Energi Mukmin: Kakinya Lemah, Tapi Rasa Semangat Menopang Hidupnya

Energi Mukmin: Kakinya Lemah, Tapi Rasa Semangat Menopang Hidupnya

Burhannudin - detikJabar
Senin, 19 Okt 2026 17:25 WIB
Energi Mukmin: Kakinya Lemah, Tapi Rasa Semangat Menopang Hidupnya
Mukmin, difabel di Desa Tegalurung Kecamatan Balongan, yang mendapatkan bantuan dari BAZMA RU VI Balongan. (Foto: Burhannudin/detikJabar)
Indramayu -

Pagi di Desa Tegalurung, Kecamatan Balongan, Kabupaten Indramayu, mungkin tampak seperti pagi-pagi biasa. Kicauan burung-burung dalam sangkar yang ada di teras rumah warga, saling bersahutan mengiringi anak-anak yang bergegas menuju sekolahnya masing-masing. Kendaraan berlalu-lalang, bersamaan dengan aktivitas warga yang perlahan menggeliat.

Namun di antara rutinitas itu, ada perjuangan yang tidak selalu terlihat. Di depan MI (Madrasah Ibtidaiyah) Muhammadiyah Tegalurung, sebuah gerobak menjadi saksi bagaimana seorang lelaki bernama Mukmin berusaha mempertahankan hidupnya. Gerobak itu bukan sekadar tempat berdagang asongan. Baginya, gerobak adalah simbol kemandirian. Di dalam gerobak itu, terdapat perjuangan yang harus ia menangkan setiap hari.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Selain 'bertengger' di depan MI Muhammadiyah Tegalurung dari pagi hingga siang, sorenya ia berjualan di depan RA (Raudhatul Athfal) Hasan Bisri, Desa Tegalurung, Kecamatan Balongan. Di dua lembaga pendidikan swasta tersebut, anak-anak berkumpul, dan Mukmin menggantungkan harapannya di situ.

Kalau orang lain melihat sebuah motor roda tiga dengan gerobak berwarna hijau dan tulisan "WARUNG RODA KELILING PAK MUKMIN-06", yang mereka lihat hanyalah sebuah warung kecil. Tapi bagi Mukmin, ini adalah segalanya.

ADVERTISEMENT

Rangkanya berbahan besi siku yang dilas mati, cat hijau memberi kesan kokoh. Atap dan penutup dagangannya terbuat dari aluminium, penutup itu ketika dibuka menjadi kanopi untuk berteduh dari panas terik matahari di Indramayu; daerah yang terkenal memiliki 'matahari kembar' atau 'dua matahari' mungkin karena saking panasnya. Sementara itu, etalase kaca yang bening di gerobaknya menahan debu jalanan agar dagangannya tetap bersih.

Di dalam gerobak kokoh tersebut, ia membawa harapan-harapan bagi kehidupannya: puluhan botol teh kemasan, air mineral, dan mi instan di rak bawah, rentengan kopi dan serbuk es tergantung rapi di tengah, dus-dus snack di atas, dan di bagian kompor bawahnya ada panci yang masih mengepul. Dari panci itulah menarik perhatian para pembeli.

Gerobak ini memberi napas panjang. Dibawa menggunakan motor roda tiga, Mukmin tidak perlu lagi menggendong barang dagangannya dan berjalan menggunakan kruk di jalanan yang tidak selalu mulus. Ia tinggal starter sepeda motornya, tarik gas, dan ia bisa berangkat menuju sekolah. Dengan begitu, ia bisa sejajar dengan pedagang lain.

Hari itu, Selasa (6/10/2026), ia sedang merapikan plastik hitam-putih di etalasenya. Tangannya yang cekatan menata dagangan. Tas selempangnya menyimpan pundi-pundi rupiah -uang receh dua ribuan hingga lima ribuan, dan uang pecahan besar dari pembeli- yang ia kumpulkan satu per satu. Di sampingnya ada boks merah tempat es batu, dan segelas kopi yang mungkin belum sempat ia minum karena sibuk melayani.

Gerobak bantuan dari Bazma RU VI Balongan ini bukan bantuan cuma-cuma. Ini adalah kepercayaan. Kepercayaan bahwa seorang difabel pun bisa menjadi kepala keluarga yang sejahtera, bukan dengan mengemis, tapi dengan berdagang. Setiap bunyi 'ngeng' dari motor roda tiga ini adalah bunyi kehidupan yang terus berjalan baginya.

Selama roda di motornya masih berputar, selama panci itu masih mengepul, dan selama dagangannya yang masih penuh terlihat dari kaca etalase, maka Mukmin masih punya cara untuk pulang ke rumah dengan percaya diri, dengan kepala yang tegak.

Bagi Mukmin, gerobak ini adalah cara Tuhan memberinya izin untuk tetap hidup bermartabat. Untuk sampai di titik ini, bagaimana semuanya berawal?

Awal Perjalanan

Mukmin, 58 tahun, merupakan seorang difabel asal Blok Kibuyut Gaplok, Desa Tegalurung. Sejak kecil ia menderita Polio (Poliomielitis). Kedua kakinya sangat lemah serta tidak berkembang sebagaimana mestinya, dan hingga kini harus menggunakan alat bantu untuk berjalan.

Keterbatasan fisik tidak pernah membuatnya memilih menyerah. Setiap hari, ia tetap berjualan secara asongan sejak 1986, tepatnya satu tahun setelah ia lulus dari SMEA (pendidikan setara SLTA).

Sejak awal, ia meniagakan dagangannya dengan berjalan kaki menggunakan tongkat atau kruk. Dengan langkah tertatih, ia berjalan menuju pusat keramaian di sekitar tempat tinggalnya, termasuk di depan sekolah dasar.

Memasuki tahun 2000, ia menggunakan gerobak yang telah dimodifikasi beroda tiga -hasil jerih payahnya mengumpulkan rupiah selama puluhan tahun- hal itu memudahkannya dalam berjualan, setidaknya tenaga yang dihabiskan tidak sebanyak sebelumnya.

Waktu terus berjalan dan gerobak yang selama ini digunakan kondisinya mulai rusak. Berbagai kesulitan datang lagi; dari laju roda yang melambat hingga bahan materialnya yang terbuat dari kayu mulai rapuh.

"Kayunya kalau dilihat dari dekat sudah tidak cokelat, sudah berwarna abu-abu kehitaman. Di bagian bawah, dekat roda, kayunya sudah lapuk termakan rayap dan hujan. Kalau ditekan pakai jempol, kayunya empuk, meninggalkan bekas. Bau tanah lembap sudah menyatu dengan kayunya," tutur Mukmin kepada detikJabar, Selasa (6/10/2026).

Selain itu, paku-pakunya sudah karatan. Banyak yang sudah tidak menggigit kayu lagi, sehingga diganti dengan kawat bendrat yang dililit berkali-kali. Di sudut kiri, sambungannya sudah renggang, menganga sekitar dua jari.

Energi Mukmin: Kakinya Lemah, Tapi Rasa Semangat Menopang HidupnyaMukmin sedang membuat Ilir, kipas tradisional Indramayu. Foto: Burhannudin/detikJabar

Dua rodanya sudah gundul. Benjol di satu sisi. Juga tampaknya ada sedikit masalah di tromol atau as roda, sehingga jalannya tidak lagi lurus tapi 'geal-geol'. Pedagang di sebelahnya sampai hafal, kalau dengar suara roda yang berdecit panjang itu, berarti suara gerobak Mukmin.

"Kalau ada suara roda, pasti itu gerobaknya Pak Mukmin, kata teman saya yang jualannya di sebelah saya. Dia sampai paham karena memang saya cukup lama berjualan dengan kondisi gerobak yang kayak gitu," ungkap Mukmin menjelaskan kondisi gerobaknya saat itu.

Di sela aktivitas berdagang, Mukmin juga membuat kerajinan sederhana yang dikerjakannya dengan ketekunan, yakni sapu ijuk, sapu lidi, dan kipas tradisional khas Indramayu yang dikenal masyarakat sebagai 'ilir'. Bagi Mukmin, hal itu bukan sekadar soal mendapatkan uang, melainkan cara ia menjaga harga diri.

"Alhamdulillah, meskipun saya kalau jalan menggunakan alat bantu, tapi tetap saya jalani dengan bersyukur. Bahkan ada yang menganggap saya seperti orang yang minta-minta (pengemis), padahal saya tidak mau minta-minta, saya tetap nggak mau dikasih. Karena saya pengen nyari duit dengan cara berdagang, bukan meminta," ujarnya.

Kalimat itu sederhana. Namun dari sana terlihat jelas bagaimana seorang lelaki dengan keterbatasan fisik memilih berdiri di atas kakinya sendiri, dengan cara yang ia mampu.

Perjuangan Dimulai sebelum Matahari Terbit

Selepas menunaikan salat Subuh, dunia masih gelap, sebagian orang mungkin masih terlelap. Tapi Mukmin mulai merapikan barang dagangannya. Ia memindahkan semua barang hasil mengulak di malam hari, dari dalam rumah ke gerobak satu per satu.

Dengan kondisi fisiknya yang terbatas, aktivitas yang bagi orang lain hanya membutuhkan waktu 15 menit, bagi beliau mungkin bisa satu jam. Angkat dus mie, angkat galon, angkat jajanan seribuan, napasnya terengah-engah. Napasnya sudah habis sebelum jualannya dimulai.

Meski penuh keterbatasan, Mukmin sadar bahwa dirinya sangat istimewa. Hal itulah yang memotivasinya menjalani hari, bahkan bisa dibilang menaklukkan hari, lebih dari sekadar menjalani.

"Keistimewaan saya itu, entah kenapa saya merasa tidak memerlukan waktu lama untuk istirahat, saya tahu pekerjaannya kadang-kadang berat, tapi setelah saya duduk, tarik napas, dan minum air putih, perlahan capeknya hilang, dan lima menit kemudian saya bisa beraktifitas lagi. Intinya saya jarang merasa capek, mungkin karena saya jalani dengan senyuman dan bersyukur kali, ya. Entahlah," katanya.

Ketika fajar menyingsing, penaklukan dimulai, beragam ujian harus dilalui, hari demi hari harus ia menangkan sebab tugas mulia seorang suami yang menafkahi keluarganya, sebab harga diri, dan sebab musabab lainnya.

Penghasilannya pas-pasan. Misalnya hari ini laku Rp150.000. Untung bersih mungkin cuma Rp20.000 sampai Rp30.000. Uang itu harus langsung ia bagi: untuk mengulak, untuk makan di rumah, dan keperluan lainnya. Tidak ada istilah "nabung banyak" di kamusnya. Kalau satu hari hujan dan tidak laku, besoknya ia jualan dengan setengah rak kosong karena tidak ada uang untuk mengulak.

Energi Mukmin: Kakinya Lemah, Tapi Rasa Semangat Menopang HidupnyaMukmin sedang melayani pembeli. Foto: Burhannudin/detikJabar

Hidup adalah perjuangan tanpa henti, dan terasa sangat berat bagi Mukmin. Namun, di balik ketegarannya, mungkin saja tatapan orang yang melihatnya merasakan begitu berat kehidupan sang kepala keluarga. Mungkin beberapa pembeli datang bukan mau membeli, tapi mau kasihan. Mungkin pedagang lain menganggapnya tidak mampu bersaing.

"Jujur, ada orang yang datang dan terang-terangan bilang kalau dia kasihan sama saya. Di situ saya terharu. Dia beli air mineral satu botol, duitnya seratus ribu dan kembaliannya buat saya, kembaliannya enggak dia ambil. Saya merasa sangat terharu dan bersyukur," ungkap Mukmin.

Pria kecil dan rapuh yang satu ini tidak mau dikasihani, ia mau dianggap pedagang. Makanya jika dilihat dari gerobaknya; ditata sangat rapi, ada stiker Halal, botol disusun sejajar. Itu cara dia bilang: "Saya pedagang profesional, bukan pengemis."

Kalau ia demam berarti gerobak tidak jalan. Kalau salah satu roda bocor, ia harus memperbaiki pakai uang makan. Tapi di tengah semua itu, ia masih terlihat percaya diri. Ia hanya diam, merapikan dagangannya, dan menunggu pembeli berikutnya datang. Karena ia yakin, selama ia percaya diri, maka hidupnya masih bisa diperjuangkan. Semangat juang yang sangat luar biasa.

Energi Anak Sulung

Dan ternyata, semangat itu tidak berhenti pada dirinya. Semangat itu tumbuh pada anak sulungnya, Muhammad Jafar Sodiq, atau yang biasa dipanggil Jafar.

Jafar adalah putra pertama dari empat bersaudara. Ia lahir dengan kondisi kedua kakinya yang menderita penyakit Polio (Poliomielitis). Sama seperti ayahnya. Sejak kecil, ia melihat bagaimana ayahnya menjalani kehidupan dengan keterbatasan fisik, tetapi tetap bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

Kini Jafar tercatat sebagai siswa kelas 2 di salah satu SMK swasta di Indramayu. Setiap pagi, Mukmin tetap mengantarkan anaknya pergi ke sekolah. Ada pemandangan yang mungkin bagi sebagian orang terasa biasa: seorang ayah mengantar anaknya menuntut ilmu. Tetapi bagi keluarga ini, perjalanan tersebut adalah bagian dari perjuangan panjang yang dilakukan dengan segala keterbatasan.

Jafar kemudian melanjutkan perjuangan itu dengan caranya sendiri. Sepulang sekolah, seragam pelajar berganti dengan seragam ala pedagang keliling. Ia menaiki sepeda khusus yang dibuat oleh tukang las untuk menyesuaikan kondisi tubuhnya; sepeda beroda tiga.

Yang berbeda, sepeda itu tidak dikayuh menggunakan kaki. Jafar mengayuhnya menggunakan tangan. Dengan sepeda tersebut, ia menyusuri jalan-jalan di sejumlah wilayah Indramayu. Dari Sindang, pusat Kecamatan Indramayu, hingga Karangsong. Puluhan kilometer ditempuh demi menjajakan barang dagangan buatan ayahnya, yakni sapu ijuk dan sapu lidi.

"Sindang, Indramayu kota, Karangsong. Iya, pakai tangan," jawabnya singkat ketika ditemui di kediamannya, Rabu (7/10/2026).

Energi Mukmin: Kakinya Lemah, Tapi Rasa Semangat Menopang HidupnyaTerlihat dari samping, Jafar mengayuh sepedanya menggunakan tangan. Dalam kondisi seperti ini, ia mampu menempuh perjalanan sepanjang puluhan kilometer. Foto: Burhannudin/detikJabar

Tidak ada keluhan panjang. Tidak ada kisah dramatis yang sengaja dibesar-besarkan. Hanya jawaban singkat seorang anak muda yang seolah sudah terbiasa dengan perjuangan, dan terdorong untuk membantu sang ayah.

Di atas sepeda itulah Jafar membawa sapu ijuk dan sapu lidi. Barang-barang sederhana yang mungkin dianggap sepele, tetapi menjadi sumber penghasilan bagi keluarganya. Dalam sehari, omzet yang diperoleh bisa mencapai Rp300 ribu. Namun ada hari-hari ketika hasilnya hanya sekitar Rp200 ribu atau bahkan lebih kecil lagi.

"Satunya itu harganya Rp10 ribu. Sapu lidi dan sapu ijuk Rp10 ribuan semua," katanya. Bagi Jafar, berjualan bukan sekadar mengejar angka. Ada pengalaman-pengalaman kecil yang justru membuat perjalanan panjangnya terasa berarti.

Pernah seorang pembeli memberikan uang lebih dan meminta agar uang kembaliannya untuk Jafar saja. Ada pula pembeli yang membeli sapu kemudian meminta Jafar meletakkannya di masjid.

"Biasanya saya taruh di Masjid Agung atau Masjid An-Nur (di dekat Sport Center Indramayu), ada juga yang emang niat pengen ngasih saja sesuai harga sapu, nanti sapunya terserah saya mau dikasih ke siapa, tapi biasanya saya kasih ke masjid," tuturnya.

Sebuah sapu yang dibeli dari seorang pedagang keliling kemudian menjadi sedekah untuk rumah ibadah. Di titik itu, perjuangan ekonomi bertemu dengan kebaikan yang sederhana.

Jafar sendiri sudah mengenal dunia dagang sejak duduk di bangku SMP. Kala itu, ia menjual kipas bambu tradisional Indramayu, ilir, dengan harga sekitar Rp5 ribu. Ilir tersebut dibuat oleh ayahnya juga. "Yang bikin bapak. Sekarang juga bapak masih bikin kipas tapi hanya terima pesanan saja," katanya.

Namun dunia usaha mengajarkan Mukmin dan Jafar satu hal: kebutuhan pasar harus dibaca. Ilir tidak setiap hari dicari orang. "Dulu ilir juga dibawa sama anak saya, Jafar, keliling nyari pelanggan. Tapi sekarang sudah sepi peminat. Alhamdulillah," kata Mukmin.

Sementara sapu hampir selalu dibutuhkan rumah tangga. Maka ia beradaptasi. Dari memproduksi ilir, ia beralih memproduksi sapu ijuk dan sapu lidi, lalu sang anak menjajakannya berkeliling puluhan kilometer dari kediaman mereka.

Menariknya, keputusan untuk berdagang bukan karena paksaan orang tua.

"Orang tua tidak pernah menyuruh. Saya inisiatif sendiri saja, Mas," ujarnya. Kalimat tersebut mungkin menjadi salah satu bagian paling penting dari kisah keluarga Mukmin. Sebab perjuangan Jafar bukan semata-mata karena ia memiliki ayah penyandang disabilitas. Ia memilih bekerja karena melihat sendiri bagaimana ayahnya tidak pernah menjadikan keterbatasan sebagai alasan untuk berhenti berusaha.

Gerobak Hijau Bernomor 06

Semangat itu menular dari ayah ke anaknya. Dan di tengah perjuangan tersebut, datang bantuan yang membuat langkah Mukmin sedikit lebih ringan. Rezeki itu datang melalui BAZMA Pertamina RU VI Balongan.

Melalui program pemberdayaan, Mukmin mendapatkan gerobak dagang baru berbahan besi. Seperti yang telah disampaikan di awal, gerobak hijau ini bernomor 06, mungkin itu bermakna kilang Pertamina yang berada di Balongan merupakan unit ke-6 di Indonesia, sebagaimana telah diketahui bersama. Sementara di sebelah nomor tersebut tertulis "Sejahtera Bareng Bazma RU VI Balongan."

Gerobak tersebut menggantikan gerobak lamanya yang sudah rusak. Selain gerobak, bantuan juga mencakup perlengkapan usaha dan modal awal. "Lebih dari satu juta rupiah berbentuk makanan dan minuman untuk dijual, kemudian kompor gas juga, dan perkakas lainnya untuk jualan, dan dikasih uang Rp500 ribu untuk jualan juga," kata Mukmin.

Ketua BAZMA RU VI Balongan, Ari Wicaksono, menjelaskan bahwa bantuan tersebut merupakan bagian dari upaya BAZMA untuk tidak berhenti pada pola bantuan konsumtif.

BAZMA atau Baituzzakah Pertamina, kata Ari, merupakan lembaga yang mengelola dana zakat, infak, sedekah, wakaf, dan dana sosial lainnya untuk disalurkan kepada masyarakat yang membutuhkan.

Namun prinsip yang dikembangkan bukan semata-mata memberikan sesuatu untuk habis digunakan. Ada upaya agar bantuan berubah menjadi alat produktif.

Dalam program Sejahtera Bareng BAZMA, misalnya, bantuan kepada Mu'min diberikan dalam bentuk satu unit gerobak dagang, perlengkapan usaha, bahan makanan dan minuman awal, kompor, tabung LPG, peralatan memasak, serta modal usaha sebesar Rp500 ribu.

Gerobak hijau bernomor 06 itu pada awalnya dipinjamkan selama dua tahun. Apabila usaha berjalan secara berkelanjutan, gerobak dapat menjadi hak milik penerima manfaat. Selama proses itu, BAZMA tetap melakukan pemantauan secara berkala. Perlu diketahui, Mukmin mendapat bantuan ini pada 2026.

"Pesan kami sederhana: bantuan bukan hanya untuk membuat seseorang bertahan hari ini, tetapi membuka peluang agar ia mampu berdiri lebih kuat pada hari-hari berikutnya. Itulah semangat yang ingin dibangun BAZMA RU VI Balongan: dari membantu, kemudian memberdayakan, mendampingi, hingga mendorong kemandirian," ujar Ari kepada detikJabar, Senin (12/10/2026).

Energi Mukmin: Kakinya Lemah, Tapi Rasa Semangat Menopang HidupnyaGerobak dari BAZMA RU VI Balongan untuk Mukmin, difabel pedagang asongan. Foto: Burhannudin/detikJabar


Ari menjelaskan, penyandang disabilitas bukan satu-satunya dasar seseorang mendapatkan bantuan. Ada kebutuhan nyata, potensi yang bisa dikembangkan, serta harapan agar bantuan memberikan dampak berkelanjutan.

"Dalam konteks bapak Mukmin, aktivitas berdagang sudah berjalan sebelum bantuan datang. Gerobak baru bukanlah awal dari perjuangannya. Gerobak itu justru menjadi penguat dari perjuangan yang sudah lama ia jalani," katanya.

Lebih lanjut, Ari juga mengungkapkan bahwa bantuan tersebut juga merupakan bagian dari amanah dana zakat, infak dan sedekah yang dihimpun, termasuk dari para pekerja Pertamina.

Pada Ramadan 2026, BAZMA RU VI Balongan menyalurkan 1.569 paket beras masing-masing lima kilogram atau lebih dari 7,8 ton kepada para mustahik di desa-desa sekitar kilang.

Sepanjang 2026, program pemberdayaan juga mencakup penyaluran 24 gerobak dan 10 unit kursi roda, pelatihan pembuatan tempe bagi kelompok ibu-ibu mantan TKW di Desa Rawadalem, Kecamatan Balongan, serta berbagai program sosial lainnya.

"BAZMA juga memberikan bantuan kepada pensiunan yang termasuk dalam delapan asnaf, masjid di sekitar kilang, serta rumah tahfiz. Selain itu, tersedia mobil jenazah baru yang dapat digunakan secara gratis oleh pekerja, keluarga pekerja maupun masyarakat di wilayah Indramayu," kata Ari.

Semua itu berangkat dari satu gagasan: dana umat harus kembali memberi manfaat kepada umat.

Hari yang Dimenangkan

Ada hari di mana pelukan Tuhan lebih terasa dari biasanya. Bagi Mukmin, hari tersebut adalah hari di mana Pertamina memberikan energi kepadanya. Seorang lelaki yang berjalan dengan alat bantu, seorang ayah yang tetap mengantarkan anaknya ke sekolah, seorang pedagang yang menolak disebut pengemis, seorang suami yang mencari nafkah, serta seorang perajin yang masih membuat ilir ketika ada pesanan.

Sementara di sisi lain, ada Jafar, anaknya, pelajar SMK yang setelah pulang sekolah tidak memilih beristirahat panjang. Ia justru mengambil sapu buatan ayahnya, dikemas, menaiki sepeda khusus, lalu mengayuh menggunakan tangan.

Jalan yang dilaluinya mungkin panjang, terik matahari mungkin menyengat. Hasil jualan kadang Rp300 ribu, kadang hanya Rp200 ribu, kadang lebih sedikit lagi, tetapi ada sesuatu yang tidak pernah ikut turun bersama angka pendapatan itu: harga dirinya, dan harga diri ayahnya.

Sebab bagi keluarga Mukmin, rezeki bukanlah sesuatu yang harus ditunggu, rezeki harus dijemput. Kadang dengan gerobak, kadang dengan sepeda yang dikayuh menggunakan tangan, kadang dengan sapu seharga Rp10 ribu, dan kadang, rezeki datang dalam bentuk seseorang yang membeli dagangan mereka, lalu berkata, "kembaliannya untuk kamu saja."

Di keluarga kecil itu, keterbatasan fisik memang menjadi bagian dari kehidupan. Tetapi keterbatasan tidak pernah mereka izinkan menjadi batas bagi harapan. Mukmin telah mengajarkan kepada Jafar bahwa hidup tidak selalu memberi jalan yang mudah. Namun selama masih ada kemauan untuk berusaha, selalu ada jalan untuk dilalui.

Kamis (15/10/2026) sore, di depan RA Hasan Bisri, Desa Tegalurung, Mukmin sedang mengemasi barang-barang dagangannya, kompornya ia masukkan ke dalam bagian bawah gerobak, sedangkan rentengan serbuk kopi dan lain sebagainya ia masukkan ke bagian tengah, lalu bagian samping gerobak yang terbuat dari alumunium -yang semula dibuka dan dijadikan kanopi- kini hendak ditutup. Ternyata Mukmin sudah berhasil menaklukkan hari yang panjang dan melelahkan, saatnya pulang dan membawa kabar baik untuk keluarga di rumah; ada hari yang dimenangkan, ada pundi-pundi rupiah dalam "genggaman".

Gerobak hijau nomor 06 itu pulang pelan-pelan. Tidak secepat berangkatnya tadi pagi, lajunya sesaat tertahan karena jalanan sore relatif ramai.

Di dalam tas selempangnya sesekali terdengar bunyi uang koin saling beradu. Pundi-pundi rupiah yang ia kumpulkan hari itu mungkin tidak banyak. Mungkin hanya Rp 100.000 sampai Rp 150.000. Lembaran lima ribuan yang lecek, dua ribuan yang basah karena kena es, koin lima ratus yang mengendap di dasar tas, ada juga beberapa lembar sepuluh ribuan yang ia lipat paling dalam. Tapi bagi Mukmin, tas itu beratnya seperti emas perhiasan yang sangat berharga.

Begitu sampai di depan rumahnya yang kecil dan sederhana, ia matikan mesin. Sepi. Ia duduk dulu sebentar di atas sadel motornya. Menghela napas panjang. Punggungnya sakit, kakinya kesemutan. Peluh di pecinya sudah kering dan menjadi bercak putih.

Lalu ia buka pagar rumahnya yang pendek itu. Mendengar suara pagar dibuka, dari dalam, istrinya keluar. Tidak pakai kata-kata mewah. Hanya tatapan penuh makna. Di situ senangnya Mukmin bukan kepalang.

Bukan karena uangnya banyak. Tapi karena hari itu ia pulang masih bisa menjadi suami yang berhasil menafkahi keluarganya.

Pada malam harinya, di rumah kecil itu, ada suara recehan yang dihitung di atas tikar, ada tawa kecil istri yang lega, dan ada Mukmin yang akhirnya bisa duduk selonjor sambil minum teh tawar hangat buatan istrinya. Itu adalah bukti bahwa hari itu ia menang lagi.

Perjalanan Masih Panjang

Mukmin sepenuhnya menyadari bahwa perjalanannya masih sangat panjang, ada empat anak yang harus dibesarkan serta dididik agar memiliki mental yang kuat seperti dirinya, ada kepercayaan dari Pertamina yang harus dipertanggungjawabkan, dan hari-hari di masa depan yang selalu misterius, tentu saja harus ditaklukkan. Ia harus lebih kuat dari hari ini, untuk esok yang lebih baik.

"Ada dalil Al-Quran yang bagus sekali menurut saya, yang kurang lebih maknanya seperti ini: kata Allah, kalau kamu memanggilku, kalau meminta atau berharap kepadaku, maka aku akan berlari menghampirimu. Berlari itu maksudnya Allah segera mengabulkan permintaan kita, Allah menolong kita secepat mungkin. Karena itulah saya selalu yakin bahwa Allah senantiasa bersama saya," tegas Mukmin.

Mukmin percaya, Sang Kuasa menjawab doa-doanya lewat energi positif yang ia terima dari istri tercinta, keempat anaknya, seluruh kerabat, dan Pertamina, sehingga membuatnya mampu berjuang hingga detik ini. Meski kakinya lemah, tapi semangatnya mampu menopang keterbatasannya itu. Energi dari pihak-pihak tersebut secara tidak langsung ia serap menjadi rasa semangat yang membara, untuk menopang hidupnya.

"Terima kasih, BAZMA RU VI Balongan, atas bantuan yang diberikan kepada saya. Insya Allah bantuan ini akan saya manfaatkan sebaik-baiknya," pungkas Mukmin dengan wajah berseri-seri.

Halaman 2 dari 3
(sud/sud)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads