Selain karena alamnya, Kabupaten Garut juga dikenal luas karena beragam kulinernya yang khas. Jika sedang berada di Garut, jangan lewatkan untuk mencicipi beragam jajanan legendaris asal kota berjuluk Swiss van Java berikut ini.
Ada beragam panganan khas, yang berasal dari Kabupaten Garut. Tidak melulu soal baso aci dan dodol, ada juga banyak makanan legendaris yang telah eksis sedari dulu dan menjadi kesukaan masyarakat.
detikJabar merangkum, berikut ini merupakan 5 jajanan legendaris asal Garut, yang menarik untuk dijajal oleh kalian, detikers, yang sedang berada di Garut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Es Goyobod
Yang pertama, adalah es goyobod. Sederhananya, es goyobod merupakan es campurnya Jawa Barat. Goyobod terbuat dari tepung beras, yang diidangkan dengan beragam toping dengan rasa yang manis dan gurih.
Es goyobod merupakan kudapan yang lezat. Cocok disantap, setelah mulut 'kebakaran' setelah menyantap beragam kuliner asal Garut seperti baso aci hingga seblak yang rasanya pedas.
Segelas es goyobod ini berisi goyobod itu sendiri, yang terbuat dari tepung beras. Biasanya berwarna ungu gelap. Goyobod ditemani parutan kelapa yang tidak terlalu muda, alpukat, hingga kental manis dan gula cair.
Dessert ini diyakini telah eksis sejak tahun 1940-an. Seporsi goyobod, dibanderol tak sampai Rp 10 ribu saja. Jika ingin menyantap makanan yang satu ini, banyak pedagang es goyobod yang dengan mudah dijumpai di sekitaran Perkotaan Garut, serta di kawasan Alun-alun.
Rujak Laksana Garut. Foto: Hakim Ghani |
Rujak Laksana
Di Jalan Siliwangi, Kecamatan Garut Kota, tepatnya di depan toko pakaian Citra Agung, 500 meter arah Timur Pendopo, ada sebuah gerobak berwarna cokelat yang menjajakan rujak. Bukan sembarang rujak, melainkan rujak cuka legendaris yang sudah berjualan sejak tahun 1980-an.
Namanya adalah Rujak Laksana. Rujak cuka ini dibuat dari berbagai jenis buah-buahan segar. Dari mulai jambu merah, bengkuang, nanas, ubi hingga mangga muda. Dilengkapi dengan topping kacang, serta kuah dari cuka dan gula merah.
Perpaduan cuka, cabai, air hingga gula merah asli yang kental membuat rasanya pecah di mulut. Beragam rasa bercampur-aduk di mulut saat menyantapnya. Rujak Laksana ini dihargai Rp 10 ribu saja. Jangan lupa menyantapnya dengan kerupuk mi, yang juga dijual di sana.
"Mulai jualan dari tahun 82. Waktu itu, bapak saya yang pertama kali jualan. Saya masih SD," ungkap Yana, generasi kedua pedagang Rujak Laksana kepada detikJabar beberapa waktu lalu.
Surabi Jalan Papandayan
Selanjutnya ada serabi, atau yang oleh masyarakat Sunda dilafalkan surabi, yang legendaris di Garut. Dikatakan legendaris, karena telah eksis sejak tahun 1960-an.
Surabi Papandayan namanya. Bukan berasal dari nama gunung yang terkenal di Garut, dikatakan Surabi Papandayan, karena lokasi lapaknya yang persis berada di perempatan Jalan Papandayan, di Kecamatan Garut Kota.
Surabi Papandayan sudah buka sejak pagi buta. Dari jam 4 subuh mereka berdagang, surabi yang disajikan biasanya ludes sekitar jam 8 pagi. Surabi dimasak langsung dengan tungku dari arang yang berderet di trotoar. Banyak pembeli yang sengaja datang langsung untuk menyaksikan proses pembuatannya. satisfying.
Serabi di Surabi Papandayan ini, dibanderol mulai dari harga Rp 5 ribuan saja. Tergantung topping surabi yang dipilih. Mulai dari telur, keju hingga susu dan cokelat. Rasanya unik karena menggunakan resep legendaris keluarga yang turun-temurun. Jika tak ingin kehabisan, detikers bisa datang sebelum jam 7 pagi ke tempat ini.
Kue Balok Maranti
Kue balok adalah camilan yang khas dan ikonik di wilayah Kecamatan Kadungora, Garut. Wilayah ini, pasti dilintasi pengguna jalan yang datang ke Garut dari Bandung via Nagreg. Rasa kue balok khas Garut ini manis, legit dan lumer di mulut.
Ada banyak penjaja kue balok di wilayah Kadungora. Salah satu yang paling legendaris, adalah kue balok Maranti. Dikutip dari laman resmi Pemprov Jabar, kue balok Maranti diketahui telah dijual sejak tahun 1942, oleh pemiliknya yang bernama Sopandi Hidayat.
Ada beberapa varian rasa yang dijajakan. Mulai dari original, keju, hingga cokelat. Bisa request dimasak matang, atau setengah matang tergantung selera. Rasanya khas, dengan tekstur lembut. Rasa keju setengah matang menjadi primadona selain original, karena rasanya yang lumer di Garut.
Seporsi kue balok Maranti dibanderol mulai dari Rp 25 ribuan saja, tergantung varian rasa dan banyaknya kue yang dipesan. Warung kue balok Maranti yang sederhana di Kadungora ini, buka 24 jam. Siap untuk menyambut siapapun di jam berapapun.
Lapak Surabi Papandayan yang ikonik dan legendaris di Garut. Foto: Hakim Ghani/detikJabar |
Kopi Ipo
Terakhir, ada Kopi Ipo dengan nama warung Ipo Morning. Warung kopi ini merupakan salah satu yang legendaris di Kabupaten Garut, karena diyakini telah eksis sejak tahun 1950-an, oleh pemiliknya, Haji Ipo.
Jangan bayangkan tempatnya luas dan megah. Karena Kopi Ipo, dijual di sebuah kedai ngumpet di antara Kantor Bank BRI dan toko emas di Jalan Ahmad Yani, nomor 69, Garut Kota.
Ada dua varian kopi yang dijajakan. Yakni kopi hitam, serta kopi susu. Harganya dibanderol mulai dari Rp 20 ribuan saja. Mayoritas pelanggan Kopi Ipo, adalah para pelanggan setia yang telah ngopi di tempat ini belasan hingga puluhan tahun. Tapi, banyak juga pendatang yang datang karena penasaran untuk menjajal kopinya.
Rasanya unik, khas kopi Garut. Di tempat kopi ini, pembeli bisa melihat secara langsung proses penyeduhan kopinya yang juga unik. Disebut unik karena, konon katanya, jika biang kopi dibawa pulang dan pembeli menyeduhnya sendiri di rumah, rasanya tidak sama dengan yang diidangkan langsung di Ipo Morning.
(sud/sud)












































