Menolak Renta, Perjuangan Kuli Pengki Indramayu Cari Nafkah

Serba-serbi Warga

Menolak Renta, Perjuangan Kuli Pengki Indramayu Cari Nafkah

Burhannudin - detikJabar
Jumat, 31 Jul 2026 12:30 WIB
Rombongan kuli pengki sedang mangkal di trotoar depan Masjid Agung Indramayu, Kamis (30/7/2026).
Rombongan kuli pengki sedang mangkal di trotoar depan Masjid Agung Indramayu, Kamis (30/7/2026). (Foto: Burhannudin)
Indramayu -

Pagi yang masih diselimuti embun ketika sebagian besar orang masih menikmati hangatnya tempat tidur. Sementara itu, Suyani telah mengayuh sepeda tuanya menyusuri jalan dari Desa Tugu, Kecamatan Sliyeg, menuju wilayah kota Indramayu.

Sekitar pukul 05.30 WIB, Suyani mulai menempuh perjalanannya setiap hari. Bukan untuk berolahraga atau sekadar mencari udara segar, melainkan mengejar harapan: semoga hari itu ada orang yang membutuhkan tenaganya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Usia Suyani telah melewati enam puluh tahun. Namun, usia tidak memberinya kemewahan untuk berhenti bekerja. Sebelum tiba di tempat mangkal, ia biasanya berhenti sejenak di pinggir jalan. Sebatang rokok kretek menjadi teman istirahat singkat, sebelum kembali mengayuh sepeda menuju trotoar di samping Masjid Agung Indramayu.

Di sanalah para kuli pengki berkumpul setiap pagi.

ADVERTISEMENT

Pengki adalah alat sederhana yang terbuat dari anyaman bambu untuk mengangkut pasir, tanah, batu, atau material lainnya. Nama alat itu kemudian melekat pada profesi mereka.

Berbekal pengki, cangkul, pikulan, hingga sepeda tua, mereka menunggu siapa saja yang membutuhkan tenaga kasar untuk membersihkan halaman, mengangkut material bangunan, menggali saluran, atau pekerjaan fisik lainnya.

Sebagian besar dari mereka bukan lagi anak muda. Rambut yang memutih dan tubuh yang mulai renta menjadi pemandangan biasa di tempat mangkal itu. Meski demikian, semangat mereka tetap menyala. Mereka sadar, tenaga adalah satu-satunya modal yang masih mereka miliki.

Selain Suyani, salah seorang lainnya adalah Darpan.

Pria berusia 64 tahun asal Desa Tugu itu telah puluhan tahun menjadi kuli pengki. Sebelum pulang ke Indramayu, ia pernah bekerja di Jakarta sebagai buruh bangunan. Namun perubahan zaman memaksanya kembali ke kampung halaman.

"Dulu di Jakarta masih banyak pekerjaan yang memakai tenaga manusia secara manual. Sekarang sudah pakai mesin semua," tuturnya kepada detikJabar, Kamis (30/7/2026).

Teknologi memang membuat pekerjaan menjadi lebih cepat dan efisien. Namun, di sisi lain, perubahan itu juga menggeser ruang hidup para pekerja kasar yang selama puluhan tahun menggantungkan hidup pada tenaga fisik.

Di Indramayu, Darpan kembali memulai dari nol. Setiap pagi ia datang ke tempat mangkal tanpa kepastian akan memperoleh pekerjaan. Baginya, profesi sebagai kuli pengki adalah soal ikhtiar.

"Namanya juga kuli keliling. Tidak ada jaminan setiap hari dapat pekerjaan," katanya.

Ada hari ketika ia pulang dengan tangan hampa. Namun keadaan itu tidak membuatnya memilih tinggal di rumah.

"Daripada saya di rumah tidur-tiduran, lebih baik tetap berangkat. Siapa tahu ada yang membutuhkan," harapnya.

Kalimat sederhana itu menggambarkan cara pandang yang mungkin mulai langka di tengah masyarakat modern: bekerja bukan hanya tentang penghasilan, tetapi juga tentang menjaga harga diri.

Pekerjaan yang diterima pun beragam. Mulai dari mengangkut pasir dan batu, menggali septic tank, membersihkan saluran air, hingga membantu pekerjaan bangunan lainnya.

Jika pekerjaan datang secara borongan, penghasilannya bisa mencapai sekitar Rp400 ribu dalam sehari. Namun kesempatan seperti itu tidak selalu datang.

Lebih sering, mereka hanya duduk di trotoar sambil menunggu seseorang menghampiri.

Darpan masih harus menghidupi keluarganya. Ia memiliki dua anak. Anak pertamanya telah berkeluarga, sementara anak keduanya masih berusia sekitar sepuluh tahun dan masih membutuhkan biaya sekolah.

Kisah serupa juga dialami Suyani.

Selama lebih dari dua puluh tahun, ia menggantungkan hidup dari profesi sebagai kuli pengki. Salah satu pelanggan tetapnya adalah seorang warga yang setiap bulan memanggilnya untuk membersihkan rumput dan halaman rumah.

Pekerjaan itu tampak sederhana. Namun di balik gerakan mencabut rumput, menyapu halaman, atau mengangkut sampah kebun, tersimpan ketekunan yang dibangun selama puluhan tahun.

Bagi Suyani, setiap panggilan kerja berarti tambahan penghasilan untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

Usianya memang tak lagi muda. Jiwanya tergerak sebab ada kebutuhan yang harus dipenuhi. Menurutnya, selama tubuh masih mampu bergerak, pekerjaan akan terus dijalani.

"Menggawe mah apa bae. (Bekerja itu apa saja)," tutur Suyani singkat Kepada detikJabar, Kamis (30/7/2026).

Setelah pekerjaan selesai, para kuli pengki biasanya kembali berkumpul di tempat mangkal. Mereka berbincang ringan, bercanda, atau sekadar beristirahat sebelum pulang. Esok pagi, rutinitas itu akan kembali terulang.

Di tengah derasnya arus modernisasi, profesi kuli pengki perlahan mulai tersisih. Mesin-mesin konstruksi mengambil alih banyak pekerjaan yang dahulu mengandalkan tenaga manusia. Namun bagi para lelaki tua itu, perubahan zaman bukan alasan untuk menyerah.

Mereka tetap datang setiap pagi, membawa pengki, cangkul, dan harapan.

Sebab bagi mereka, bekerja bukan sekadar mencari nafkah. Bekerja adalah cara mempertahankan martabat, membuktikan bahwa usia tidak selalu mengalahkan semangat, dan menunjukkan bahwa rezeki tetap layak diperjuangkan selama tangan masih sanggup menggenggam pengki dan kaki masih kuat mengayuh sepeda tua menuju tempat mangkal.

(sud/sud)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads