Serba-serbi Warga

Mesin Jahit di Atas Sepeda, Harapan Pais untuk Keluarga

Burhannudin - detikJabar
Senin, 26 Okt 2026 11:00 WIB
Pais, penjahit keliling yang sedang melakukan pekerjaan di pinggiran jalan Indramayu. (Foto: Burhannudin/detikJabar)
Indramayu -

Di tengah hiruk-pikuk jalanan Kota Indramayu, sebuah sepeda dengan mesin jahit di bagian depannya melintas dari satu ruas jalan ke ruas lainnya. Kendaraan sederhana itu bukan sekadar alat transportasi, melainkan juga tempat seorang pemuda menggantungkan harapan untuk menghidupi keluarganya.

Dia adalah Pais (28), pemuda asal Desa Kedungwungu, Kecamatan Krangkeng, Kabupaten Indramayu, yang memilih menekuni profesi sebagai penjahit keliling. Di saat pekerjaan ini mungkin dipandang sebelah mata oleh sebagian anak muda, Pais justru menjadikan jalanan untuk mencari nafkah bagi istri dan anaknya.

Baginya, tidak ada pekerjaan yang terlalu rendah selama bisa mendatangkan rezeki halal. Setiap hari, ia mengayuh sepeda modifikasinya menyusuri jalanan kota, berharap ada pakaian warga yang perlu diperbaiki.

"Alhamdulillah rezeki, sih, ada saja, kebutuhan keluarga juga bisa tercukupi, buktinya saya masih bertahan sampai sekarang," ujar Pais saat ditemui ketika melayani pelanggan di Jalan Tridaya Barat, Indramayu, Selasa (20/10/2026).

Berawal dari Lingkungan Keluarga

Keterampilan menjahit yang kini menjadi sumber penghidupannya bukan datang secara tiba-tiba. Pais tumbuh dalam keluarga yang sebagian besar anggotanya berprofesi sebagai penjahit. Sejak kecil, ia sudah akrab dengan suara mesin jahit dan aktivitas memperbaiki pakaian.

Lingkungan keluarga itulah yang perlahan membentuk kemampuannya. Setelah menyelesaikan pendidikan SMA, Pais memutuskan untuk menekuni pekerjaan tersebut secara penuh pada 2018.

Tanpa harus membuka toko atau menyewa bangunan, ia memilih cara yang lebih sederhana: membawa mesin jahit ke mana pun pelanggan berada.

Sudah sekitar delapan tahun ia menjalani pekerjaan tersebut. Modal utamanya hanya sepeda yang dimodifikasi dengan rangka becak di bagian depan. Di atas rangka itulah mesin jahit manual ditempatkan, lengkap dengan benang warna-warni, gunting, jarum, dan perlengkapan pendukung lainnya.

Bagi Pais, sepeda tersebut sudah menjadi bengkel kerja sekaligus teman setia dalam mencari nafkah.

Setiap hari, ia berkeliling menyusuri sejumlah kawasan di Indramayu. Tidak ada rute khusus yang harus selalu diikuti. Ia bergerak mengikuti peluang, dari satu tempat ke tempat lain, sembari berharap menemukan pelanggan yang membutuhkan jasanya.

"Rutenya, mah, bebas, muter saja. Kadang ke daerah Samsu, kadang ke sini (Jalan Tridaya Barat), ke mana saja pokoknya," tutur Pais.

Berbekal Jarum, Benang, dan Kecepatan Tangan

Siang itu, Pais terlihat menangani sejumlah pakaian milik seorang pelanggan. Sekitar lima potong pakaian akan diperbaiki. Kerusakannya tergolong ringan, seperti lubang dan robekan pada bagian tengah celana.

Dengan cekatan, Pais menggerakkan tangan dan mengoperasikan mesin jahit manualnya. Tidak sampai sepuluh menit, pekerjaan itu selesai. Pakaian yang semula berlubang kembali rapi dan siap digunakan.

Kecepatan tersebut bukan tanpa alasan. Pengalaman bertahun-tahun membuatnya terbiasa menghadapi berbagai kerusakan ringan pada pakaian.

"Sudah biasa, keluarga di rumah juga banyak yang jadi tukang jahit, belajar dari situ," katanya.

Ia mampu memperbaiki beragam jenis pakaian, mulai dari kaus, kemeja, hingga celana berbahan kain. Namun, untuk pakaian tertentu seperti jas, Pais mengaku belum memiliki keterampilan yang cukup.

Untuk urusan tarif, ia berusaha menjaga agar jasanya tetap terjangkau. Menambal pakaian yang berlubang dikenakan biaya sekitar Rp3.000 hingga Rp5.000 per potong. Sementara itu, jasa memotong celana atau melakukan perbaikan ringan sejenisnya dipatok sekitar Rp10.000.

Nilai yang dibayarkan pelanggan mungkin tidak besar. Namun, bagi Pais, setiap lembar pakaian yang selesai diperbaiki berarti tambahan pemasukan untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.

Memilih Berkeliling daripada Menunggu Pelanggan

Keputusan Pais mencari nafkah di pusat Kota Indramayu bukan tanpa pertimbangan. Ia menilai kawasan perkotaan menawarkan peluang yang lebih baik, dibandingkan kampung halamannya yang berbatasan dengan Kabupaten Cirebon.

Demi mendekati calon pelanggan, ia bahkan memilih tinggal di rumah kos di Indramayu. Ia tinggal bersama tiga rekan sekampung yang juga berprofesi sebagai penjahit keliling.

Menurutnya, para penjahit keliling lainnya juga tersebar di sejumlah tempat kos. Di kawasan Tembaga, misalnya, terdapat sekitar enam orang yang menjalani pekerjaan serupa.

"Di kosan kita ada bertiga, semuanya juga penjahit keliling. Ada juga tukang jahit keliling yang mengekos di Tembaga, itu ada enam orang di sana," ungkapnya.

Bagi Pais, sistem berkeliling memberikan keuntungan tersendiri. Ia tidak harus menunggu pelanggan datang, tetapi bisa mendekatkan jasanya kepada masyarakat yang membutuhkan.

Pengalaman seorang rekannya yang pernah menyewa tempat usaha juga menjadi pertimbangan. Usaha tersebut dinilai kurang ramai sehingga rekannya kembali menjahit secara keliling.

"Pernah teman coba nyewa tempat, tapi sepi. Akhirnya keliling lagi. Lebih menjanjikan keliling. Soalnya kadang orang malas ke tempat," ujarnya.

Selain mendatangi pelanggan secara langsung, Pais juga menerima pesanan panggilan. Sejumlah pelanggan memilih menghubunginya terlebih dahulu melalui telepon agar ia datang ke lokasi mereka.

Cara tersebut membuat jangkauan pelanggannya semakin luas. Selama pekerjaan masih memungkinkan untuk dilakukan, ia bersedia menempuh perjalanan demi memenuhi permintaan.




(sud/sud)

Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork