Kebakaran berulang di rumah Mutfia warga Seyegan, Sleman sejak Sabtu (23/5) masih menjadi misteri. Sejauh ini, ada dua argumen terkait pemicu teror api tersebut.
Terbaru tim peneliti dari Universitas Gajah Mada menyampaikan teror api itu diduga dipicu gas hidrogen yang berasal dari limah usaha pemotongan ayam. Sementara sebelumnya, tim peneliti Universitas Pembangunan Nasional 'Veteran' Yogyakarta atau UPN Jogja menduga sumber dari gas metana dari batuan bekas rawa.
Namun, baik UGM dan UPN masih melakukan investigasi untuk memastikan argumen tersebut. Berikut argumen dari UGM dan UPN.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
UGM: Api Dipicu Gas Hidrogen dari Limbah Ayam
Kesimpulan sementara UGM disampaikan Ketua tim Pusat Kajian Pelambaran Entropi (PKPE) FT UGM, Prof Alva Edy Tontowi. Dia menjelaskan berdasarkan hasil observasi dan investigasi tersebut, tim sementara menyimpulkan bahwa keluarnya api berhubungan dengan keberadaan gas hidrogen.
Diketahui, keluarga Fia menjalankan bisnis pemotongan ayam di area tersebut. Proses fermentasi limbah organik itulah yang diduga kuat menimbulkan hidrogen.
"Gas hidrogen diduga kuat berasal dari proses fermentasi limbah organik pemotongan ayam," katanya dalam keterangan tertulis, Kamis (4/6/2026).
Tim Geologi UGM mengecek penyebab kebakaran misterius berulang kali di rumah warga Seyegan, Sleman, Sabtu (30/5/2026). Foto: Serly Putri Jumbadi/detikJogja |
Selain itu, material limbah ayam seperti tulang dan bagian keras dari bulu ayam yang kaya fosfat bisa membentuk gas fosfin (PH3). Gas fosfin disebut lebih mudah terbakar dalam suhu kamar.
"Gas fosfin ini sayangnya tidak mudah terdeteksi dan akan habis terbakar jika bertemu oksigen. Sangat dimungkinkan gas fosfin tersebut yang memicu terbakarnya gas hidrogen yang keluar bersamaan. Meski demikian, hal ini masih perlu diselidiki secara lebih mendalam," ujarnya.
Alva menjelaskan kesimpulan itu didapat dari beberapa kali observasi oleh tim lintas disiplin ilmu di FT UGM sejak Sabtu (30/5).
Terpisah, anggota tim peneliti PKPE FT UGM Dr Sarju Winardi menjelaskan bahwa kesimpulan itu belum solid. Sebab selama ini belum ditemukan kasus serupa di tempat usaha pemotongan ayam lain.
"Kenapa ada kasus khusus di tempatnya Bu Fia atau Pak Agus bisa menghasilkan itu. Bahwa faktanya 16 tahun pembuangan itu (tidak dibuka) tapi ada kabar juga itu sering dibersihkan," ujarnya.
"Kami belum memiliki jawaban komprehensif kenapa limbah pemotongan ayam di tempat ini katakanlah menghasilkan hidrogen dibanding misalkan tempat pemotongan ayam di tempat lain," lanjutnya.
Sarju menjelaskan, hidrogen dapat terbentuk secara alami seperti ditemukan dalam bekas pembuangan sampah organik. Bisa juga karena adanya pembuangan limbah.
"Dari fakta kami melihat yang cukup memungkinkan kan karena pembuangan limbah ini. Ini asumsi ya," tegasnya.
UPN: Api Dipicu Gas Metana Bekas Rawa
Sebelumnya, Tim Geolog Universitas Pembangunan Nasional (UPN) "Veteran" Jogja telah menyampaikan soal temuannya terkait kebakaran berulang tersebut.
Hal itu disampaikan Dekan Fakultas Teknologi Mineral dan Energi (FTME) UPN "Veteran" Jogja, Prof. Dr. Ir. RM. Basuki Rahmad, pada Sabtu 30 Mei lalu.
Prof Basuki menyatakan semburan gas itu diduga kuat bersumber dari kawasan sungai sekitar 300 meter dari rumah tersebut. Di lokasi itu terdapat singkapan batuan berwarna gelap dengan genangan air yang mengeluarkan gelembung gas.
Tim geolog UPN "Veteran" Jogja mengecek rumah Mutfiati, warga Seyegan, Sleman, yang terbakar berulang kali, Sabtu (30/5/2026). Foto: Serly Putri Jumbadi/detikJogja |
Menurut Basuki, batuan berwarna gelap yang ditemukan di lokasi itu diduga menjadi tempat tersimpannya gas metana.
"Nah akhirnya kami ketemu gelembung-gelembung gas yang indikasi kuat itu adalah gas metana, gas CH4. Itu tepat di bawah jembatan Jalan Nepen," ujarnya di lokasi, Sabtu (30/5/2026).
Tekanan gas disebut relatif lemah. Meski begitu, tekanan gas masih terlihat keluar dari bawah permukaan air.
"Jadi artinya, indikasi pertama, karena ini masih investigasi awal, indikasi kuat sumber gas ini adalah gas metana dari rawa. Jadi ini salah satu indikasi kuat batuan wilayah ini dulunya memang bekas rawa," jelasnya.
Basuki menyebut timnya juga menemukan indikasi adanya jalur retakan atau patahan yang mengarah ke utara dan diduga menjadi jalur migrasi gas hingga mencapai rumah warga.
"Kami juga dapatkan indikasi jalur-jalur semacam patahan, retakan-retakan yang arahnya ke utara, dan diindikasikan kuat juga migrasi ini nyasar ke rumahnya Pak Agus," kata dia.
"Gas kelihatannya sudah menurun, tidak ada gejala api. Jadi kami berharap kita tunggu saja sekitar satu bulan. Setelah itu kita lihat kalau memang sudah tidak ada semburan gas lagi, mungkin kita klasifikasi musibah ini bisa sedang atau ringan," ujarnya.
Basuki menambahkan, berdasarkan pemeriksaan awal, gas tersebut tidak memiliki tekanan tinggi sehingga tidak terlalu membahayakan.
"Tapi intinya, insyaallah gas ini memang tidak berbahaya karena secara manual tekanannya rendah," pungkasnya.
(afn/afn)



Komentar Terbanyak
Tudingan Malpraktik RSUD Prambanan Buntut Naura Hilang Nyawa Usai CT Scan
Api Misterius Masih Teror Rumah Fia di Seyegan, 10 Hari Kebakaran 73 Kali
Viral Pria Bawa Seprai Putih Disebut Pocong Mau Maling di Gunungkidul