8 Camilan Khas Garut yang Bisa Manjakan Mulut

8 Camilan Khas Garut yang Bisa Manjakan Mulut

Dian Nugraha Ramdani - detikJabar
Kamis, 26 Mar 2026 10:00 WIB
Burayot.
Burayot. (Foto: Anindyadevi Aurellia/detikJabar)
Bandung -

Kabupaten Garut dikenal sebagai salah satu daerah di Jawa Barat yang kaya akan kuliner tradisional. Masyarakat di wilayah ini memiliki beragam camilan khas yang telah diwariskan turun-temurun.

Camilan itu terbuat dari bahan-bahan yang tersedia di Garut, seperti beras ketan, gula merah, kelapa, hingga singkong. Namun, meski berbahan sederhana, cara pengolahannya yang melegenda membuat camilan khas Garut memiliki cita rasa istimewa yang sulit dilupakan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sebagian besar camilan ini masih diproduksi oleh pelaku usaha rumahan dan UMKM lokal, meski beberapa di antaranya, seperti dodol, sudah diproduksi dalam skala pabrikan. Wisatawan sering menjadikan camilan ini sebagai buah tangan utama, terutama saat momen libur Lebaran Idulfitri.

Dari yang manis hingga gurih, berikut beberapa camilan khas Garut yang masih populer hingga sekarang. Cocok untuk dijadikan buah tangan saat kembali ke kota besar. Simak yuk!

ADVERTISEMENT

8 Camilan Khas Garut Legendaris yang Wajib Dicoba

1. Dodol Garut

Nama Garut hampir selalu identik dengan dodol. Makanan manis bertekstur kenyal ini sudah lama menjadi ikon kuliner daerah tersebut dan paling sering diburu wisatawan sebagai buah tangan.

Dodol Garut dibuat dari campuran tepung beras ketan, gula merah, dan santan kelapa yang dimasak dalam waktu lama hingga mengental dan menghasilkan tekstur kenyal. Proses pembuatannya cukup panjang karena adonan harus terus diaduk agar tidak gosong.

Rasanya manis legit dengan aroma khas gula merah. Kini dodol juga hadir dalam berbagai varian rasa seperti cokelat, nanas, durian, hingga stroberi untuk mengikuti selera modern.

Harga dodol Garut biasanya berkisar Rp15.000 hingga Rp60.000 per kotak, tergantung ukuran dan mereknya. Pada beberapa sentra oleh-oleh, ada juga yang dijual dalam kemasan per kilogram. Makanan ini mudah ditemukan di berbagai toko oleh-oleh di pusat Kota Garut, terutama di kawasan Tarogong yang dikenal sebagai sentra produksi dodol.

2. Burayot

Salah satu camilan khas Garut yang memiliki nama unik adalah burayot. Dalam bahasa Sunda, kata 'burayot' berarti menggantung atau keriput, yang menggambarkan bentuk kue ini setelah digoreng.

Burayot dibuat dari beras merah, gula merah, dan kacang tanah. Ada juga yang menggunakan kacang merah. Menurut laman jadesta.kemenpar.go.id, semua adonan seperti beras ditumbuk menjadi tepung, juga kacang merah yang sebelumnya telah disangrai, ditumbuk pula, dicampur dengan gula dan air sehingga menjadi adonan.

Adonan tersebut digoreng hingga mengembang lalu mengerut di bagian tengah, sehingga tampilannya khas. Cara menggorengnya juga unik, yaitu menggunakan sebatang bambu untuk membuat bentuknya 'ngagayot' atau menggantung sehingga terciptalah bentuk (nga)burayot.

Saat disantap, teksturnya sedikit kenyal dengan rasa manis legit dari gula merah. Aroma kacang juga memberikan sensasi gurih yang membuat camilan ini semakin nikmat. Sekali santap, dijamin tak mau berhenti.

Burayot banyak dijumpai di Kecamatan Leles, meski di pusat kota Garut juga ada yang menjualnya. Namun, Leles dianggap sebagai salah satu daerah yang dikenal sebagai tempat asal camilan ini. Harganya cukup terjangkau, sekitar Rp10.000 hingga Rp20.000 per bungkus, sehingga sering dibeli sebagai jajanan tradisional. Penjualnya banyak membuka lapak di pinggir jalan utama Garut-Bandung.

3. Ladu

Jika sekilas dilihat, ladu memang mirip dodol. Namun camilan khas dari Kecamatan Malangbong ini memiliki tekstur yang sedikit berbeda. Ladu dibuat dari beras ketan yang dicampur dengan gula aren atau gula kelapa, kemudian dimasak hingga padat.

Camilan ini punya tekstur lebih padat dibanding dodol, tetapi tetap lembut ketika digigit. Dengan demikian, kudapan ini lebih cepat membuat kenyang penyantapnya.

Rasanya juga manis dengan aroma gula aren yang khas. Ladu yang dicetak berbentuk silinder panjang disajikan dalam potongan di atas piring. Potongannya biasanya kecil-kecil sehingga mudah dimakan sebagai camilan.

Ladu? Teringat apa ya kalau mendengar kata itu? Tapi sebenarnya, kata 'Ladu' mewakili teksturnya yang lembut seperti suatu makanan yang sangat matang sehingga sangat lembut. Menurut kamus Sundadigi, 'ladu' adalah dialek khusus untuk menyebut 'dalu'. Dalu sendiri punya arti 'sangat matang'.

Harga ladu relatif murah, berkisar Rp15.000 sampai Rp30.000 per kemasan, tergantung kualitasnya. Camilan ini biasanya dijual di pasar tradisional Malangbong atau toko oleh-oleh di Garut.

4. Wajit

Camilan tradisional lain yang cukup populer di Garut adalah wajit. Makanan ini dibuat dari beras ketan, gula merah, dan kelapa parut yang dimasak hingga padat.

Perbedaan paling tegas dari dodol, wajit punya tekstur lebih kasar dan banyak yang merupakan olahan dari buah-buahan seperti nangka atau kacang-kacangan seperti kacang merah.

Ciri khas lain wajit adalah cara pembungkusannya. Setelah matang, wajit biasanya dibungkus menggunakan daun jagung kering, sehingga memberikan aroma alami yang khas.

Rasanya manis legit dengan tekstur kenyal serta serat bahan dasar yang masih terasa di lidah. Wajit sering disajikan sebagai camilan keluarga atau hidangan saat acara tradisional. Cocok pula dijadikan oleh-oleh Lebaran.

Harga wajit berkisar Rp25.000 hingga Rp40.000 per bungkus, tergantung gramasi, dan bisa ditemukan di pasar tradisional maupun toko oleh-oleh Garut. Sentra oleh-oleh di Tarogong banyak menyediakan camilan ini.

5. Angleng

Sekilas, angleng tampak mirip dengan wajit. Keduanya bahkan menggunakan bahan yang hampir sama, yaitu beras ketan, gula merah, dan kelapa.

Perbedaannya terletak pada proses pengolahan dan teksturnya. Angleng biasanya memiliki tekstur lebih ringan dan tidak terlalu kenyal. Camilan ini juga dibungkus menggunakan daun jagung, sehingga tampilannya sederhana namun khas.

Angleng juga sedikit berminyak. Karenanya, ketika bungkus daun jagung dibuka, jarang ada bagian angleng yang menempel pada bungkus tersebut. Mulus saat dibuka.

Angleng bisa ditemukan di berbagai toko oleh-oleh di Garut dengan harga sekitar Rp25.000 hingga Rp50.000 per bungkus tergantung gramasi. Umumnya harga tersebut untuk ukuran 1 kilogram.

6. Endog Lewo

Endog dalam bahasa Sunda adalah telur. Tapi, Endog Lewo bukan berbahan dasar telur. Camilan khas Garut yang satu ini memiliki bentuk yang cukup unik, yaitu menyerupai telur.

Endog lewo secara harfiah berarti 'telur lewo'. Dinamai 'endog' karena bentuknya seperti telur merpati yang bulat kecil. Sementara 'lewo' adalah nama tempat asal camilan ini, yaitu Lewo, sebuah wilayah di dekat Malangbong.

Endog Lewo dibuat dari bahan utama singkong yang diolah kemudian digoreng. Teksturnya renyah dari bagian luar hingga ke dalam. Rasanya gurih dengan sedikit sentuhan manis dan pedas, tergantung bumbu akhir yang disematkan.

Harga endog lewo biasanya sekitar Rp35.000 per kilogram. Kudapan khas ini, yang bahkan tersedia dalam varian rasa daun jeruk, sering dijadikan camilan ringan sehari-hari maupun oleh-oleh.

7. Moring

Selain camilan manis, Garut juga memiliki makanan ringan gurih-pedas yang dikenal dengan nama moring. Moring merupakan sejenis keripik yang dibuat dari adonan tepung dan bumbu khas, kemudian digoreng hingga kering dan renyah.

Rasanya gurih dan sedikit asin sehingga cocok dijadikan teman minum teh atau kopi. Ada juga varian rasa pedas. Bentuknya unik, seukuran uang koin. Namun, karena proses penggorengan, bentuknya tidak sepenuhnya pipih dan terkadang melengkung tidak beraturan.

Camilan ini biasanya dijual dalam kemasan sederhana dengan harga sekitar Rp10.000 untuk kemasan kecil, hingga Rp30.000 untuk kemasan setengah kilogram. Camilan ini mudah ditemukan di toko oleh-oleh atau pasar tradisional.

8. Opak

Terakhir ada opak, camilan tradisional yang juga cukup populer di berbagai daerah Sunda, termasuk Garut. Opak dibuat dari beras ketan yang ditumbuk, dikukus, lalu dikeringkan sebelum dipanggang. Proses tersebut menghasilkan tekstur yang tipis dan renyah. Rasanya gurih dengan aroma ketan yang khas. Opak sering dimakan sebagai camilan santai atau pelengkap makanan utama.

Namun, ada juga yang disebut opak namun berbahan dasar singkong. Jenis ini lebih tipis dari opak ketan dan biasanya dinamakan 'Elod'. Opak ini jarang dipanggang, melainkan langsung digoreng untuk penyajiannya.

Harga opak cukup terjangkau, sekitar Rp25.000 per bungkus kemasan 1 ons untuk opak ketan, dan Rp40.000 untuk opak singkong per 100 keping. Opak bisa ditemukan di pasar tradisional maupun sentra oleh-oleh Garut.

Demikian detikers, beragam camilan khas Garut yang menunjukkan betapa kaya tradisi kuliner masyarakat Sunda di wilayah itu. Meski dibuat dari bahan sederhana, setiap makanan memiliki cerita dan cita rasa yang khas.

Masyarakat Garut terus berinovasi dalam hal camilan dan kuliner secara umum. Bakso aci khas Garut yang tersohor itu merupakan bagian dari daya cipta warga setempat. Bagi detikers yang berkunjung ke Garut, mencicipi atau membawa pulang camilan-camilan ini bukan sekadar membeli oleh-oleh, tetapi juga menikmati warisan kuliner yang telah bertahan dari generasi ke generasi.

Halaman 2 dari 2
(orb/orb)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads