Di tengah hiruk-pikuk jalanan Kota Indramayu, sebuah sepeda dengan mesin jahit di bagian depannya melintas dari satu ruas jalan ke ruas lainnya. Kendaraan sederhana itu bukan sekadar alat transportasi, melainkan juga tempat seorang pemuda menggantungkan harapan untuk menghidupi keluarganya.
Dia adalah Pais (28), pemuda asal Desa Kedungwungu, Kecamatan Krangkeng, Kabupaten Indramayu, yang memilih menekuni profesi sebagai penjahit keliling. Di saat pekerjaan ini mungkin dipandang sebelah mata oleh sebagian anak muda, Pais justru menjadikan jalanan untuk mencari nafkah bagi istri dan anaknya.
Baginya, tidak ada pekerjaan yang terlalu rendah selama bisa mendatangkan rezeki halal. Setiap hari, ia mengayuh sepeda modifikasinya menyusuri jalanan kota, berharap ada pakaian warga yang perlu diperbaiki.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Alhamdulillah rezeki, sih, ada saja, kebutuhan keluarga juga bisa tercukupi, buktinya saya masih bertahan sampai sekarang," ujar Pais saat ditemui ketika melayani pelanggan di Jalan Tridaya Barat, Indramayu, Selasa (20/10/2026).
Berawal dari Lingkungan Keluarga
Keterampilan menjahit yang kini menjadi sumber penghidupannya bukan datang secara tiba-tiba. Pais tumbuh dalam keluarga yang sebagian besar anggotanya berprofesi sebagai penjahit. Sejak kecil, ia sudah akrab dengan suara mesin jahit dan aktivitas memperbaiki pakaian.
Lingkungan keluarga itulah yang perlahan membentuk kemampuannya. Setelah menyelesaikan pendidikan SMA, Pais memutuskan untuk menekuni pekerjaan tersebut secara penuh pada 2018.
Tanpa harus membuka toko atau menyewa bangunan, ia memilih cara yang lebih sederhana: membawa mesin jahit ke mana pun pelanggan berada.
Sudah sekitar delapan tahun ia menjalani pekerjaan tersebut. Modal utamanya hanya sepeda yang dimodifikasi dengan rangka becak di bagian depan. Di atas rangka itulah mesin jahit manual ditempatkan, lengkap dengan benang warna-warni, gunting, jarum, dan perlengkapan pendukung lainnya.
Bagi Pais, sepeda tersebut sudah menjadi bengkel kerja sekaligus teman setia dalam mencari nafkah.
Setiap hari, ia berkeliling menyusuri sejumlah kawasan di Indramayu. Tidak ada rute khusus yang harus selalu diikuti. Ia bergerak mengikuti peluang, dari satu tempat ke tempat lain, sembari berharap menemukan pelanggan yang membutuhkan jasanya.
"Rutenya, mah, bebas, muter saja. Kadang ke daerah Samsu, kadang ke sini (Jalan Tridaya Barat), ke mana saja pokoknya," tutur Pais.
Berbekal Jarum, Benang, dan Kecepatan Tangan
Siang itu, Pais terlihat menangani sejumlah pakaian milik seorang pelanggan. Sekitar lima potong pakaian akan diperbaiki. Kerusakannya tergolong ringan, seperti lubang dan robekan pada bagian tengah celana.
Dengan cekatan, Pais menggerakkan tangan dan mengoperasikan mesin jahit manualnya. Tidak sampai sepuluh menit, pekerjaan itu selesai. Pakaian yang semula berlubang kembali rapi dan siap digunakan.
Kecepatan tersebut bukan tanpa alasan. Pengalaman bertahun-tahun membuatnya terbiasa menghadapi berbagai kerusakan ringan pada pakaian.
"Sudah biasa, keluarga di rumah juga banyak yang jadi tukang jahit, belajar dari situ," katanya.
Ia mampu memperbaiki beragam jenis pakaian, mulai dari kaus, kemeja, hingga celana berbahan kain. Namun, untuk pakaian tertentu seperti jas, Pais mengaku belum memiliki keterampilan yang cukup.
Untuk urusan tarif, ia berusaha menjaga agar jasanya tetap terjangkau. Menambal pakaian yang berlubang dikenakan biaya sekitar Rp3.000 hingga Rp5.000 per potong. Sementara itu, jasa memotong celana atau melakukan perbaikan ringan sejenisnya dipatok sekitar Rp10.000.
Nilai yang dibayarkan pelanggan mungkin tidak besar. Namun, bagi Pais, setiap lembar pakaian yang selesai diperbaiki berarti tambahan pemasukan untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.
Memilih Berkeliling daripada Menunggu Pelanggan
Keputusan Pais mencari nafkah di pusat Kota Indramayu bukan tanpa pertimbangan. Ia menilai kawasan perkotaan menawarkan peluang yang lebih baik, dibandingkan kampung halamannya yang berbatasan dengan Kabupaten Cirebon.
Demi mendekati calon pelanggan, ia bahkan memilih tinggal di rumah kos di Indramayu. Ia tinggal bersama tiga rekan sekampung yang juga berprofesi sebagai penjahit keliling.
Menurutnya, para penjahit keliling lainnya juga tersebar di sejumlah tempat kos. Di kawasan Tembaga, misalnya, terdapat sekitar enam orang yang menjalani pekerjaan serupa.
"Di kosan kita ada bertiga, semuanya juga penjahit keliling. Ada juga tukang jahit keliling yang mengekos di Tembaga, itu ada enam orang di sana," ungkapnya.
Bagi Pais, sistem berkeliling memberikan keuntungan tersendiri. Ia tidak harus menunggu pelanggan datang, tetapi bisa mendekatkan jasanya kepada masyarakat yang membutuhkan.
Pengalaman seorang rekannya yang pernah menyewa tempat usaha juga menjadi pertimbangan. Usaha tersebut dinilai kurang ramai sehingga rekannya kembali menjahit secara keliling.
"Pernah teman coba nyewa tempat, tapi sepi. Akhirnya keliling lagi. Lebih menjanjikan keliling. Soalnya kadang orang malas ke tempat," ujarnya.
Selain mendatangi pelanggan secara langsung, Pais juga menerima pesanan panggilan. Sejumlah pelanggan memilih menghubunginya terlebih dahulu melalui telepon agar ia datang ke lokasi mereka.
Cara tersebut membuat jangkauan pelanggannya semakin luas. Selama pekerjaan masih memungkinkan untuk dilakukan, ia bersedia menempuh perjalanan demi memenuhi permintaan.
Terik Matahari dan Hujan Menjadi Ujian
Meski terlihat sederhana, pekerjaan sebagai penjahit keliling bukan tanpa kesulitan. Pais harus menghadapi panas matahari ketika mengayuh sepeda menyusuri jalanan, sekaligus menerima kenyataan bahwa jumlah pelanggan dan penghasilannya tidak selalu sama setiap hari.
Cuaca menjadi salah satu faktor yang sangat menentukan aktivitasnya. Ketika matahari bersinar, ia bisa lebih leluasa berkeliling mencari pelanggan. Namun, situasinya berubah saat musim hujan tiba.
Jalanan yang basah dan hujan yang turun membuat pergerakannya terbatas. Ia terpaksa berhenti dan mencari tempat berteduh, sementara kesempatan mendapatkan pelanggan ikut berkurang.
"Yang berat kalau lagi musim hujan, soalnya susah keliling. Tapi kalau musim panas alhamdulillah, ada saja rezekinya," katanya.
Kendati demikian, Pais tidak menjadikan keadaan tersebut sebagai alasan untuk menyerah. Ia tetap menjalani pekerjaannya dengan keyakinan; bahwa setiap hari selalu memiliki peluang untuk memperoleh penghasilan.
Dari Hasil Jahitan, Anak Bisa Sekolah
Di balik rutinitas mengayuh sepeda dan memperbaiki pakaian, ada tanggung jawab besar yang terus ia pikul. Pais kini telah memiliki seorang anak berusia tujuh tahun yang duduk di kelas dua sekolah dasar.
Kebutuhan rumah tangga, biaya pendidikan, buku pelajaran, hingga seragam sekolah menjadi bagian dari pengeluaran yang harus dipenuhinya.
Dari penghasilannya sebagai penjahit keliling, Pais bersyukur masih mampu memenuhi kebutuhan keluarga kecilnya. Walaupun pendapatan tidak selalu menentu, ia merasa pekerjaannya selama ini telah memberikan hasil yang berarti.
"Alhamdulillah cukup buat keluarga. Anak juga bisa sekolah, buat beli buku, beli seragamnya," ucapnya sambil tersenyum.
Senyum itu seolah menggambarkan rasa lega, seorang ayah yang terus berusaha agar anaknya tetap mendapatkan pendidikan dan kehidupan yang layak.
Bagi Pais, keberhasilan bukan semata-mata tentang memiliki toko besar atau pekerjaan dengan penghasilan tinggi. Bisa membawa pulang uang untuk kebutuhan sehari-hari dan memastikan anaknya tetap bersekolah sudah menjadi kebahagiaan tersendiri.
Di jalanan Indramayu, Pais mungkin hanya terlihat sebagai penjahit yang mengayuh sepeda dengan mesin jahit sederhana. Namun, di balik aktivitasnya itu, ada ketekunan seorang pekerja yang memilih berjuang daripada menyerah pada keadaan.
Setiap tusukan jarum menyatukan kembali kain yang robek. Setiap putaran roda membawanya mencari pundi-pundi rupiah. Dan setiap pakaian yang berhasil diperbaiki menjadi bagian dari upayanya menjaga dapur tetap mengepul, serta masa depan anaknya tetap terbuka.
Pais tidak sedang mengejar kemewahan. Ia hanya ingin terus bekerja, memperoleh rezeki yang halal, dan memastikan keluarganya bisa menjalani kehidupan dengan layak. Dari sepeda sederhana dan mesin jahit manual itulah, ia merawat harapan yang paling berharga: masa depan keluarganya.
Dan yang paling utama, ia berharap agar kesehatan jasmaninya selalu terjaga, demi perputaran roda ekonomi keluarganya.
"Saya berharap selalu diberi kesehatan, karena kalau sehari saja enggak berangkat (keliling), itu sangat terasa kurangnya biaya kebutuhan keluarga sehari-hari," pungkasnya.
