Teror api misterius di rumah Muftiana atau Fia warga Padukuhan Kasuran Mriyan X, Seyegan, Sleman, belum berakhir. Dekan FTME UPN "Veteran" Yogyakarta, Prof Basuki Rahmad, menyebut timnya mendapat informasi dari warga bahwa sekitar setahun lalu pernah ada kebakaran rumpun bambu secara alami di dekat rumah Fia.
Sementara itu ayah Fia, Agus, mengatakan bahwa titik api juga muncul di sebelah utara rumahnya pada Senin (1/6) lalu. Tepatnya di halaman belakang ruko tempat ia mengungsi bersama keluarganya.
"Untuk merembetnya itu sudah merembet ke sebelah. Yang mana untuk medianya bukan kaus, bukan kain, tapi kayu. Kayu terbakar," kata Agus saat ditemui wartawan di rumahnya, Selasa (2/6/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Agus menjelaskan, peristiwa itu terjadi pada Senin (1/6) selepas magrib. Selain membakar tripleks, api misterius itu juga membakar tumpukan kayu di halaman belakang ruko.
Agus mencatat total sudah terjadi 81 kebakaran secara berturut di lokasi yang berbeda-beda sejak Sabtu (23/5) lalu.
"81 kali, waktunya acak, tempatnya berbeda-beda. Jadi ada yang satu titik tiga kali, ada yang seperti itu," ujar dia.
Proses pemeriksaan oleh para pakar dari universitas masih terus dilakukan untuk mencari penyebab kebakaran berulang tersebut. Kemarin, tim dari UPN 'Veteran' Yogyakarta masih melakukan pemeriksaan di lokasi.
Penjelasan Profesor dari UPN
Dekan FTME UPN "Veteran" Yogyakarta, Prof Basuki Rahmad menyebut temuan tripleks yang terbakar di luar rumah semakin menguatkan dugaan adanya gas metana yang keluar dari bawah permukaan tanah.
"Jadi gas yang pertama tentunya kami diduga kuat semakin menguatkan ini memang di bawah permukaan ini ada gas metan, yang terus keluar ke udara," kata Basuki di lokasi, kemarin.
Ia menjelaskan, gas metana memiliki sifat suka menempel pada molekul H2O.
"Seperti kelembapan, lembap, daerah yang lembap-lembap gitu, itu senang di situ," ujarnya.
Temuan ini kemudian akan ditindaklanjuti oleh tim Geofisika UPN Jogja. Ia menyebut tim akan memetakan lapisan batuan di bawah tanah yang diduga membawa gas metana.
Indikasi Sumber Gas di Sungai
Sebelumnya, Basuki dan tim menemukan indikasi sumber gas berada di kawasan sungai yang berjarak sekitar 300 meter dari rumah tersebut. Di lokasi itu terdapat singkapan batuan berwarna gelap dengan genangan air yang mengeluarkan gelembung gas.
"Maka, batu lanau itu nyebarnya ke mana, apakah sampai ke rumah? Maka, kita perlu rekaman geofisika. Apakah sebenarnya sampai di bawah?. Nah, itulah besok validasi akan kita gunakan rekaman geofisika, besok mulai bekerja pagi dari Geofisika UPN Veteran," ujarnya.
Basuki juga mendapat informasi dari warga yang menyebutkan adanya kejadian kebakaran rumpun bambu secara alami sekitar 1 tahun yang lalu di dekat rumah Mutfiana. Selain itu sekitar 4 bulan yang lalu juga terjadi kejadian kebakaran di parit.
Termasuk, saat warga hendak memperdalam sumur namun saat proses penggalian tercium bau gas dan akhirnya tidak dilanjutkan.
"Jadi, itulah data-data yang sangat penting bagi kami untuk melokalisir besok rekaman geofisika akan dibuat line-line lah kita kita coba sebaran batuan pembawa gas itu berapa luas, sebarannya arah ke mana," pungkasnya.

Komentar Terbanyak
Awal Mula Ide Mbah Suhan Bikin 'Sawah Rongsok' di Gunungkidul
Pekerja Tewas Tertimpa Tembok Saat Bongkar Rumah di Sleman
Dinas Pertanian Gunungkidul Akan Kembangkan 'Padi Galon' Ala Pak Dukuh Wonosari