Cerita Bule Jerman Gowes 15 Ribu Kilometer Kampanyekan 'Save Soil'

Cerita Bule Jerman Gowes 15 Ribu Kilometer Kampanyekan 'Save Soil'

Serly Putri Jumbadi - detikJogja
Selasa, 14 Apr 2026 13:35 WIB
Seorang aktivis asal Jerman rela bersepeda lintas 16 negara demi kampanyekan save soil.
Aktivis lingkungan asal Jerman, Konstantin Zulske, saat ditemui di Pakem, Sleman, Selasa (14/4/2026). Foto: Serly Putri Jumbade/detikJogja
Jogja -

Seorang aktivis lingkungan asal Jerman, Konstantin Zulske, menempuh perjalanan tak biasa demi menyuarakan isu lingkungan global. Ia mengayuh sepeda sejauh 15.000 kilometer melintasi 16 negara dari Jerman hingga India sebagai bagian dari kampanye Save Soil.

Konstantin memulai perjalanannya pada Mei 2024. Dalam setahun, ia melintasi berbagai wilayah di Eropa Timur, Turki, Iran, Pakistan, hingga akhirnya tiba di India.

"Jadi saya mulai bersepeda dari Jerman ke India pada Mei 2024. Jadi, dua tahun lalu, dan ya, saya bersepeda melintasi 16 negara, 15.000 kilometer jauhnya dari Jerman ke India," ujar Konstantin saat ditemui di Pakem, Sleman, Selasa (14/4/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Perjalanan panjang dengan mengayuh sepeda tersebut bukan tanpa tantangan. Pria yang memiliki latar belakang di bidang Ilmu Tanah dan Geokologi itu mengaku sempat menghadapi kondisi ekstrem, terutama saat melintasi wilayah gurun di Iran.

ADVERTISEMENT

"Saya berada di padang pasir selama dua minggu. Tidak ada apa-apa di sana, tidak ada peradaban, terkadang kehabisan air dengan sangat parah, terbakar sinar matahari, itu mulai terasa secara fisik," tuturnya.

Meski berat, pengalaman itu justru menjadi bagian yang paling berkesan. Selain menguji fisik, perjalanan panjang tersebut juga memberinya ruang untuk refleksi diri.

"Kadang Anda sendirian selama berhari-hari. Anda benar-benar menemukan banyak hal tentang diri Anda sendiri," katanya.

Dalam perjalanannya, Konstantin pernah tinggal di pusat meditasi di India yang dikelola Isha Foundation, organisasi non-profit yang didirikan oleh Sadhguru. Dari sanalah ia mulai terlibat dalam gerakan Save Soil, sebuah kampanye global yang bertujuan meningkatkan kesadaran akan pentingnya menjaga kesehatan tanah.

"Ini adalah masalah ekologi terbesar generasi ini, karena tanah sangat terhubung dengan segalanya: perubahan iklim, kelangkaan air. Jika kita hanya mengembalikan karbon dari atmosfer ke tempat yang seharusnya yaitu di dalam tanah, itu sebenarnya adalah solusi terbesar," ungkapnya.

Konstantin juga menyoroti kondisi tanah global yang kian mengkhawatirkan. Ia menyebut sekitar 52 persen tanah di dunia telah mengalami degradasi.

"Para ilmuwan PBB sekarang mengatakan bahwa 52 persen tanah di planet ini sudah terdegradasi. Dalam 25 tahun, bisa mencapai 90 persen," katanya.

Saat ini, Konstantin melanjutkan perjalanannya di Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Ia mengaku sudah beberapa kali mengunjungi Tanah Air dan tertarik untuk menjelajah lebih jauh dengan sepeda. Bahkan, ia juga cukup fasih melafalkan beberapa kata dalam bahasa Indonesia.

"Saya suka negara ini. Orang-orangnya sangat lucu dan manis, saya suka makanannya, karena saya vegetarian saya makan beberapa makanan lokal di sini, gado-gado, pecel, dan buah durian itu sangat luar biasa," ujarnya sambil tertawa.

"Aku bisa bilang bahasa Indonesia sedikit, tapi aku nggak tahu banyak kata-kata. Aku harus belajar lagi," ucapnya dalam Bahasa Indonesia.

Selama di Indonesia, ia telah bersepeda dari Jakarta menuju Bogor, melintasi Bandung, Tasikmalaya, hingga Cilacap. Selain kampanye lingkungan, perjalanan ini juga menjadi caranya menarik perhatian publik terhadap isu tanah yang kerap luput dari perhatian.

"Saya bersepeda sejauh 15.000 kilometer pada dasarnya untuk melakukan sesuatu yang gila agar orang-orang memperhatikannya," pungkasnya.




(par/aku)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads