Nabung dari Jualan Gudeg, Pasutri di Sleman Semringah Bisa Naik Haji

Nabung dari Jualan Gudeg, Pasutri di Sleman Semringah Bisa Naik Haji

Jauh Hari Wawan S - detikJogja
Kamis, 16 Apr 2026 14:25 WIB
Pasangan penjual gudeg dan jajanan pasar, Rahudin Hasan (61) dan Siti Koringah (52), semringah bisa berangkat haji, Kamis (16/4/2026).
Pasangan penjual gudeg dan jajanan pasar, Rahudin Hasan (61) dan Siti Koringah (52), semringah bisa berangkat haji, Kamis (16/4/2026). Foto: Jauh Hari Wawan/detikJogja
Sleman -

Pasangan suami istri penjual gudeg dan jajanan pasar, Rahudin Hasan (61) dan Siti Koringah (52), akhirnya bisa mewujudkan mimpinya untuk pergi ke Tanah Suci. Dari berjualan di bawah pohon, mereka menyisihkan uang untuk menabung hingga kini akhirnya bisa berangkat haji setelah menunggu 14 tahun.

Perjuangan warga Kalurahan Maguwoharjo untuk bisa berhaji dimulai pada 2009 silam. Ketika dia masih bekerja sebagai tukang kebun di salah satu sekolah. Gajinya saat itu tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Ia lalu nekat meminjam uang untuk modal jualan.

"Gaji sebulan hanya cukup untuk hidup dua minggu. Kemudian saya beranikan diri utang uang Rp 1 juta untuk modal. Kemudian saya jualan gudeg di bawah pohon rambutan itu," kata Udin membuka pembicaraan dengan detikJogja, saat ditemui di warungnya, Banjeng, Maguwoharjo, Kecamatan Depok, Sleman, Kamis (16/4/2026).



Ia pun mulai berjualan di bawah pohon rambutan dengan tenda sederhana hingga saat ini bisa menempati ruko di dekat rumahnya. Setiap hari, ia membuka lapak sejak dini hari untuk melayani warga yang mencari sarapan.

"Di sebelah sini sebelum ada ruko kan ini kebon semua. Di sini ada pohon rambutan kemudian saya jualan di bawahnya pakai tenda aja," bebernya.

Dari usaha kecil itulah, Udin mulai menyisihkan penghasilan untuk mendaftar haji. Ia membutuhkan waktu sekitar tiga tahun hingga akhirnya bisa mengumpulkan setoran awal.

"Mendaftar haji itu tahun 2012. Waktu itu saya nabung selama kurang lebih tiga tahun kalau nggak salah, dapat uang Rp 25 juta terus kita mendaftar," ucapnya.

Setelah terdaftar, ia dan istrinya terus menabung hingga biaya haji bisa dilunasi. Usaha yang terus berjalan menjadi tumpuan utama mereka dalam mewujudkan impian tersebut.

Menjelang keberangkatan pada 24 April mendatang, keduanya telah melakukan berbagai persiapan, mulai dari manasik haji hingga pemeriksaan kesehatan. Mereka juga aktif mencari tambahan pengetahuan melalui internet.

"Selain manasik, saya juga belajar dari YouTube soal tata cara haji," kata Udin.

Siti Koringah menambahkan, dirinya menabung dari sisa uang belanja harian. Meski jumlahnya kecil, ia rutin menyisihkan uang setiap hari.

"Kalau ada sisa belanja ya ditabung. Kadang Rp 50 ribu sampai Rp100 ribu sehari, yang penting disisihkan," kata Siti.

"Soalnya kalau kita langsung juga nggak bisa, terus pokoknya yang penting kita sisihkan dikit-dikit," lanjutnya.

Ia mengaku sempat tidak percaya bisa sampai di titik ini. Baginya, berangkat haji dari hasil berjualan terasa seperti sesuatu yang dulu sulit dibayangkan. Apalagi mereka harus menunggu selama 14 tahun.

"Kita itu apa ya, padahal kita dulu pernah piye (bagaimana) apa mungkin bisa ke sana (Mekkah). Soalnya biaya juga mahal terus kita itu orang cuman jualan kayak gini. Tapi alhamdulillah Gusti Allah paring kelancaran," katanya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT




(ams/alg)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads