Penjelasan UGM soal Temuan Retakan Dalam Tanah 'Rumah Api Seyegan'

Penjelasan UGM soal Temuan Retakan Dalam Tanah 'Rumah Api Seyegan'

Tim detikJogja - detikJogja
Selasa, 09 Jun 2026 05:30 WIB
Peneliti dari UGM melanjutkan penelitian kebakaran berulang di Seyegan, Senin (8/6/2026).
Peneliti dari UGM melanjutkan penelitian kebakaran berulang di Seyegan, Senin (8/6/2026). Foto: Jauh Hari Wawan S/detikJogja
Sleman -

Tim UGM tengah melakukan pemetaan bawah tanah di rumah Mutfiana warga Kasuran Mriyan X, Margomulyo, Seyegan, Sleman, yang mengalami kebakaran berulang. Terbaru, tim menemukan beberapa retakan di bawah tanah di kedalaman sekitar 20 meter yang diduga sebagai jalan keluarnya gas.

Pemetaan bawah tanah di rumah Mutfiana itu menggunakan alat georadar. Saptono dari Lab Geofisika Eksplorasi, Departemen Teknik Geologi Fakultas Teknik (FT) UGM, mengatakan alat itu untuk mendeteksi kemungkinan lokasi jalan keluar gas menuju permukaan.

"Jadi untuk melihat apa yang ada di bawah permukaan, baik itu objek terpendam, lapisan-lapisan tanah maupun kalau ada retakan-retakan itu akan bisa dideteksi dengan alat ini," kata Saptono saat ditemui di lokasi rumah api Seyegan, Sleman, Senin (8/6/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tim peneliti melakukan pemeriksaan di beberapa tempat yang mengalami kemunculan api. Hasil sementara, ditemukan beberapa titik retakan di bawah tanah pada kedalaman sekitar 20 meter yang diduga sebagai jalan keluarnya gas. Namun temuan itu perlu diolah lebih lanjut.

"Kalau sementara ini masih kasar ya, hanya melihat sekilas belum diolah lebih lanjut itu memang terlihat ada beberapa koneksi atau keterkaitan antara titik api itu dengan terlihat ada retakan di bawah sampai ke kedalaman mungkin sekitar 15-20 meter," ujar dia.

"Untuk sementara ini masih belum kami olah terkait dengan kerapatan retakannya, tapi masih terkait dengan hubungan antara retakan itu dengan kemunculan titik api tadi," sambung Saptono.

Selanjutnya, temuan ini akan ditindaklanjuti dengan pemetaan menggunakan geolistrik untuk bisa menjangkau lapisan tanah atau batuan yang lebih dalam. Sehingga nantinya bisa mendeteksi adanya retakan pada formasi batuan. Selain itu, juga untuk mencari apakah ada lapisan lanau di bawah rumah.

"Ini kan masih dangkal ya, tadi mungkin berikutnya besok kalau tidak, sesuai rencana, kami akan melakukan survei juga geolistrik seperti yang dilakukan oleh UPN. Cuma mungkin jalurnya akan kita konsentrasikan ke sini (sekitar rumah)," kata Saptono.

Di sisi lain, proses awal hingga terbakarnya barang di rumah Mutfiana hingga kini masih jadi tanda tanya. Maka itu BPBD Sleman memasang dua CCTV di ruang depan dan tengah rumah itu.

"Sebetulnya penjelasannya adalah kita pengin melihat seperti apa to, asal muasal munculnya api itu. Karena belum pernah ada yang melihat secara langsung proses dari terjadinya kebakaran kemunculan api di beberapa spot itu," kata Kepala Pelaksana BPBD Sleman Bambang Kuntoro, saat dihubungi, Senin (8/6/2026).

Bambang berharap rekaman CCTV ini juga bisa membantu proses penelitian yang dilakukan oleh para akademisi. Selain itu, juga untuk memantau aktivitas di dalam rumah tersebut.

"Sehingga bisa mendapatkan 'oh ternyata begini prosesnya' sehingga alat bukti nambah untuk teman-teman dari peneliti untuk menyimpulkan hasil temuannya gitu, menguatnya hasil temuannya," ujar dia.




(dil/apu)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads