Kabar adanya diskriminasi terhadap siswa beragama tertentu di salah satu SMA di Jogja ramai di media sosial. Terkait narasi tersebut, Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Dikpora) DIY langsung melakukan penelusuran ke sekolah-sekolah di DIY.
Ramainya narasi diskriminasi setelah ada unggahan di akun Instagram @merapi_uncover. Akun tersebut mengunggah curhatan seseorang yang mengaku seorang pelajar di salah satu SMA negeri di DIY, yang merasa tidak terfasilitasi dengan baik saat mata pelajaran agama tertentu.
Dalam unggahan itu juga dijelaskan, siswa agama tertentu yang memanfaatkan perpustakaan dan kemudian ruang rapat/tamu, harus terusir saat ada tamu atau rapat guru. Hanya saja, pengirim tidak mengungkap identitas maupun nama sekolah yang dimaksud.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Anak-anak terpaksa harus belajar di luar ruangan atau halaman sekolah. Kemarin bahkan sempat diminta pindah mendadak saat jam pelajaran sedang berlangsung karena ruangannya mau dipakai rapat. Komunikasi dari pihak sekolah juga terasa kurang kondusif saat meminta pindah, jadi kesannya seperti diusir, padahal anak-anak hanya ingin belajar dengan tenang," tulis keterangan dalam unggahan tersebut dilihat detikJogja, Senin (27/7).
"Mohon perhatiannya dari pihak terkait atau dinas pendidikan, karena bagaimanapun semua siswa di sekolah negeri punya hak yang sama untuk mendapatkan fasilitas ruang kelas yang nyaman dan layak tanpa memandang agamanya," sambungnya.
Disdik DIY Telusuri
Usai ramainya kabar tersebut, Kabid Pembinaan Sekolah Menengah Atas (SMA) Disdikpora DIY, Tukiman, menyampaikan pihaknya langsung bergerak cepat begitu narasi itu viral di media sosial.
"Dari semalam, kemarin sore, semalam, terus pagi tadi saya sudah koordinasi dengan Kepala Balai Dikmen Kabupaten/Kota se-DIY, kemudian dengan kepala sekolah se-DIY, khususnya Kepala Sekolah Kota ya," ujar Tukiman saat ditemui di Kantor Disdikpora DIY, hari ini.
"Dan itu sekolah semua menyatakan, semua sekolah itu sudah menyiapkan fasilitas ruangannya, itu sudah ada semua. Kami dari pagi tadi kroscek, saya minta laporannya satu per satu sudah melaporkan semua ada fasilitasnya untuk ruang pembelajaran agama baik Islam maupun non-Islam," sambungnya.
Tidak Temukan Diskriminasi
Tukiman mengatakan, pihaknya telah kroscek di seluruh SMA Negeri di DIY yang berjumlah 69 sekolah. Dan hasilnya tidak ada informasi yang sesuai dengan kabar yang ramai beredar di media sosial.
"Nek saya yakin itu (kabar di media sosial) salah. Karena kita udah kroscek ke teman-teman kepala sekolah langsung, semua sudah terfasilitasi," tegas Tukiman.
Sayangkan Curhat di Medsos
Terkait dengan kejadian ini, Tukiman menyayangkan soal pihaknya yang mendengar kabar ini dari media sosial. Ia justru berharap siswa yang bersangkutan bisa melapor langsung ke pihaknya dengan memberikan keterangan lengkap.
"Ada hotline-nya untuk laporan. Online pun bisa lewat WA, email. Ya kita punya (kanal) untuk pengaduan itu ada ya. Iya kita rahasiakan, nggak akan kita buka. Itu kita bagian dari mekanisme check and balance lah untuk perbaikan sistem pelayanan," ujar Tukiman.
"Kalau ada laporan masyarakat langsung kita tindak lanjuti. Kepala sekolah terus kita panggil, kita kroscek, bener nggak laporan ini? Kalau benar ya harus diperbaiki pelayanannya. Nah, kalau salah laporannya ya nanti berarti perlu diluruskan yang melaporkan itu," pungkasnya.
