Rumah Dr Sardjito Dijual, UGM Upayakan untuk Kepentingan Akademik

Rumah Dr Sardjito Dijual, UGM Upayakan untuk Kepentingan Akademik

Jauh Hari Wawan S - detikJogja
Selasa, 19 Mei 2026 17:22 WIB
Penampakan rumah Pahlawan Nasional Prof Dr Sardjito di Jalan Cik Di Tiro, Terban, Gondokusuman, Kota Jogja, Kamis (13/5/2026).
Penampakan rumah Pahlawan Nasional Prof Dr Sardjito di Jalan Cik Di Tiro, Terban, Gondokusuman, Kota Jogja, Kamis (13/5/2026). Foto: Adji G Rinepta/detikJogja
Sleman -

Rumah gaya kuno peninggalan pahlawan nasional, yakni Prof dr M Sardjito, dikabarkan dijual dan telah ditawarkan ke UGM. Pihak kampus saat ini tengah berupaya untuk memanfaatkan rumah tersebut untuk kepentingan akademik.

"UGM tengah berupaya untuk memanfaatkan rumah tersebut untuk kegiatan akademik dan sosial sehingga mampu merekognisi nilai sejarah atas rumah itu. Upaya-upaya tersebut sedang dilakukan dengan menggandeng KAGAMA," kata Rektor UGM Prof Ova Emilia dalam keterangan tertulis yang diterima detikJogja, Selasa (19/5/2026)

Meski demikian, kampus masih belum menjabarkan lebih lanjut terkait dengan bentuk pemanfaatan itu. Termasuk kepastian UGM untuk membeli rumah itu. Mengingat Sardjito merupakan rektor pertama UGM.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ova melanjutkan, UGM menghormati nilai sejarah dan jasa para pendiri serta tokoh yang telah berkontribusi bagi perjalanan institusi.

ADVERTISEMENT

"Pada saat yang sama, kami juga menghormati hak dan keputusan keluarga sebagai pemilik sah rumah tersebut," ujarnya.

Sebelumnya, sebuah rumah bersejarah sedang dijual di Jalan Cik Di Tiro, Terban, Gondokusuman, Kota Jogja. Rumah kuno bergaya jengki itu merupakan peninggalan seorang pahlawan nasional, yakni Prof dr M Sardjito.

Penampakan rumah Pahlawan Nasional Prof Dr Sardjito di Jalan Cik Di Tiro, Terban, Gondokusuman, Kota Jogja, Kamis (13/5/2026).Penampakan rumah Pahlawan Nasional Prof Dr Sardjito di Jalan Cik Di Tiro, Terban, Gondokusuman, Kota Jogja, Kamis (13/5/2026). Foto: Adji G Rinepta/detikJogja

Dokter Sardjito sendiri lebih dikenal sebagai nama rumah sakit. Padahal, dia adalah rektor pertama Universitas Gadjah Mada (UGM) periode 1949-1961, dan juga rektor ketiga Universitas Islam Indonesia (UII) di rentang tahun 1963-1970.

Sejak menjabat sebagai rektor UGM pada 1949, Sardjito tinggal di rumah tersebut. Sekarang rumah itu dirawat dan dijaga oleh Budhi Santoso (70), yaitu seorang kerabat dari keluarga Sardjito.

Sempat beredar kabar di media sosial bahwa rumah peninggalan Sardjito akan dilepaskan. Budhi membenarkan bahwa rumah peninggalan Sardjito memang dijual.

Budhi memberikan ide untuk menjual rumah. Sebab, menurutnya rumah sudah tidak terawat. Adapun harga jual rumah tak disebutkan.

Keputusan untuk menjual rumah sudah disepakati oleh ahli waris, yakni cucu Sardjito, Alita dan Dyani Poedjioetomo. Keduanya saat ini tinggal di Jakarta.

"Yang punya ide melepas rumah ini memang saya, karena kenapa? Masalahnya, maaf ya, tidak dirawat dengan baik-baik. Akhirnya berunding lah (dengan ahli waris), setuju, nah sekarang masih dalam proses lah," kata Budhi saat ditemui detikJogja di rumah Sardjito, Kamis (14/5/2026).

Dia mengatakan rumah tak akan dijual menggunakan jasa broker atau perantara serta media sosial untuk menjual rumah. Pasalnya, ia ingin rumah ini dirawat oleh pihak yang tepat.

Budhi justru memilih menawarkan rumah ini secara langsung ke pihak-pihak tertentu, termasuk UGM dan UII. Ia tidak ingin rumah bersejarah dibeli tetapi akhirnya berubah menjadi kafe.

"Kalau harapan saya, memang yang punya ide untuk mengembalikan ke UGM memang saya, daripada ke orang asing, maaf lho ya, pasti jadi kafe. Kalau memang itu (mau dijual) ya tawarkan ke UGM atau UII, soalnya dulu Pak Sadjito pernah jadi Rektor UII juga, itu akan lebih terhormat, akan dirawat," tuturnya.



(afn/alg)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads