Empat warga Dadapayu, Semanu, Gunungkidul, positif terpapar antraks setelah menyembelih dan mengonsumsi kambing yang mati mendadak. Dinas Kesehatan (Dinkes) Gunungkidul menemukan 47 orang lainnya masuk populasi berisiko terpapar.
Kepala Dinkes Gunungkidul Ismono mengatakan kasus tersebut bermula saat seorang warga memeriksakan diri ke Puskesmas karena mengalami gejala klinis antraks. Setelah dilakukan penyelidikan epidemiologi, ditemukan tujuh orang yang berstatus suspek antraks.
"Awalnya ada warga yang periksa ke Puskesmas dan ternyata mengalami gejala klinis antraks. Setelah penyelidikan epidemiologi ada tujuh orang suspek antraks," kata Ismono saat dihubungi detikJogja, Kamis (1/10/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kejadian itu berlangsung pada awal September 2026. Ketujuh warga tersebut diketahui memiliki riwayat kontak langsung dengan kambing yang sebelumnya lemas lalu mati mendadak.
"Kemudian tujuh orang itu menjalani PCR dan hasilnya yang positif konfirmasi antraks ada empat orang," ujarnya.
Dinkes Gunungkidul kemudian menelusuri warga lain yang memiliki riwayat kontak dengan kambing tersebut. Hasil penelusuran menemukan 47 orang yang berisiko terpapar antraks.
"Jadi 47 orang itu memiliki riwayat paparan terhadap hewan maupun produk hewan yang berasal dari kambing yang mati mendadak," ucapnya.
Ismono mengatakan empat warga yang positif antraks telah menjalani pengobatan dan berangsur-angsur membaik. Sementara 47 orang yang masuk populasi berisiko masih dalam pengamatan Dinkes.
"Pasien konfirmasi sudah diobati dan sembuh, sedangkan populasi berisiko seluruhnya diberikan antibiotik profilaksis. Selain itu, polulasi berisiko tetap diamati sampai 60 hari atau dua kali masa inkubasi," katanya.
Menurut Ismono, pemberian antibiotik profilaksis dan pemantauan kesehatan dilakukan untuk mencegah munculnya kasus tambahan.
"Kami juga memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai bahaya menyembelih, mengolah maupun mengonsumsi hewan yang sakit atau mati mendadak. Serta pentingnya pelaporan segera apabila ditemukan kematian hewan ternak yang tidak diketahui penyebabnya," ujarnya.
Sampel Tanah Lokasi Penyembelihan Positif Antraks
Dinas Pertanian dan Pangan (DPP) Kabupaten Gunungkidul turut melakukan pemeriksaan di lokasi penyembelihan kambing. Tim mengambil sampel tanah untuk diuji setelah mendapat laporan empat warga terpapar antraks pada 11 September 2026.
"Jadi kami dapat laporan ada empat orang terpapar antraks tanggal 11 September (2026) dan tim kami langsung ke lokasi untuk melakukan surveilans," kata Kepala DPP Gunungkidul Rismiyadi saat dihubungi detikJogja, Kamis (1/10).
Surveilans dilakukan dengan menguji dan mengamati lokasi penyembelihan ternak. DPP Gunungkidul juga melakukan sterilisasi dengan menyiram formalin dan vaksinasi ternak.
"Setelah surveilans, hasilnya ternak itu sakit dan ternyata disembelih pemiliknya bahkan dimakan dan dibrandu. Wong tim kami kan ambil sampel tanah untuk menyembelih ternak itu dan daging, nah sampel daging itu ada yang sudah di wajan," ujarnya.
Rismiyadi menyayangkan tradisi brandu yang masih dilakukan masyarakat. Dia mengatakan DPP Gunungkidul telah berulang kali memberikan edukasi kepada masyarakat di Dadapayu.
"Sebetulnya kami sudah sering masuk ke wilayah itu untuk melakukan edukasi, bahkan kami sudah edukasi masyarakat dengan seni seperti wayang. Tapi kembali lagi kesadaran masyarakat itu yang susah," ucapnya.
Rismiyadi mengatakan masyarakat sebenarnya bisa mendapatkan kompensasi ganti rugi jika melaporkan ternak yang mati mendadak. Sosialisasi mengenai kompensasi itu juga telah berulang kali dilakukan DPP Gunungkidul.
"Hewan kalau sakit, mati, dikubur lalu di laporan sebenarnya dapat kompensasi dari pemkab. Tapi mereka masih eman-eman (perhitungan), jadi ketika sakit disembelih dahulu, kemudian dimakan dan dibrandu," katanya.
Kepala Bidang Kesehatan Hewan (Keswan) DPP Gunungkidul Retno Widyastuti menambahkan hasil uji sampel tanah dari lokasi penyembelihan telah keluar pada Kamis.
"Tanahnya hasilnya positif (antraks), nggih (ya). Hasilnya baru keluar hari ini (Kamis)," ujarnya.
Artikel ini telah tayang di detikJogja. Baca selengkapnya di sini!
(dpw/dpw)