Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) juga turun tangan untuk mengungkap fenomena kebakaran misterius yang terjadi berulang di rumah Mutfiana warga Kasuran Mriyan X, Margomulyo, Seyegan, Sleman. BRIN akan mengambil sampel gas pemicu api di rumah tersebut.
Peneliti Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air, Kelompok Teknologi Kebencanaan dan Energi BRIN, Hari Soekarno, telah melakukan observasi awal sambil berkoordinasi dengan UGM, UPN, maupun peneliti dari instansi lain.
"Nanti dari hasil kunjungan kami ini selanjutnya kami akan mengadakan diskusi penelitian apa saja yang sudah dilakukan dan selanjutnya kami akan melengkapinya," kata Hari di lokasi, Senin (8/6/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hari mengatakan, dari hasil penelitian sebelumnya, terutama dari tim UGM, dugaan pemicu api adalah adanya gas fosfin yang berasal dari limbah pemotongan ayam. Tapi, setelah melihat instalasi limbah di rumah itu, Hari meragukan pemantik api itu merupakan gas fosfin.
"Tetapi kalau kami melihat dari instalasi limbahnya, seandainya terbentuk gas fosfin pun menurut saya sudah akan lepas ke atmosfer ya," ujar dia.
Maka itu, setelah observasi, BRIN akan mengambil sampel gas dari ruangan yang sering mengalami kejadian kebakaran untuk dianalisa. Ia ingin mengetahui jenis gas pemicu kebakaran di rumah tersebut.
"Dari BRIN akan kita mengusahakan itu tadi gas seperti gas kromatografi tetapi khusus untuk yang ke arah apakah ini hidrogen atau metana, gitu. Nah, cuma problemnya ini nanti sampling gas, dan menurut informasikan konsentrasinya sangat rendah ini. Iya. Ini juga nanti akan kendala," ucap dia.
Kesimpulan Sementara UGM
Diberitakan sebelumnya, tim peneliti yang tergabung dalam Pusat Kajian Pelambaran Entropi (PKPE) FT UGM mengungkap hasil temuan sementara terkait fenomena teror api di rumah warga Seyegan, Sleman. Berdasarkan serangkaian observasi, kesimpulan sementara keluarnya api diduga kuat berhubungan dengan keberadaan gas hidrogen.
Ketua tim PKPE FT UGM, Prof Alva Edy Tontowi, menjelaskan berdasarkan hasil observasi dan investigasi tersebut, tim sementara menyimpulkan bahwa keluarnya api berhubungan dengan keberadaan gas hidrogen.
"Kesimpulan sementara, keluarnya api, berasosiasi dengan gas hidrogen," ujar Alva dalam keterangan tertulis yang diterima wartawan, Kamis (4/6/2026).
Alva menyebut, kemunculan gas hidrogen diduga kuat berasal dari limbah pemotongan ayam. Diketahui, keluarga Mutfiana memang menjalankan usaha pemotongan ayam yang menempel di rumah yang mengalami fenomena kebakaran misterius.
"Gas hidrogen diduga kuat berasal dari proses fermentasi limbah organik pemotongan ayam," katanya.
Selain itu, tim juga menduga bersama dengan gas hidrogen tersebut ada gas lain yang lebih mudah terbakar pada suhu kamar, yaitu gas fosfin (PH3). Fosfin ini diduga bisa terbentuk dari material yang kaya fosfat seperti tulang dan bagian keras dari bulu ayam.
"Gas fosfin ini sayangnya tidak mudah terdeteksi dan akan habis terbakar jika bertemu oksigen. Sangat dimungkinkan gas fosfin tersebut yang memicu terbakarnya gas hidrogen yang keluar bersamaan. Meski demikian, hal ini masih perlu diselidiki secara lebih mendalam," ujarnya.
Beberapa Kali Observasi
Alva menjelaskan, tim lintas disiplin ilmu di FT UGM pada observasi awal Sabtu (30/5) memperoleh informasi dari Gegana Polda DIY bahwa terdeteksi gas metana (CH4) di titik munculnya api. Namun, pengukuran menggunakan kamera termal tidak menunjukkan adanya anomali suhu yang signifikan.
"Kamera termal yang dibawa tim UGM mengindikasikan adanya anomali suhu pada lokasi munculnya api, namun tidak signifikan, hanya berkisar sampai 29⁰C. Artinya suhu di area rumah dan sekitarnya masih berada pada rentang suhu ambien dan tidak dijumpai anomali tinggi," kata Alva.
Ia melanjutkan, Tim PKPE FT UGM melakukan deteksi gas pada Senin (1/6) dipimpin Prof Agung Harijoko dari Teknik Geologi. Hasil pengukuran menunjukkan anomali gas hidrogen (H2) yang terbaca cukup tinggi.
"Pada lokasi kamar mandi yang sempat keluar api, terbaca sampai 0,11. Pada waktu yang sama, terjadi kemunculan api di salah satu kamar. Tim mengukur kandungan gas di dekat titik api dan hasilnya terbaca adanya gas hidrogen yang sangat tinggi, sampai 0,40," jelasnya.
Observasi kembali dilakukan pada Rabu (3/6) dengan tim melakukan pengukuran gas dengan alat lain dan tim lain yang dipimpin Prof Sarto dan Prof Chandra dari Teknik Kimia. Hasilnya tidak terdeteksi adanya gas yang mudah terbakar selain gas hidrogen.
Oleh karena itu tim beranggapan bahwa penyelesaian masalah ini adalah mengetahui sumber gas. Menurut tim UGM terdapat dua kandidat sumber gas.
"Tim beranggapan bahwa kunci dari penyelesaian masalah ini adalah mengetahui sumber gas. Terdapat dua kandidat sumber gas, yaitu limbah cair atau gas tanah," ujarnya.
Oleh karena itu, hari ini atau Kamis (4/6) tim akan memastikan keberadaan gas dalam tanah. Caranya dengan melakukan penggalian dangkal di beberapa titik dan mengukur keberadaan gas.
"Sementara untuk kandidat sumber dari limbah cairan sedang dalam tahap analisis laboratorium," ujarnya.
Untuk saat ini, Tim PKPE FT UGM merekomendasikan agar sirkulasi udara dalam rumah dibuka selebar-lebarnya. Pasang blower dan atau kipas angin, untuk menghalau kemungkinan rembesan gas berkumpul dalam kadar yang cukup untuk memantik api.
Kemudian, mengeluarkan barang-barang yang mudah terbakar dari dalam rumah.
"Tim UGM akan membantu melakukan penjenuhan cairan basa (air kapur) pada tanah dan lantai rumah, untuk menekan kemungkinan adanya bakteri Clostridium yang berperan dalam menghasilkan gas hidrogen," pungkasnya.
Diketahui, barang-barang di rumah warga Seyegan, Sleman, terbakar secara misterius selama beberapa terakhir ini. Kondisi itu bisa terjadi hingga 9 kali sehari. Gegana hingga akademisi turun tangan untuk menanganinya.
