'Rumah Api Seyegan' Masih Misterius, UGM Temukan Retakan-BPBD Pasang CCTV

Jauh Hari Wawan S - detikJogja
Senin, 08 Jun 2026 17:53 WIB
Peneliti dari UGM melanjutkan penelitian kebakaran berulang di Seyegan, Senin (8/6/2026). (Foto: Jauh Hari Wawan S/detikJogja)
Sleman -

Sumber pemicu kebakaran berulang di rumah warga Kasuran Mriyan X, Margomulyo, Seyegan, Sleman, masih belum terungkap. Sampai saat ini tim peneliti dari berbagai universitas dan lembaga masih terus berupaya mengungkap misteri itu.

Terbaru, tim UGM melakukan pemetaan bawah tanah di rumah Mutfiana dengan alat georadar. Saptono dari Lab Geofisika Eksplorasi, Departemen Teknik Geologi FT UGM, menjelaskan alat tersebut digunakan untuk mendeteksi kemungkinan lokasi jalan keluar gas menuju permukaan.

"Jadi untuk melihat apa yang ada di bawah permukaan, baik itu objek terpendam, lapisan-lapisan tanah maupun kalau ada retakan-retakan itu akan bisa dideteksi dengan alat ini," kata Saptono kepada wartawan di lokasi rumah api Seyegan, Sleman, Senin (8/6/2026).

Tim peneliti melakukan pemeriksaan di beberapa tempat yang mengalami kemunculan api. Hasil sementara, ditemukan beberapa titik retakan di bawah tanah pada kedalaman sekitar 20 meter yang diduga sebagai jalan keluarnya gas. Akan tetapi, hal tersebut masih berupa data kasar dan perlu diolah lebih lanjut.

"Kalau sementara ini masih kasar ya, hanya melihat sekilas belum diolah lebih lanjut itu memang terlihat ada beberapa koneksi atau keterkaitan antara titik api itu dengan terlihat ada retakan di bawah sampai ke kedalaman mungkin sekitar 15-20 meter," jelasnya.

"Untuk sementara ini masih belum kami olah terkait dengan kerapatan retakannya, tapi masih terkait dengan hubungan antara retakan itu dengan kemunculan titik api tadi," lanjutnya.

Temuan ini kemudian akan ditindaklanjuti dengan pemetaan menggunakan geolistrik untuk bisa menjangkau lapisan tanah atau batuan yang lebih dalam. Sehingga nantinya bisa mendeteksi adanya retakan pada formasi batuan. Selain itu, juga untuk mencari apakah ada lapisan lanau di bawah rumah.

"Ini kan masih dangkal ya, tadi mungkin berikutnya besok kalau tidak, sesuai rencana, kami akan melakukan survei juga geolistrik seperti yang dilakukan oleh UPN. Cuma mungkin jalurnya akan kita konsentrasikan ke sini (sekitar rumah)," ujarnya.

Masih belum terpecahkannya fenomena ini juga membuat peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) turun tangan. Peneliti Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air, Kelompok Teknologi Kebencanaan dan Energi BRIN, Hari Soekarno melakukan observasi awal sembari berkoordinasi dengan UGM, UPN, maupun peneliti dari instansi lain.

"Nanti dari hasil kunjungan kami ini selanjutnya kami akan mengadakan diskusi penelitian apa saja yang sudah dilakukan dan selanjutnya kami akan melengkapinya," ujar Hari di lokasi yang sama.

Ia menjelaskan, dari hasil penelitian sebelumnya terutama dari tim UGM, dugaan pemicu api adalah adanya gas fosfin yang berasal dari limbah pemotongan ayam. Namun, setelah melihat instalasi limbah di rumah itu, ia meragukan pemantik api merupakan gas fosfin.

"Tetapi kalau kami melihat dari instalasi limbahnya, seandainya terbentuk gas fosfin pun menurut saya sudah akan lepas ke atmosfer ya," ujarnya.

Oleh karena itu, setelah observasi ini BRIN akan mengambil sampel gas dari ruangan yang sering mengalami kejadian kebakaran untuk dianalisa. Ia ingin mengetahui jenis gas pemicu kebakaran di rumah tersebut.

"Dari BRIN akan kita mengusahakan itu tadi gas seperti gas kromatografi tetapi khusus untuk yang ke arah apakah ini hidrogen atau metana, gitu. Nah, cuma problemnya ini nanti sampling gas, dan menurut informasikan konsentrasinya sangat rendah ini. Iya. Ini juga nanti akan kendala," jelasnya.

BPBD Sleman Pasang CCTV

Sementara itu, proses awal hingga terbakarnya barang di rumah Mutfiana sampai saat ini juga jadi tanda tanya. Oleh karena itu BPBD Sleman memasang dua CCTV yang berada di ruang depan dan tengah.

"Sebetulnya penjelasannya adalah kita pengin melihat seperti apa to, asal muasal munculnya api itu. Karena belum pernah ada yang melihat secara langsung proses dari terjadinya kebakaran kemunculan api di beberapa spot itu," kata Kepala Pelaksana BPBD Sleman Bambang Kuntoro, saat dihubungi hari ini.

Ia berharap rekaman CCTV ini juga bisa membantu proses penelitian yang dilakukan oleh para akademisi. Selain itu, juga sekaligus bisa memantau aktivitas di dalam rumah tersebut.

"Sehingga bisa mendapatkan 'oh ternyata begini prosesnya' sehingga alat bukti nambah untuk teman-teman dari peneliti untuk menyimpulkan hasil temuannya gitu, menguatnya hasil temuannya," ujarnya.



Simak Video "Menggelar Fashion Show Bersama Warga di Grojogan Kapuhan, Sleman"

(aku/ams)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork