Disdik DIY Usut Kasus Satpam Lecehkan Siswi SMA 1 Sentolo

Disdik DIY Usut Kasus Satpam Lecehkan Siswi SMA 1 Sentolo

Serly Putri Jumbadi - detikJogja
Kamis, 17 Sep 2026 18:21 WIB
Self defense, studio portrait of scared woman raising hands up in defense
Ilustrasi Pelecehan Seksual. Foto: Getty Images/iStockphoto/triocean
Jogja -

Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Disdikpora) DIY menyelidiki kasus dugaan pelecehan siswi SMAN 1 Sentolo Kulon Progo oleh satpam di sekolah itu. Disdikpora juga akan memastikan apakah satpam itu telah diberhentikan oleh pihak vendor penyedia jasa keamanan.

"Nanti kita juga akan tetap menindaklanjuti kembali, yang bersangkutan itu apakah memang betul-betul diberhentikan atau yang lainnya," kata Kepala Disdikpora DIY Raden Suci Rohmadi saat ditemui di Kompleks Kepatihan, Kota Jogja, Kamis (17/9/2026).

Suci mengatakan pihaknya menerima laporan bahwa satpam yang diduga melakukan pelecehan itu telah mendapat sanksi dari vendor penyedia jasa keamanan. Meski demikian, pihaknya masih akan memastikan bentuk sanksi yang diberikan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Tim kami di Dikpora dari Bidang SMA dan Balai Dikmen sudah terjun ke Kulon Progo dalam rangka mengklarifikasi dan menindaklanjuti hal ini," ujar dia.

Suci menjelaskan, tenaga sekuriti di sekolah memang bekerja melalui vendor yang bekerja sama dengan pihak sekolah. Maka itu pihaknya akan mengecek apakah tindakan yang diberikan pihak vendor sudah sesuai.

ADVERTISEMENT

"Apakah vendor itu menindaklanjuti sudah memenuhi rasa keadilan atau belum. Saya kira ini yang akan kami tindaklanjuti ke depan ini," jelasnya.

Selain dugaan pelecehan siswi, Disdikpora kini juga mendalami laporan adanya intimidasi terhadap siswa di SMAN 1 Sentolo. Salah satunya terkait dugaan siswa yang diminta membuat video klarifikasi.

"Nah, ini saya kira akan kita dalami dulu. Karena tim kami sedang mengumpulkan bukti-bukti dan mengumpulkan kronologisnya," kata Suci.

Dia menegaskan, pihaknya masih belum bisa menyimpulkan apakah benar terjadi intimidasi atau tidak.

"Apakah betul ada tindakan intimidasi sehingga orang yang melapor itu malah justru diintimidasi. Mestinya kita harus melindungi orang yang memang sudah melaporkan hal-hal yang tidak sesuai," tegasnya.

Suci mengatakan pihaknya akan meminta keterangan dari kepala sekolah dan pihak-pihak terkait untuk mengetahui kronologi lengkapnya.

"Kami sudah akan memanggil kepala sekolah dan pihak-pihak itu ya kalau tidak besok, mungkin besok ya," ujarnya.

Jika nantinya terbukti terdapat intimidasi yang dilakukan pihak sekolah, Disdikpora DIY akan mengambil langkah sesuai mekanisme dan aturan yang berlaku.

"Kalau itu nanti terbukti, ya saya kira nanti mekanisme-mekanisme yang akan kita tempuh sesuai dengan prosedur dan aturan yang berlaku. Kalau itu dilakukan oleh guru maupun kepala sekolah, tentu ada mekanisme yang bisa kami lakukan," jelasnya.

"Kalau memang itu terbukti, kebijakan kita adalah jelas tegas bahwa kepentingan atau kenyamanan, keselamatan anak di sekolah itu menjadi prioritas kami," pungkasnya.

Wakasek Tuding Isu Tumpangan

Diberitakan sebelumnya, sejumlah siswa SMAN 1 Sentolo, Kulon Progo, sempat menggelar aksi protes terkait dugaan pelecehan yang dilakukan oknum satpam kepada siswi. Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan, Johan Wahyudi, menyebut ada isu tumpangan.

"Sebetulnya, awal mulanya itu ada kebijakan sekolah yang anak siswanya itu tidak senang, yaitu masuk pukul 06.50 WIB. Tapi dari sekolah itu diharapkan jam 07.00 WIB itu memang sudah ada di ruangan. Perjalanan dari parkir ke sana dianggap 10 menit," ungkap Johan saat ditemui di SMAN 1 Sentolo, Kulon Progo, Kamis (17/9).

"Nah itu numpang gitu lho. 'Oh kami nggak setuju masuk jam 06.50 WIB, wong ini aja kasus ini (dugaan pelecehan) belum ditangani kok. Nah itu jadi itu penumpang sebetulnya. Tapi yang viral malah penumpangnya," jelasnya.

Siswa SMAN 1 Sentolo pun sempat menggeruduk ruang bimbingan konseling (BK) buntut dugaan pelecehan satpam kepada seorang siswi. Johan menyebut saat ini oknum satpam telah diproses untuk diberhentikan.

"Spontan (siswa), 'Sopo bilang nggak diselesaikan? Malah didiamkan, satpamnya masih kelihatan.' Oh. Nah terus saya terangkan, 'Mas ini prosesnya tanggal sekian gini, tanggal sekian sudah diselesaikan, dan hasilnya sudah ditindaklanjuti," ujar Johan.

Menurut Johan, penyebutan kasus tersebut tidak ditindaklanjuti atau disembunyikan kurang tepat. Sebab, pihak sekolah telah melakukan penanganan.

"Jadi kata-kata di belum ditindaklanjuti dan belum apa? Terkesan disembunyikan itu kurang tepat karena sudah diselesaikan. Hanya mungkin kurang puas," katanya.

Johan mengakui dirinya sebenarnya menginginkan satpam tersebut segera dipindahkan dari sekolah.

"Puasnya adalah dikeluarkan. Maksudnya, aku juga kurang puas wong saya usulnya dipindah. Saya kan bilang gitu," pungkasnya.

Sebelumnya, siswi SMAN 1 Sentolo melapor ke BK terkait perilaku satpam yang dianggap melecehkannnya.

Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan, Johan Wahyudi, mengatakan kejadian bermula saat dua siswi kelas hendak mengambil barang yang tertinggal di kelas usai latihan baris-berbaris tonti pada Agustus lalu.

Saat itu kondisi sekolah sudah sepi. Siswi kemudian meminta bantuan satpam untuk mengambil barang tersebut.

Johan mengatakan setelah mengambil barang, satpam tersebut disebut mencoba merangkul salah satu siswi. Namun, siswi tersebut menghindar.

Kejadian itu diketahui pihak sekolah setelah siswi melapor kepada guru BK. Johan mengatakan rekaman CCTV juga diperiksa untuk memastikan kejadian tersebut.

Menurut Johan, dari rekaman CCTV terlihat satpam tersebut mencoba merangkul siswi tersebut. Tampak juga siswi itu berupaya menghindar.

Halaman 3 dari 2
(dil/ams)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads