Tim UGM Temukan Anomali di Bawah Tanah Sekitar 'Rumah Api' Seyegan

Tim UGM Temukan Anomali di Bawah Tanah Sekitar 'Rumah Api' Seyegan

Jauh Hari Wawan S - detikJogja
Selasa, 09 Jun 2026 16:49 WIB
Tim peneliti UGM melakukan pemetaan lapisan tanah di sekitar rumah api Seyegan, Sleman, dengan metode geolistrik, Selasa (9/6/2026).
Tim peneliti UGM melakukan pemetaan lapisan tanah di sekitar 'rumah api Seyegan', Sleman, dengan metode geolistrik, Selasa (9/6/2026). Foto: Jauh Hari Wawan S/detikJogja
Sleman -

Tim peneliti Universitas Gadjah Mada (UGM) melakukan pemetaan bawah tanah dengan metode geolistrik di sekitar rumah Mutfiana warga Seyegan, Sleman, yang mengalami kebakaran berulang. Hasilnya, peneliti menemukan anomali di lapisan tanah dekat lokasi rumah itu.

Peneliti dari Laboratorium Geofisika Eksplorasi, Departemen Teknik Geologi FT UGM, Saptono Budi Samodra menjelaskan, metode geolistrik ini hampir sama dengan yang dilakukan oleh peneliti UPN. Bedanya, peneliti UGM mengejar detail variasi lapisan tanah.

"Kalau kemarin teman-teman UPN itu melakukan geolistrik dua dimensi dengan spasi yang cukup lebar sehingga mengejar kedalaman. Kami melakukan secara lebih pendek spasinya, hanya 1 meteran, di sekitar rumah dengan maksud untuk mengejar variasi yang lebih detail di sekitar rumah itu ada variasi apa saja," kata Saptono kepada wartawan di Seyegan, Selasa (9/6/2026).

Saptono menguraikan, geolistrik dengan dua dimensi akan dilakukan di dua lintasan. Sementara untuk geolistrik satu dimensi dilakukan di dua titik. Lokasinya hanya di sekitar rumah yang mengalami kejadian kebakaran. Pengukuran ini, menurut Saptono, juga untuk melengkapi data dari UPN.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


"Jadi di selatan rumah, utara rumah, timur rumah, barat rumah untuk lebih melokalisir. Karena kita prinsipnya kan kerja sama juga dengan tim yang lain, kemarin UPN sudah melakukan survei geolistrik secara lebih luas regional, kami mendetailkan di sekitar rumah," katanya.

Pengukuran geolistrik tidak bisa langsung terbaca seperti pada pengukuran georadar. Akan tetapi dari hasil pembacaan sementara, terdapat beberapa anomali di bawah permukaan tanah. Untuk saat ini anomali terbaca di selatan rumah Mutfiana.

"Ada anomali resistivitas yang berbeda itu yang menunjukkan material yang berbeda yang ada di bawah. Itu bisa karena kalau nanti bentuknya bergeser gitu, bisa menunjukkan ada rekahan atau memang ada benda apa yang tertimbun di bawah sana yang mempunyai nilai kelistrikan berbeda," jelasnya.

Meski demikian, data tersebut masih perlu diolah lebih lanjut. Mereka akan memodelkan dan menganalisa dengan metode satu dimensi geolistrik untuk melihat lapisan tanah. Hal ini juga untuk melengkapi hipotesis peneliti UPN terkait adanya endapan rawa yang dimungkinkan menjadi sumber gas.


"Setelah kemarin kita menemukan ada beberapa indikasi retakan, retakan itu akan diisi oleh gas atau tidak, akan tergantung dari sumbernya di bawah. Bisa jadi hanya rekahan, retakan, tapi tidak dilewati, yaitu tidak berpengaruh. Tapi kalau punya sumber gas di bawah, nanti akan mempunyai pengaruh yang signifikan untuk apa yang terjadi di permukaan," pungkasnya.

Sampai hari ini, peristiwa api spontan yang membakar sejumlah barang di rumah Mutfiana warga Seyegan, Sleman, masih terus berlangsung sejak Sabtu (23/5) lalu.

Tercatat sudah ratusan kali kejadian selama dua pekan lebih. Pemilik rumah berharap agar kejadian ini segera selesai. Apalagi, sudah ada kabar bahwa barang-barang di rumah tetangganya ada yang terbakar.

"Yang penting aku cari solusi gimana ini sudah agar cepat selesai. Capek juga," kata Fia.




(dil/ahr)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads