dirangkum dari buku Yuk Mengenal Ikan Sapu-sapu Sungai Ciliwung oleh Dewi Elfidasari dan artikel bertajuk The Environmental Impact of Hypostemus Plecostomus: Assessing the Potential Harm to Water Species oleh Maruf Adnan.
1. Spesies Ikan Invasif
Spesies invasif merujuk pada spesies yang keberadaannya berdampak negatif terhadap biodiversitas hingga kesehatan manusia. Spesies ini memiliki kemampuan reproduksi yang cepat, sehingga dapat menyebabkan pertumbuhan populasi yang begitu cepat. Selain itu, spesies invasif juga memiliki kemampuan adaptasi terhadap berbagai jenis lingkungan dan pemakan segala.
Ikan sapu-sapu sendiri memiliki kemampuan adaptasi yang tinggi, mampu berkembang biak dengan cepat, dan akhirnya mengancam populasi ikan lokal. Karakteristik tersebut membuat ikan sapu-sapu tergolong ikan invasif yang berbahaya bagi perairan air tawar.
Kehadiran ikan sapu-sapu di Sungai Ciliwung, misalnya, disinyalir menjadi pemicu penurunan jumlah spesies ikan lokal di sungai tersebut. Ikan sapu-sapu di Sungai Ciliwung tidak memiliki predator atau kompetitor, sehingga mereka menjadi kompetitor yang handal bagi ikan lokal di perairan Ciliwung. Akibatnya, ikan lokal seperti ikan betutu, balida, gabus, hingga kepiting Malayopotamon javanese pun kini sulit ditemukan di Sungai Ciliwung.
2. Mengubah Dinamika Habitat Perairan Air Tawar
Perilaku makan yang dimiliki oleh ikan sapu-sapu dapat menggerus permukaan sungai dan menghilangkan alga dari sungai. Hal ini dapat berdampak buruk bagi spesies tumbuhan dan invertebrata setempat, sehingga dapat mengganggu keseimbangan ekosistem. Terdapat studi yang menunjukkan bahwa keberadaan ikan sapu-sapu juga memengaruhi ketersediaan tempat berlindung bagi organisme di perairan.
3. Membuat Spesies Asli Sulit Mencari Makan
Ikan sapu-sapu memakan alga dan sisa bahan organik (detritus) di perairan. Hal ini membuat spesies hewan lokal harus berkompetisi dengan ikan sapu-sapu untuk memperoleh makanan.
4. Menularkan Penyakit
Sebagai spesies pendatang, ikan sapu-sapu dapat membawa patogen asing. Hal ini dapat membuat spesies akuatik setempat tertular penyakit, sehingga dapat mengancam eksistensi spesies lokal.
Demikian penjelasan tentang alasan ikan sapu-sapu merusak ekosistem. Bagi detikers yang tertarik dengan ikan sapu-sapu, pastikan untuk memeliharanya dengan bijak dan jangan dilepas ke sungai atau alam liar, ya!
Artikel ini ditulis oleh Arum Sekar Pertiwi peserta Program MagangHub Bersertifikat dari Kemnaker di detikcom
