Raja Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Sri Sultan Hamengku Buwono X membeberkan alasan penyederhanaan prosesi Hajad Dalem Garebeg Besar Iduladha 1447H/Dal 1959, Rabu (27/5) mendatang. Efisiensi menjadi alasan utama diambilnya kebijakan ini.
"Ya penghematan aja, kabeh kan penghematan ya kan? Ya kita juga menghemat lah, psikologisnya kan gitu. Nanti dikira mewah-mewah. Penghematan aja," jelas Sultan saat ditemui di Kompleks Kepatihan Kota Jogja, Kamis (21/5/2026).
Sultan juga mengaku belum memutuskan apakah kebijakan ini akan berlaku pada upacara garebeg lainnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ya kita lihat, yang pemerintah APBN ya penghematan, daerah ya penghematan. Karena biaya, ya biaya yang terbesar itu kan di situ (garebeg). Nah, nek kecil tur (tapi) penghematan kan ora logis," terang Sultan.
"Ya kita kita saya nggak bisa menentukan, nanti kita lihat perkembangan. Kalau memang apa, keadaan ekonominya lebih baik ya dimunculkan lagi, kan gitu. Kita kan belum tahu," sambungnya.
Sebelumnya, berbeda dengan prosesi Hajad Dalem Garebeg Besar sebelumnya, pada Iduladha 1447H/Dal 1959, Rabu (27/5) mendatang, Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, menggelar Garebeg Besar dengan prosesi yang lebih sederhana. Prosesi seperti arak-arakan dan rayahan gunungan ditiadakan.
Bupati Nayaka di Keraton Yogyakarta, KRT Kusumanegara menyebut, alasan disederhanakannya prosesi Garebeg Besar esok lantaran dhawuh atau perintah Raja Keraton Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono X.
"Betul bahwa kami, Abdi Dalem Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat, belum lama ini nampi Dhawuh Dalem (menerima perintah dari Sultan) untuk menyederhanakan prosesi garebeg dimulai dari besok Garebeg Besar," jelasnya dalam keterangan tertulis yang diterima detikJogja, Rabu (20/5).
KRT Kusumanegara mengatakan peniadaan prosesi yang dilakukan pada Garebeg Besar tahun ini cukup banyak. Mulai dari rangkaian upacara yang mengawali Garebeg hingga arak-arakan dan pembagian gunungan ke masyarakat.
Prosesi seperti Gladhi Resik Prajurit dan Numplak Wajik yang biasanya digelar tiga hari sebelum penyelenggaraan Garebeg Besar juga ditiadakan. Sedangkan pemberian sedekah dari raja pada kawula tetap diwujudkan dengan pembagian uba rampe pareden kepada seluruh Abdi Dalem di Keraton Yogyakarta.
"Tidak ada gunungan yang keluar dari keraton, tidak ada iring-iringan prajurit juga. Seluruh uba rampe pareden nantinya hanya akan dibagikan kepada Abdi Dalem Keraton Yogyakarta," papar Kangjeng Kusumanegara.
(apl/apl)












































Komentar Terbanyak
Polisi Minta Ortu Serahkan Buron Pembunuhan di Dekat SMAN 3 Jogja
Mencuatnya Dugaan Kekerasaan Seksual Libatkan Dosen UPN Veteran Jogja
Lagi-lagi Geng Sadis Berulah di Jogja