Kabupaten Garut dikenal sebagai salah satu daerah di Jawa Barat yang kaya akan kuliner tradisional. Masyarakat di wilayah ini memiliki beragam camilan khas yang telah diwariskan turun-temurun.
Camilan itu terbuat dari bahan-bahan yang tersedia di Garut, seperti beras ketan, gula merah, kelapa, hingga singkong. Namun, meski berbahan sederhana, cara pengolahannya yang melegenda membuat camilan khas Garut memiliki cita rasa istimewa yang sulit dilupakan.
Sebagian besar camilan ini masih diproduksi oleh pelaku usaha rumahan dan UMKM lokal, meski beberapa di antaranya, seperti dodol, sudah diproduksi dalam skala pabrikan. Wisatawan sering menjadikan camilan ini sebagai buah tangan utama, terutama saat momen libur Lebaran Idulfitri.
Dari yang manis hingga gurih, berikut beberapa camilan khas Garut yang masih populer hingga sekarang. Cocok untuk dijadikan buah tangan saat kembali ke kota besar. Simak yuk!
8 Camilan Khas Garut Legendaris yang Wajib Dicoba
1. Dodol Garut
Nama Garut hampir selalu identik dengan dodol. Makanan manis bertekstur kenyal ini sudah lama menjadi ikon kuliner daerah tersebut dan paling sering diburu wisatawan sebagai buah tangan.
Dodol Garut dibuat dari campuran tepung beras ketan, gula merah, dan santan kelapa yang dimasak dalam waktu lama hingga mengental dan menghasilkan tekstur kenyal. Proses pembuatannya cukup panjang karena adonan harus terus diaduk agar tidak gosong.
Rasanya manis legit dengan aroma khas gula merah. Kini dodol juga hadir dalam berbagai varian rasa seperti cokelat, nanas, durian, hingga stroberi untuk mengikuti selera modern.
Harga dodol Garut biasanya berkisar Rp15.000 hingga Rp60.000 per kotak, tergantung ukuran dan mereknya. Pada beberapa sentra oleh-oleh, ada juga yang dijual dalam kemasan per kilogram. Makanan ini mudah ditemukan di berbagai toko oleh-oleh di pusat Kota Garut, terutama di kawasan Tarogong yang dikenal sebagai sentra produksi dodol.
2. Burayot
Salah satu camilan khas Garut yang memiliki nama unik adalah burayot. Dalam bahasa Sunda, kata 'burayot' berarti menggantung atau keriput, yang menggambarkan bentuk kue ini setelah digoreng.
Burayot dibuat dari beras merah, gula merah, dan kacang tanah. Ada juga yang menggunakan kacang merah. Menurut laman jadesta.kemenpar.go.id, semua adonan seperti beras ditumbuk menjadi tepung, juga kacang merah yang sebelumnya telah disangrai, ditumbuk pula, dicampur dengan gula dan air sehingga menjadi adonan.
Adonan tersebut digoreng hingga mengembang lalu mengerut di bagian tengah, sehingga tampilannya khas. Cara menggorengnya juga unik, yaitu menggunakan sebatang bambu untuk membuat bentuknya 'ngagayot' atau menggantung sehingga terciptalah bentuk (nga)burayot.
Saat disantap, teksturnya sedikit kenyal dengan rasa manis legit dari gula merah. Aroma kacang juga memberikan sensasi gurih yang membuat camilan ini semakin nikmat. Sekali santap, dijamin tak mau berhenti.
Burayot banyak dijumpai di Kecamatan Leles, meski di pusat kota Garut juga ada yang menjualnya. Namun, Leles dianggap sebagai salah satu daerah yang dikenal sebagai tempat asal camilan ini. Harganya cukup terjangkau, sekitar Rp10.000 hingga Rp20.000 per bungkus, sehingga sering dibeli sebagai jajanan tradisional. Penjualnya banyak membuka lapak di pinggir jalan utama Garut-Bandung.
3. Ladu
Jika sekilas dilihat, ladu memang mirip dodol. Namun camilan khas dari Kecamatan Malangbong ini memiliki tekstur yang sedikit berbeda. Ladu dibuat dari beras ketan yang dicampur dengan gula aren atau gula kelapa, kemudian dimasak hingga padat.
Camilan ini punya tekstur lebih padat dibanding dodol, tetapi tetap lembut ketika digigit. Dengan demikian, kudapan ini lebih cepat membuat kenyang penyantapnya.
Rasanya juga manis dengan aroma gula aren yang khas. Ladu yang dicetak berbentuk silinder panjang disajikan dalam potongan di atas piring. Potongannya biasanya kecil-kecil sehingga mudah dimakan sebagai camilan.
Ladu? Teringat apa ya kalau mendengar kata itu? Tapi sebenarnya, kata 'Ladu' mewakili teksturnya yang lembut seperti suatu makanan yang sangat matang sehingga sangat lembut. Menurut kamus Sundadigi, 'ladu' adalah dialek khusus untuk menyebut 'dalu'. Dalu sendiri punya arti 'sangat matang'.
Harga ladu relatif murah, berkisar Rp15.000 sampai Rp30.000 per kemasan, tergantung kualitasnya. Camilan ini biasanya dijual di pasar tradisional Malangbong atau toko oleh-oleh di Garut.
4. Wajit
Camilan tradisional lain yang cukup populer di Garut adalah wajit. Makanan ini dibuat dari beras ketan, gula merah, dan kelapa parut yang dimasak hingga padat.
Perbedaan paling tegas dari dodol, wajit punya tekstur lebih kasar dan banyak yang merupakan olahan dari buah-buahan seperti nangka atau kacang-kacangan seperti kacang merah.
Ciri khas lain wajit adalah cara pembungkusannya. Setelah matang, wajit biasanya dibungkus menggunakan daun jagung kering, sehingga memberikan aroma alami yang khas.
Rasanya manis legit dengan tekstur kenyal serta serat bahan dasar yang masih terasa di lidah. Wajit sering disajikan sebagai camilan keluarga atau hidangan saat acara tradisional. Cocok pula dijadikan oleh-oleh Lebaran.
Harga wajit berkisar Rp25.000 hingga Rp40.000 per bungkus, tergantung gramasi, dan bisa ditemukan di pasar tradisional maupun toko oleh-oleh Garut. Sentra oleh-oleh di Tarogong banyak menyediakan camilan ini.
(orb/orb)