Bulan Ramadan selalu menghadirkan antusiasme tinggi bagi umat Islam untuk berburu pahala melalui rangkaian ibadah malam. Namun, tak jarang seseorang datang terlambat ke masjid saat jamaah lain sudah memulai Tarawih. Situasi ini sering kali memicu kebingungan, bolehkah langsung ikut sholat Tarawih tanpa sholat Isya?
Sholat Tarawih memiliki kedudukan hukum yang sangat bergantung pada tuntasnya sholat Isya sebagai syarat pembuka waktu pelaksanaannya. Mengabaikan urutan ini tidak hanya berisiko membuat ibadah tidak sah, tetapi juga menghilangkan esensi dari tujuan sholat Tarawih itu sendiri sebagai pelengkap kewajiban.
Agar ibadah di bulan suci tetap bernilai sempurna dan sesuai syariat, penting untuk mengetahui aturannya. Simak ulasan mendalam mengenai hukum mendahulukan Tarawih sebelum sholat Isya berikut ini, detikers!
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Poin utamanya:
- Sholat Isya adalah syarat sah pembuka waktu Tarawih; tanpa Isya terlebih dahulu, sholat Tarawih dianggap tidak sah atau hanya menjadi sunnah mutlak.
- Jamaah yang terlambat sangat dianjurkan untuk menyelesaikan sholat Isya secara mandiri atau bermakmum sebelum bergabung dalam barisan Tarawih.
- Pelaksanaan Tarawih sangat fleksibel, dimulai segera setelah Isya hingga terbitnya fajar (waktu subuh).
Bolehkah Sholat Tarawih Tanpa Sholat Isya?
Dikutip dari penjelasan NU Online, terdapat syarat mutlak yang harus dipenuhi sebelum memulainya. Sholat Tarawih hanya dapat dilakukan apabila seseorang telah selesai mendirikan sholat Isya terlebih dahulu.
Ketentuan ini membuat hukum sholat Tarawih yang dilakukan sebelum Isya menjadi tidak sah. Aturan tersebut berlaku bagi siapa saja yang sudah mengetahui bahwa sholat Isya merupakan syarat pembuka waktu Tarawih. Oleh karena itu, urutan pengerjaan sholat tidak boleh dibalik meskipun waktu Isya sudah masuk.
Terkait problematika ini, Imam Ibnu Ziyad menjelaskan dalam kitab Ghayatu Talkhisil Murad:
"Waktu pelaksanaan sholat Tarawih ialah di antara setelah melakukan sholat Isya dan keluarnya fajar. Jika orang melakukan sholat Tarawih sebelum melakukan sholat Isya, maka apabila dia mengetahui hukum (tidak sahnya melakukan sholat Tarawih sebelum sholat Isya), maka sholat Tarawihnya tidak sah. Sedangkan jika ia tidak mengetahui hukumnya, maka sholat Tarawih tersebut berpeluang menjadi sholat sunah mutlak. Seperti halnya orang yang melakukan sholat sunah zuhur yang diduga telah masuk waktunya, namun ternyata belum masuk. Menurut satu pendapat yang unggul hukumnya adalah tidak sah."
Bagi jamaah yang belum mengetahui hukum ini, sholat yang dilakukan tetap dianggap sah namun statusnya berubah. Sholat tersebut tidak lagi dinilai sebagai sholat Tarawih, melainkan hanya sebagai sholat sunnah mutlak. Hal ini senada dengan penjelasan dalam kitab Fathul Mu'in oleh Syekh Zainuddin Ahmad bin Abdul Aziz Al-Malibari:
"Apabila telah keluar dari waktunya sholat witir (atau Tarawih), maka tidak diperkenankan untuk mengqadhanya sebelum melakukan sholat Isya sebagaimana sholat sunnah rawatib ba'diyah. Beda halnya dengan pendapat yang diunggulkan oleh sebagian ulama. Jika sholat Isya yang ia lakukan batal setelah melakukan sholat witir atau Tarawih, maka sholat witir atau Tarawih menjadi sholat sunah mutlak."
Berdasarkan rujukan tersebut, solusi terbaik bagi jamaah yang datang terlambat adalah mendahulukan sholat Isya. Meskipun jamaah masjid sudah memulai rangkaian Tarawih, makmum yang baru datang hendaknya mengerjakan sholat Isya terlebih dahulu. Setelah kewajiban Isya tuntas, barulah ia diperbolehkan mengikuti sholat Tarawih agar ibadahnya bernilai sah dan sesuai dengan tuntunan fiqih.
Kapan Waktu Pelaksanaan Sholat Tarawih?
Sholat Tarawih merupakan ibadah sunah yang sangat khusus. Sholat ini hanya dilaksanakan pada malam hari selama bulan Ramadan. Dikutip dari buku Panduan Muslim Sehari-hari tulisan Hamdan Rasyid dan Saiful Hadi El-Sutha, waktu pelaksanaannya dimulai segera setelah seseorang menunaikan sholat Isya.
Jamaah bisa melaksanakannya mulai dari usai Isya sampai menjelang waktu imsak. Batas akhirnya ditandai dengan terbitnya fajar atau masuknya waktu subuh. Sholat ini menjadi sarana utama bagi setiap muslim untuk meraih pahala berlimpah. Karena keutamaannya yang besar, Tarawih sangat dianjurkan untuk diperbanyak rakaatnya.
Mengenai tata caranya, sholat Tarawih fleksibel untuk dilakukan. Kita boleh mengerjakannya secara sendirian atau munfarid di rumah. Namun, melaksanakannya secara berjamaah dianggap jauh lebih utama. Hal ini dilakukan demi menjaga syiar bulan Ramadan agar tetap terasa istimewa dibanding bulan lainnya.
Dalam hal jumlah rakaat, terdapat perbedaan pandangan di kalangan ulama. Sebagian menyatakan sunah dilaksanakan sebanyak 8 rakaat. Sebagian lainnya menyatakan sebanyak 20 rakaat. Namun, jumlah ini sebaiknya tidak menjadi bahan pertentangan antar umat Islam.
Poin yang paling utama adalah kualitas dari sholat tersebut. Rasulullah sangat menekankan kekhusyukan dan keindahan dalam setiap gerakan sholat. Hal ini diperkuat dengan anjuran beliau untuk memperbanyak ibadah malam, sebagaimana disebutkan dalam hadis riwayat Abu Hurairah berikut:
"Rasulullah itu sangat suka dengan ibadah malam di bulan Ramadhan (termasuk di dalamnya sholat Tarawih), tanpa beliau menyuruh para sahabat untuk beribadah di dalamnya dengan satu ibadah saja yang diinginkan. Beliau hanya berkata, 'Barang siapa melaksanakan ibadah di bulan Ramadhan dengan penuh keimanan dan pengharapan terhadap pahala Allah, niscaya akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu'." (HR. Muslim)
Keutamaan Sholat Tarawih
Dikutip dari buku Memantaskan Diri Menyambut Bulan Ramadhan tulisan Abu Maryam Kautsar Amru, sholat Tarawih yang dilaksanakan dengan cara berjamaah memiliki keutamaan berikut ini:
إِنَّهُ مَنْ قَامَ مَعَ الْإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ كَتَبَ اللَّهُ لَهُ قِيَامَ لَيْلَةٍ
Artinya: "Jika seseorang sholat bersama imam hingga usai, maka Allah menuliskan baginya pahala menegakkan sholat malam semalam penuh." (HR. An-Nasai)
Meski sholat berjamaah bersama imam lebih utama, sholat Tarawih yang sendiri juga tetap memiliki keutamaan besar berdasarkan keumuman hadits Nabi Muhammad SAW:
مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
Artinya: "Barangsiapa yang berdiri dan sholat Ramadan karena iman kepada Allah dan mengharapkan pahala (hanya dari-Nya), maka akan diampuni dosa-dosa yang telah dikerjakannya." (HR. Abu Daud dan selainnya).
Demikian penjelasan mengenai sholat Tarawih yang tidak sah dilakukan tanpa sholat Isya. Semoga bermanfaat!
FAQ
1. Apakah boleh sholat Tarawih tapi tidak sholat Isya?
Secara hukum fiqih, sholat Tarawih yang dilakukan tanpa sholat Isya terlebih dahulu hukumnya tidak sah sebagai Tarawih. Hal ini karena waktu Tarawih baru dimulai setelah seseorang menyelesaikan sholat Isya. Jika seseorang sengaja melakukannya, sholatnya batal, namun jika tidak tahu, amalan tersebut hanya akan bernilai sebagai sholat sunnah mutlak (biasa) dan tidak mendapatkan keutamaan pahala Tarawih.
2. Apakah sholat Tarawih harus langsung setelah sholat Isya?
Sholat Tarawih tidak harus dilakukan langsung setelah sholat Isya, namun ia harus dilakukan setelah sholat Isya. Rentang waktunya cukup panjang, yaitu mulai dari usai Isya hingga menjelang waktu subuh (fajar shadiq). Kamu diperbolehkan mengerjakan sholat Isya di awal waktu, lalu beristirahat sejenak sebelum memulai Tarawih di tengah malam, selama masih dalam satu rangkaian malam yang sama.
3. Bagaimana jika telat sholat Tarawih?
Jika kamu terlambat dan mendapati jamaah sudah mulai Tarawih sementara kamu belum sholat Isya, maka wajib mendahulukan sholat Isya terlebih dahulu. Kamu bisa melakukan sholat Isya sendirian atau membuat jamaah Isya baru. Setelah Isya tuntas, barulah kamu bergabung mengikuti imam Tarawih. Kekurangan rakaat Tarawih yang tertinggal bisa kamu sempurnakan sendiri setelah imam melakukan salam terakhir (witir).
