Teror api masih menghantui rumah Mutfia alias Fia, warga Kasuran Mriyan X, Seyegan, Sleman. Ia pun berencana relokasi usai rumahnya terbakar nyaris 100 kali.
"(Sampai saat ini) 97 kali kejadian. (Nilai kerugian) Kalau lima hari yang lalu Rp 40-an juta, kalau sampai saat ini ya belum tahu," kata Fia ditemui wartawan usai pertemuan dengan Pemkab Sleman dan alademisi dan instansi terkait di Kantor Kapanewon Seyegan, Kamis (4/6/2026).
Fia melanjutkan, karena fenomena kebakaran misterius itu masih terjadi, keluarganya mengusulkan untuk relokasi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tapi dari ibu tadi memberikan saran untuk relokasi, membuat usaha baru yang memungkinkan untuk ada mata pencaharian," ujarnya.
Berencana Pindah Sementara ke Ruko
Fia melanjutkan, dia merencanakan untuk berpindah ke ruko untuk tempat tinggal sekaligus usaha sementara.
"Relokasi mungkin tetap ke ruko ya. Kalau ke tempat lain kita harus bangun usaha dari nol," ujarnya.
"Karena kalau terlalu jauh juga iya, pelanggan dan konsumen pasti pergi gitu," lanjutnya.
Diketahui, api mulai muncul di rumah Fia sejak Sabtu (23/5) lalu.
"Itu dari Sabtu (23/5) malam jam 12 malam. Awalnya kain yang terbakar. Terus muncul lagi sampai merembet kusen pintu," kata Fia saat itu, Minggu (24/5).
Diteliti UGM hingga UPN
Sejumlah pakar dari Universitas Gadjah Mada (UGM), UPN "Veteran", dan BPPTKG dikerahkan untuk menyelidiki penyebab teror api ini. Temuan sementara dari peneliti yang tergabung dalam Pusat Kajian Pelambaran Entropi (PKPE) FT UGM, terdapat bukti adanya gas hidrogen yang berasosiasi dengan kemunculan api.
Anggota tim peneliti PKPE FT UGM Dr Sarju Winardi mengatakan tim memiliki asumsi bahwa gas tersebut berasal dari limbah organik. Asumsi itu tak lepas dari usaha pemotongan ayam milik keluarga Fia.
Hanya saja, Sarju menyebut kejadian ini sebagai kasus khusus. Sebab, selama ini belum ditemukan kasus kemunculan api secara tiba-tiba dan berulang di tempat usaha pemotongan ayam lain.
"Kenapa ada kasus khusus di tempatnya Bu Fia atau Pak Agus bisa menghasilkan itu. Bahwa faktanya 16 tahun pembuangan itu (tidak dibuka) tapi ada kabar juga itu sering dibersihkan," ujarnya.
"Kami belum memiliki jawaban komprehensif kenapa limbah pemotongan ayam di tempat ini katakanlah menghasilkan hidrogen dibanding misalkan tempat pemotongan ayam di tempat lain," lanjutnya.
Sarju menjelaskan, hidrogen dapat terbentuk secara alami seperti ditemukan dalam bekas pembuangan sampah organik. Bisa juga karena adanya pembuangan limbah.
"Dari fakta kami melihat yang cukup memungkinkan kan karena pembuangan limbah ini. Ini asumsi ya," tegasnya.
Oleh karena itu tim UGM masih terus melakukan investigasi untuk menemukan sumber hidrogen di rumah Fia.

Komentar Terbanyak
Saran Pakar UGM soal Polemik Jogja Last Friday Ride
Daftar Negara Lolos Semi Final Piala Dunia 2026: Isinya Rank 1-4 FIFA!
Hasil Piala Dunia 2026: Spanyol ke Final Usai Sikat Prancis 2-0