Harga bahan pangan, terkhusus Sembilan Bahan Pokok (Sembako), di Kota Jogja dapat berubah sewaktu-waktu karena sejumlah faktor. Bagi masyarakat, mengetahuinya adalah hal yang penting agar bisa menentukan prioritas pembelian pangan sehari-hari.
Minggu (2/11/2025), laman resmi Panel Harga Badan Pangan Nasional (Bapanas) masih menjalani perawatan alias maintenance. Namun, daftar harga versi Bapanas tetap bisa dicek melalui aplikasi Panell Harga Pangan dari Bapanas.
Dikutip pada pukul 12.26 WIB, cabai merah keriting dan cabai merah besar kompak melonjak. Beberapa bahan pangan lain juga naik, tetapi tidak sesignifikan kedua bahan pangan itu, seperti cabai rawit merah, telur ayam ras, dan tepung terigu kemasan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Cabai merah keriting ngegas dari Rp 45.714 menjadi Rp 49.286 per kilogram. Dengan demikian, selama satu minggu terakhir, cabai merah keriting sudah naik lebih dari 10.000 Rupiah. Sebagai informasi, pada 26 Oktober 2025 lalu, harganya masih ada di angka Rp 38.571.
Cabai merah besar di sisi lain naik dari Rp 46.429 menjadi Rp 48.571 sekilo. Terhitung sejak 26 Oktober, satu kilogram cabai merah besar stabil di kisaran Rp 40 ribuan sekilo. Harga termurahnya adalah Rp 41.429, sedangkan paling mahal di angka Rp 48.571.
Bagaimana dengan bahan pokok lain? Cabai rawit merah naik dari Rp 26.714 menjadi Rp 27.857. Telur ayam ras bergeser menjadi Rp 30.750, sebelumnya dibanderol Rp 29.375. Adapun daging ayam, turun tipis dari Rp 35.167 menjadi Rp 35.000.
Perlu diingat, data final Bapanas baru tersedia pukul 13.00 WIB sehingga perubahan harga masih dimungkinkan. Perubahan lengkap sembako Jogja hari ini dapat detikers simak via poin-poin berikut.
Perubahan Harga Sembako Jogja 2 November Versi Bapanas
Berikut perubahan harga sembako Jogja secara lengkap berdasar data Bapanas:
- Beras premium: Rp 14.500/kg
- Beras medium: Rp 12.913/kg
- Beras SPHP: Rp 12.500/kg
- Kedelai biji kering (impor): Rp 9.200/kg
- Bawang merah: Turun dari Rp 33.714 menjadi Rp 33.000/kg
- Bawang putih bonggol: Turun dari Rp 29.750 menjadi Rp 29.429/kg
- Cabai merah keriting: Naik dari Rp 45.714 menjadi Rp 49.286/kg
- Cabai merah besar: Naik dari Rp 46.429 menjadi Rp 48.571/kg
- Cabai rawit merah: Naik dari Rp 26.714 menjadi Rp 27.857/kg
- Daging sapi murni: Rp 130.000/kg
- Daging ayam ras: Turun dari Rp 35.167 menjadi Rp 35.000/kg
- Telur ayam ras: Naik dari Rp 29.375 menjadi Rp 30.750/kg
- Gula konsumsi: Turun dari Rp 17.182 menjadi Rp 17.136/kg
- Minyak goreng kemasan: Rp 19.182/liter
- Minyak goreng curah: Rp 17.143/liter
- Minyakita: Turun dari Rp 16.133 menjadi Rp 16.090/liter
- Tepung terigu curah: Rp 9.000/kg
- Tepung terigu kemasan: Naik dari Rp 11.222 menjadi Rp 11.250/kg
- Garam konsumsi: Rp 12.000/kg
- Ikan kembung: Rp 37.833/kg
- Ikan tongkol: Rp 34.333/kg
- Ikan bandeng: Rp 41.000/kg
Penyebab Harga Sembako Berubah-ubah
Bukan tanpa sebab harga sembako dan bahan pangan lain berubah tiap hari. Dilansir skripsi Muhammad Shehan dari UIN Raden Intan Lampung berjudul Pengaruh Harga Komoditas Sembako Terhadap Tingkat Inflasi di Indonesia Tahun 2017-2020, ketidakseimbangan permintaan dan penawaran menyebabkan harga bahan pangan tidak stabil.
Pertumbuhan populasi masyarakat Indonesia mendorong naiknya permintaan terhadap bahan-bahan pangan, terkhusus sembako. Di sisi lain, komoditas sembako dari pertanian dan sebagainya sangat rentan gangguan, seperti kondisi iklim, keterbatasan lahan, dan peralihan fungsi lahan.
Pembentukan harga sembako secara khusus sangat dipengaruhi sisi penawaran. Mengingat, permintaan cenderung mengikuti perkembangan penawaran. Jika penawaran rendah, sedangkan permintaan tetap, maka harga bahan pokok naik. Begitu pula sebaliknya.
Penawaran akan bahan pokok ini sangat bergantung faktor alam dan seterusnya yang telah disinggung sekilas di atas. Sayangnya, keberhasilan produksi bahan-bahan pokok ini tidak bisa 100% dikendalikan oleh petani. Dengan kata lain, hasilnya uncontrollable.
Contohnya, saat musim hujan, petani cabai berpotensi gagal panen karena busuk atau serangan hama. Oleh karena itu, produksinya turut berkurang, sedangkan permintaan masyarakat tetap tinggi. Hasilnya, harga cabai melonjak drastis. Sebaliknya, saat musim kemarau, persentase keberhasilan panen cabai lebih tinggi. Stok melimpah menyebabkan otomatis harga turun.
Nur Azizah Nasution dalam tulisannya di Journal of Sharia and Law berjudul 'Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kenaikan Harga Sembako oleh Para Pedagang Menurut Perspektif Ekonomi Syariah' memberi rincian poin-poin penyebab fluktuasi sembako, di antaranya:
- Faktor produksi: Banyak permintaan, sedikit penawaran, maka harga menjadi mahal. Sementara itu, sedikit permintaan, banyak penawaran, harga menjadi murah.
- Faktor distribusi: Semakin lama dan ribet proses distribusi, harga bahan pangan semakin mahal. Hal yang sama berlaku sebaliknya.
- Faktor jumlah pedagang: Semakin banyak persaingan perdagangan, harga sembako cenderung lebih mendekati tarif normal. Di sisi lain, jika hanya ada pedagang, penetapan harganya menjadi lebih ekstrem.
Itulah informasi ringkas mengenai harga sembako Jogja hari ini Jumat, 2 November 2025. Perlu diketahui, harga yang ditemui di pasaran mungkin berbeda karena disparitas.
(par/par)












































Komentar Terbanyak
Mencuatnya Dugaan Kekerasaan Seksual Libatkan Dosen UPN Veteran Jogja
Lagi-lagi Geng Sadis Berulah di Jogja
Purbaya soal Prabowo Sebut 'Orang Desa Tidak Pakai Dolar': Untuk Hibur Rakyat