Wisata Pangandaran telah banyak dikunjungi wisatawan sejak era kolonial Belanda. Namun, pada tahun 1934, kawasan pesisir ini pernah diserang wabah nyamuk malaria.
Kondisi itu tidak terjadi tiba-tiba, melainkan dipicu oleh melonjaknya jumlah kunjungan ke Pangandaran saat itu. Hal tersebut terekam dalam pemberitaan koran kolonial Belanda yang terbit pada 4 Desember 1934.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Koran Harian Hindia Belanda yang memuat tajuk "Peringatan: Malaria Pangandaran" tersebut menjadi kabar yang cukup menakutkan bagi publik kala itu.
Dalam keterangan berita tersebut, wilayah Pangandaran tercatat masih masuk ke dalam wilayah administratif Kabupaten Tasikmalaya. Laporan itu bersumber dari tulisan seorang dokter di Distrik Tasikmalaya.
Berikut adalah tulisan terjemahan yang dimuat dalam koran Harian Hindia Belanda tersebut:
"Mengingat semakin meningkatnya jumlah wisatawan yang berkunjung ke kota pesisir Pangandaran di Kabupaten Tasikmalaya, saya rasa perlu untuk memperingatkan, melalui surat kabar Anda, tentang malaria yang melanda di sana, yang setelah menunjukkan kecenderungan penurunan yang signifikan selama beberapa tahun, kini tiba-tiba kembali merebak setelah datangnya musim hujan. Bermalam di pasanggrahan saat ini berarti berisiko tertular penyakit."
Tangkapan layar koran Harian Hindia Belanda delpher Foto: Arsip digital Delpher |
"Penyebab ledakan ini harus dicari pada sejumlah reklamasi lahan secara diam-diam, atau lebih tepatnya penggundulan hutan, di sepanjang tepi dua sungai yang mengalir ke laut di Pangandaran. Sungai-sungai ini telah berada di bawah kendali Dinas Kesehatan Masyarakat untuk beberapa waktu dan dipatroli pada waktu-waktu tertentu, menyebabkan malaria secara bertahap menurun."
Reklamasi yang disebutkan di atas, yang terletak di tepi sungai yang rendah dan berawa, terjadi tanpa sepengetahuan dinas tersebut serta Departemen Kehutanan. Hal ini mengakibatkan perkembangbiakan nyamuk Anopheles secara besar-besaran terjadi tanpa gangguan, dengan konsekuensi fatal bagi kesehatan masyarakat.
Dalam laporan itu, pihak pemerintah daerah waktu itu memperingatkan bahwa salah satu penyebab maraknya malaria adalah adanya penebangan liar tanpa sepengetahuan Dinas Kehutanan setempat. Selain itu, otoritas setempat menyampaikan bahwa bermalam di salah satu hotel Pangandaran yang kini menjadi pusat relokasi pedagang sama saja dengan mendekati risiko malaria, lantaran lokasi itu banyak dikunjungi wisatawan asing.
Kondisi dalam pemberitaan lawas tersebut menunjukkan bahwa wilayah Pangandaran memiliki rekam jejak sejarah sebagai kawasan yang pernah diserang wabah nyamuk malaria.
Tak heran jika saat ini di wilayah Pangandaran terdapat museum nyamuk sebagai penanda sekaligus tempat penelitian nyamuk di wilayah selatan Jawa Barat. Kini, tempat tersebut bahkan telah bertransformasi menjadi destinasi wisata edukasi unggulan di Pangandaran.
(iqk/iqk)

