Sultan HB X Angkat Bicara soal Pembubaran Ibadah Gereja di Bantul

Sultan HB X Angkat Bicara soal Pembubaran Ibadah Gereja di Bantul

Serly Putri Jumbadi - detikJogja
Senin, 25 Mei 2026 19:08 WIB
Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Sri Sultan Hamengku Buwono X ditemui di Kompleks Kepatihan, Kota Jogja, Senin (25/5/2026).
Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Sri Sultan Hamengku Buwono X ditemui di Kompleks Kepatihan, Kota Jogja, Senin (25/5/2026). Foto: Serly Putri Jumbadi/detikJogja
Jogja -

Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Sri Sultan Hamengku Buwono X, buka suara terkait kabar pembubaraan ibadah di salah satu gereja di Sewon, Bantul. Peristiwa ini terjadi pada Minggu (24/5).

"Yang namanya manusia itu perbedaan itu ada. Tapi tidak memahami bahwa Allah itu memang menciptakan memang rasnya ya berbeda, agama ya berbeda, asal-usulnya juga dari yang berbeda," ujar Sultan saat ditemui di Kompleks Kepatihan, Kota Jogja, Senin (25/5/2026).

"Jadi sebetulnya perbedaan itu keniscayaan, memang ciptaan-Nya begitu. Bukan dia yang paling bener sendiri, enggak ada," lanjutnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sebelumnya, Postingan bernarasi adanya pembubaran ibadah di salah satu gereja di Sewon, Bantul oleh sekelompok orang ramai di media sosial (medsos).

ADVERTISEMENT

"Lagi dan lagi, hari ini saya mendapatkan laporan tentang adanya pembubaran ibadah paksa yang dialami oleh Jemaat Gereia GMS Bantul oleh oknum-oknum Intolerans. bahkan sampai memakai kekerasan. tolong diatensi broku @yudhawk157," tulis akun Instagram @davidherson_official seperti dilihat detikJogja hari ini.

"Apa mereka lupa bahwa Negara ini menjamin sesuai dengan Pasal 29:1&2 Undang-undang dasar 1945 bahwa setiap negara berhak untuk beribadah sesuai dengan kepercayaannya masing-masing. Mohon perhatiannva dan tindak secara tegas oknum-oknum intolerans tersebut @kapolri_indonesia @pemkabbantul @kemenag_ri @polresbantuldiy @poldajogja," lanjut akun tersebut.

Dimintai konfirmasi, Plt Kepala Kesbangpol Bantul, Yulius Suharta membenarkan adanya kejadian tersebut. Yulius menyebut kejadian itu terjadi kemarin, Minggu (24/5).

"Kebangpol tidak hanya pada posisi menunggu laporan, tapi dari informasi kemarin ketika berkembang akan ada penolakan terkait kegiatan GMS, kami sudah mengkoordinasikannya," katanya saat dihubungi wartawan, Senin (25/5/2026).

Bahkan, Yulius menyebut jika Kesbangpol telah mencoba untuk melakukan antisipasi terkait pergerakan tersebut. Akan tetapi, kejadian tersebut akhirnya tetap terjadi.

"Kami sudah mencoba untuk mengantisipasi, tapi memang faktanya kemarin terjadi pergerakan di tempat kegiatan GMS seperti itu," ucapnya.

Sementara itu Forum Jihad Islam (FJI) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mengaku peristiwa itu terkait dengan perizinan. Ketua FJI DIY, Abdurrahman mengatakan sebelumnya sudah ada pertemuan antara pendeta, Polsek Sewon, Kapanewon Sewon hingga Kesbangpol Kabupaten Bantul. Pertemuan itu membahas soal peresmian GMS.

"Nah, intinya dari pihak gereja ini kan mau mengadakan acara peresmian, tapi sudah diingatkan dari Kesbangpol, dan warga pun juga menolak. Dari Kesbangpol memanggil pendetanya dan pendetanya itu hanya berdasarkan surat izin lapor di Kemenag," kata Abdurrahman saat dihubungi wartawan, Senin (25/5/2026).

Kesbangpol, kata Abdurrahman, saat itu telah meminta agar mempertimbangkan peresmian GMS. Pasalnya GMS belum mengantongi izin secara penuh dan dalam pembangunannya juga tidak melibatkan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Bantul.

"Terus karena itu belum ada izin, Kesbangpol sudah menyampaikan kalau itu belum kuat karena belum ada izin. Tapi kalau dari pihak gereja mau tetap bersikukuh mau mengadakan acara, nanti kalau ada apa-apa tidak bertanggung jawab," katanya.




(alg/afn)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads