4 Warga Gunungkidul Positif Antraks Usai Nekat Makan Bangkai Kambing

Pradito Rida Pertana - detikJogja
Jumat, 02 Okt 2026 08:38 WIB
Ilustrasi antraks. Foto: Getty Images/Kittisak Kaewchalun
Gunungkidul -

Sejumlah warga di Dadapayu, Semanu, Gunungkidul, terpapar antraks. Dinas Kesehatan (Dinkes) Gunungkidul mengungkap, mereka terinfeksi usai menyembelih dan mengonsumsi kambing yang mati mendadak.

"Awalnya ada warga yang periksa ke Puskesmas dan ternyata mengalami gejala klinis antraks. Setelah penyelidikan epidemiologi ada tujuh orang suspek antraks," kata Kepala Dinkes Gunungkidul, Ismono, saat dihubungi detikJogja, Kamis (1/10/2026).

Kejadian itu, lanjut Ismono terjadi pada awal bulan September 2026. Ismono melanjutkan, tujuh orang tersebut ternyata memiliki riwayat kontak langsung dengan kambing yang mengalami kondisi lemas dan kemudian mati mendadak.

"Kemudian tujuh orang itu menjalani PCR dan hasilnya yang positif konfirmasi antraks ada empat orang," ujarnya.

Dari temuan tersebut, Dinkes melanjutkan penelusuran terhadap orang yang memiliki riwayat kontak langsung dengan kambing tersebut. Hasilnya, ada 47 orang yang berisiko terpapar antraks.

"Jadi 47 orang itu memiliki riwayat paparan terhadap hewan maupun produk hewan yang berasal dari kambing yang mati mendadak," ucapnya.

Ismono mengungkapkan, bahwa saat ini empat orang yang positif terpapar antraks telah menjalani pengobatan dan sudah berangsur-angsur membaik. Sedangkan untuk 47 orang yang masuk populasi berisiko masih dalam pengamatan dari Dinkes.

"Pasien konfirmasi sudah diobati dan sembuh, sedangkan populasi berisiko seluruhnya diberikan antibiotik profilaksis. Selain itu, polulasi berisiko tetap diamati sampai 60 hari atau dua kali masa inkubasi," katanya.

Ismono menambahkan, pemberian profilaksis dan pemantauan kesehatan terhadap suspek antraks dan populasi berisiko sebagai upaya pencegahan munculnya kasus tambahan.

"Kami juga memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai bahaya menyembelih, mengolah maupun mengonsumsi hewan yang sakit atau mati mendadak. Serta pentingnya pelaporan segera apabila ditemukan kematian hewan ternak yang tidak diketahui penyebabnya," ujarnya.

DPP Gunungkidul Uji Sampel Tanah

Buntut ada empat warga di Dadapayu, Semanu, yang positif terpapar antraks, inas Pertanian dan Pangan (DPP) Kabupaten Gunungkidul menyatakan telah mengambil sampel tanah di lokasi penyembelihan.

"Jadi kami dapat laporan ada empat orang terpapar antraks tanggal 11 September (2026) dan tim kami langsung ke lokasi untuk melakukan surveilans," kata Kepala DPP Gunungkidul, Rismiyadi, saat dihubungi detikJogja, Kamis (1/10).

Surveilans itu, lanjut Rismiyadi, berupa uji dan pengamatan lokasi penyembelihan ternak. Selain itu, DPP Gunungkidul juga sudag melakukan sterilisasi dengan menyiram formalin dan vaksinasi ternak.

"Setelah surveilans, hasilnya ternak itu sakit dan ternyata disembelih pemiliknya bahkan dimakan dan dibrandu. Wong tim kami kan ambil sampel tanah untuk menyembelih ternak itu dan daging, nah sampel daging itu ada yang sudah di wajan," ujarnya.

Di sisi lain, Rismiyadi menyayangkan tradisi brandu yang masih masyarakat lakukan. Pasalnya DPP Gunungkidul kerap memberikan edukasi kepada masyarakat di Dadapayu.

"Sebetulnya kami sudah sering masuk ke wilayah itu untuk melakukan edukasi, bahkan kami sudah edukasi masyarakat dengan seni seperti wayang. Tapi kembali lagi kesadaran masyarakat itu yang susah," ucapnya.

Selain itu, Rismiyadi menjelaskan bahwa masyarakat sebenarnya bisa mendapatkan kompensasi ganti rugi jika melaporkan adanya ternak yang mati mendadak. Rismiyadi juga mengaku hal tersebut telah berulang kali DPP sosialisasikan kepada masyarakat.

"Hewan kalau sakit, mati, dikubur lalu di laporan sebenarnya dapat kompensasi dari pemkab. Tapi mereka masih eman-eman (perhitungan), jadi ketika sakit disembelih dahulu, kemudian dimakan dan dibrandu," katanya.

Kepala Bidang (Kabid) Kesehatan Hewan (Keswan) DPP Gunungkidul, Retno Widyastuti, menambahkan uji sampel tanah dari lokasi penyembelihan ternak telah keluar. Hasil tersebut keluar Kamis kemarin.

"Tanahnya hasilnya positif (antraks), nggih (ya). Hasilnya baru keluar hari ini (Kamis)," ujarnya.



Simak Video "Video: Warga Tanam Pisang di Jalan Alternatif Klaten-Gunungkidul yang Rusak Parah"

(apu/ahr)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork