Semangat Edi Belajar Al-Qur'an dari Nol, Full Support Teman Sesama Ojol Jogja

Semangat Edi Belajar Al-Qur'an dari Nol, Full Support Teman Sesama Ojol Jogja

Adji G Rinepta - detikJogja
Rabu, 22 Jul 2026 07:10 WIB
Suasana Majelis Ojol Mengaji (Momen) di Rumah Quran Bausasran Jogja, Rabu (15/7/2026).
Suasana Majelis Ojol Mengaji (Momen) di Rumah Quran Bausasran Jogja, Rabu (15/7/2026). Foto: Adji G Rinepta/detikJogja
Jogja -

Memang benar kata pepatah, belajar itu tak kenal usia. Kata-kata itu tergambar lewat Edi Sutanto (47), driver ojek online (ojol) asal Umbulharjo Jogja yang mulai belajar membaca Al-Quran lewat Majelis Ojol Mengaji (Momen).

Ditemui di sela kegiatan mengaji di Momen, Edi mengaku 2-3 tahun lalu mulai belajar mengaji dari Iqra. Bukan tak ada niat, alasannya mulai belajar ngaji di usianya yang tak lagi muda lantaran tak adanya informasi mengenai tempat belajar membaca Al-Qur'an di usianya yang tak lagi muda.

"Iqra dulu, secara bertahap alhamdulillah sekarang udah ke Al-Qur'an. Juz 3 atau 4 kurang lebih. Insyaallah, mudah-mudahan istiqamah bisa sampai ya khatam," di Rumah Quran Bausasran Jogja, Rabu (15/7).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"(Alasan baru belajar) Ya sebetulnya karena kemarin itu ya karena keterbatasan informasi ya. Tapi niat ya setelah sharing-sharing dengan beberapa teman memang akhirat memang harus dikejar lah ya toh. Jangan sampai cuma dunia karena kita tahu akhirat itu ada," ujarnya.

ADVERTISEMENT

Saling Suport Sesama Ojol

Hingga akhirnya Edi menemukan Momen, tempat yang membuatnya nyaman belajar. Tak ada rasa minder, tak ada rasa malu, yang ada hanya keinginan kuat untuk belajar membaca Al-Quran tanpa mengenal usia.

"Nggak, nggak minder. Bener, banyak yang sama banyak gitu ya, masih belajar gitu ya. Seusia yang di atas saya misal ngaji di masjid terdekat kan pasti malu. Karena apa? Yang belajar ada anak TK, SD, SMP udah Quran, masak kita yang sepuh mulai iqra kan akhirnya malu," ujarnya.

"Masyaallah luar biasa. Jadi kita itu nggak ada masalah keterbatasan oh si A si B, tapi semua sama. Tahapnya belajar semua Mas dan semua saling support. Ya memang di sini ngaji sambil ngopi lah judulnya itu. Nah akhirnya ketemu di Momen itu luar biasa. Jadi malunya hilang lah," ungkap Edi.

Edi sangat serius belajar mengaji, tak masalah baginya untuk sejenak tidak turun mengaspal demi mengaji. Baginya, hidup bukan tentang mencari duniawi saja namun juga harus mengumpulkan bekal akhirat.

"Iya (aplikasi dimatikan saat belajar) secara order kan jeda ya. Jadi secara itu waktu yang kita luangkan nggak ada hitung-hitungan rugi lah. Mungkin penggunaan pulang sekolah atau pulang kerja. Tapi kalau ini kan landai kalau jam segini," ungkapnya.

Coba Ajak Rekan Lain

Semangat itu yang selalu Edi coba tularkan ke driver ojol lainnya. Ia mengaku termasuk salah satu jemaah di Momen yang kerap mengajak driver ojol lainnya untuk bergabung. Namun ajakannya itu kerap direspon dengan penolakan.

Edi tak lantas menghakimi, ia menyadari setiap orang memiliki fokus dan prioritas masing-masing. Namun, ia masih menaruh harapan besar banyak driver ojol di Jogja yang datang ke Momen untuk mengaji.

"Mereka mikirnya masih takut ilang orderan, 'aduh aku masih mbayar ini mbayar itu'. Mosok kita dikasih nafas gratis tiap hari (tapi) masih mikir untung-rugi. Tapi itu realita ya, ndak bisa maksa juga," ujar Edi.

"Ayolah mumpung ngaji nggak bayar, kalau saya ngibaratke, oksigen ini kalau mbayar piro? 24 jam cuma diambil 1 jam kok masih mikir rugi kan kebangeten," sambungnya.

Momen, sebuah majelis yang diinisiasi Mualaf Quran Center (MQC), memang dibuat untuk memberikan wadah bagi para driver Ojol dari segala usia untuk belajar membaca Al-Quran.

Penanggung jawab Momen, Sugiarto mengatakan, majelis ini muncul untuk merespons keluhan para driver Ojol yang memiliki niat untuk belajar namun terbentur rasa sungkan untuk belajar di Taman Pendidikan Al-Quran (TPQ).

"Kita melihat kegelisahan rekan-rekan ojol biasanya kalau pengin belajar mengaji tapi kalau di rumahnya mungkin di masjid atau di lingkungannya itu agak sungkan. Sebab, di situ juga mungkin ada anaknya, ada cucunya yang masih TPA juga," jelas Ato.

"Sedangkan bapak-bapak ini yang usianya sudah senior bahkan kebanyakan masih banyak yang terbata-bata ya belum lancar membaca Al-Qur'an, makanya melihat kebutuhan rekan-rekan itu kita buat satu kegiatan yang diinisiasi kurang lebih 3 tahun yang lalu," imbuhnya.



(dil/apl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads