Kisah Ahyarudin Hasan, Menjahit Disiplin di Balik Kain Jersey

Kisah Ahyarudin Hasan, Menjahit Disiplin di Balik Kain Jersey

Burhannudin - detikJabar
Senin, 17 Agu 2026 07:00 WIB
Ahyar, pengusaha jersey asala Singajaya, Indramayu.
Ahyar, pengusaha jersey asala Singajaya, Indramayu. (Foto: Burhannudin/detikJabar)
Indramayu -

Suara mesin jahit yang saling bersahutan menjadi irama harian di sebuah bangunan sederhana di Desa Singajaya, Kecamatan Indramayu. Di sana, kesibukan tak pernah reda, jemari para karyawan lincah memotong kain, sementara yang lain berkonsentrasi penuh di depan mesin press.

Di sudut ruangan, tumpukan jersey warna-warni telah rapi terbungkus, siap memulai perjalanan panjang mereka.

Siapa sangka, dari sudut desa di Indramayu ini, ribuan helai pakaian olahraga lahir setiap bulannya. Produk-produk ini bukan hanya mengisi pasar lokal, tapi telah melintasi samudra menuju Korea Selatan, Hong Kong, hingga Malaysia.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sosok di balik geliat industri ini adalah Ahyarudin Hasan. Pria yang menjabat sebagai Direktur Luxuro Jersey Indonesia ini bukanlah tipe pengusaha yang gemar memamerkan deretan angka. Saat berbincang, ia justru lebih memilih mengupas filosofi di balik layar. Baginya, fondasi usahanya berdiri di atas tiga pilar sederhana yaitu Kerja keras, kerja cerdas, dan kerja ikhlas.

ADVERTISEMENT

"Tiga prinsip itu jauh lebih berharga daripada sekadar mengejar angka keuntungan," ungkapnya belum lama ini.

Langkah Ahyar di dunia usaha tidaklah instan. Perjalanannya dimulai jauh pada tahun 1996 setelah ia menanggalkan seragam SMA. Ia adalah petualang nasib, pernah mencicipi kerasnya bekerja di PLTU Suralaya, mencoba peruntungan berdagang ponsel, hingga akhirnya merantau menjadi pekerja migran di Korea Selatan.

Jalan yang ia tempuh tak selalu mulus. Kegagalan berulang kali menyapa, modalnya pernah ludes, dan rencana-rencananya seringkali berantakan di tengah jalan. Namun, bagi Ahyar, kegagalan adalah biaya pendidikan yang harus dibayar untuk membentuk mentalitasnya saat ini.

"Kita rugi waktu, rugi tenaga, bahkan kadang rugi modal. Tapi dari kerugian itu kita belajar memperbaiki diri hingga akhirnya memperoleh keuntungan," ujarnya.

Ia percaya bahwa dalam bisnis, tidak ada jalan pintas menuju laba. Keuntungan selalu datang belakangan, setelah seseorang selesai menuntaskan proses panjang yang penuh peluh dan kesalahan.

Masa-masa bekerja di Korea Selatan memberikan pengaruh paling kuat dalam hidupnya. Bukan kemilau teknologi Negeri Ginseng yang ia bawa pulang, melainkan sebuah nilai yang jauh lebih fundamental, disiplin. Ahyar meyakini bahwa kecerdasan bisa dimiliki siapa saja, namun kedisiplinanlah yang menjadi garis pembeda antara keberhasilan dan kegagalan.

Di Korea, ia melihat bagaimana waktu sangat dihargai dan tanggung jawab dijunjung tinggi tanpa kompromi. Nilai itulah yang ia tanamkan di Luxuro. Baginya, membangun perusahaan garmen bukan soal seberapa canggih mesin yang dimiliki, melainkan seberapa tangguh manusia di dalamnya. Ia lebih dulu fokus membentuk sumber daya manusia yang memiliki kredibilitas dan haus akan ilmu sebelum bermimpi menjadi raksasa industri.

Awal Mula Bisnis

Luxuro sendiri berawal dari langkah kecil yang sangat bersahaja. Awalnya, Ahyar hanya melayani pesanan sablon manual dengan kapasitas terbatas, sekitar dua ratus hingga tiga ratus potong saja per bulan. Tanpa fasilitas mewah, ia terus bergerak, bergabung dengan komunitas Seniman Sablon Seluruh Indramayu (Sensasi), dan tak malu belajar hingga ke Bandung dan Yogyakarta.

"Dulu orang mengenal jersey berkualitas hanya dari Bandung atau Jakarta. Kami ingin membuktikan bahwa Indramayu juga mampu menghasilkan produk dengan standar nasional, bahkan layak diekspor," katanya.

Keberaniannya merambah media sosial menjadi katalisator pertumbuhan. Awalnya ia hanya menjadi perantara bagi produk orang lain, mulai dari sepatu hingga jam tangan. Namun, melihat antusiasme pasar yang besar, terutama dari relasi di luar negeri, Ahyar memutuskan untuk mengambil langkah besar. Bersama sang adik, ia mengibarkan bendera Luxuro Jersey Indonesia dan mulai memproduksi sendiri.

Kini, dengan dukungan 17 karyawan, omzet usahanya telah menyentuh angka ratusan juta rupiah setiap bulan. Meski begitu, definisi sukses bagi Ahyar tetap membumi.

"Sukses itu bukan berarti harus kaya," katanya.

Ia memandang kekayaan bukanlah jaminan kebahagiaan. Baginya, puncak dari segala usaha adalah rasa syukur. Itulah mengapa "kerja ikhlas" ia tempatkan sebagai muara dari segala aktivitasnya. Di dinding kantornya, terpampang slogan "Wake Up and Try Again", sebuah pengingat bahwa jatuh adalah hal biasa, namun bangkit adalah keharusan.

Di tengah kesuksesannya, Ahyar tetap menaruh perhatian pada ekosistem UMKM di tanah kelahirannya. Ia memendam harapan agar para pelaku usaha lokal di Indramayu diberikan panggung yang lebih luas. Ia bermimpi melihat instansi pemerintah lebih memprioritaskan karya penjahit dan penyablon lokal sebelum melirik vendor dari luar daerah.

Ia juga mengingatkan bahwa musuh terbesar saat ini bukanlah teknologi, melainkan keengganan untuk berubah.

"Kalau kita tidak mau mengikuti perkembangan zaman, kita pasti akan tertinggal," tegasnya.

Bagi Ahyar, perjalanan Luxuro Jersey Indonesia bukan sekadar narasi tentang ekspor dan keuntungan. Ini adalah kisah tentang bagaimana sebuah usaha kecil bisa bertahan dan mendunia karena dirawat dengan disiplin, diperbaiki dengan belajar, dan dijaga dengan keikhlasan. Di tengah persaingan global yang kian sengit, Ahyar membuktikan bahwa nilai-nilai kemanusiaan tetap menjadi modal paling berharga dalam berbisnis.

Halaman 2 dari 2
(dir/dir)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads