Derit roda becak yang dulu akrab terdengar di sudut-sudut kota, kini kian jarang menyapa. Di tengah laju modernisasi transportasi, para tukang becak di Indramayu harus menerima kenyataan: penumpang semakin langka, sementara kebutuhan hidup terus berjalan.
Di sejumlah ruas jalan utama seperti Jalan Ahmad Yani, Jalan S. Parman, Jalan RA Kartini, Jalan Jenderal Sudirman, hingga kawasan Pasar Baru Indramayu, becak masih setia mengetem. Namun, pemandangan yang tersaji lebih sering memperlihatkan para pengemudi yang menunggu, bukan mengayuh.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Jumali (54), salah satu tukang becak yang ditemui di Jalan Jenderal Sudirman, tampak terkantuk di atas kursi penumpang becaknya. Hari itu, belum ada satu pun penumpang yang ia antar.
"Sekarang becak sepi. Satu hari ada penumpang saja sudah bersyukur, apalagi kalau sampai dapat beberapa," ujarnya lirih, saat ditemui detikJabar belum lama ini.
Ia mengaku, penghasilan Rp50 ribu dalam sehari sudah tergolong besar. Namun, tak jarang uang itu habis untuk keperluan makan saat menunggu penumpang. "Kadang pulang malah nggak bawa uang," tambahnya.
Pemandangan serupa terlihat di Jalan Ahmad Yani. Seorang tukang becak tertidur pulas di becaknya, mungkin lelah menanti harapan yang tak kunjung datang. Di dekatnya, Kasjam (55) memilih mengusir sepi dengan mendengarkan musik tarling khas Indramayu, ditemani angin siang yang berembus pelan.
Meski tubuhnya tampak ringkih, Kasjam mengaku masih kuat mengayuh. Ia menyimpan harapan sederhana: tetap ada penumpang yang memilih becak.
"Biasanya orang-orang Cina masih suka naik becak ke pasar. Itulah harapan saya," katanya.
Ia menyadari, generasi muda kini lebih memilih ojek online yang praktis dan bisa dipesan lewat ponsel.
Berbeda dengan dua pengemudi becak di atas, Tarjana (48), yang akrab disapa Kacung, justru terlihat lebih optimistis. Ia mangkal di Pasar Baru Indramayu dan menyasar ibu-ibu yang baru selesai berbelanja.
"Alhamdulillah kalau saya masih ada penumpang, nggak sepi-sepi banget. Targetnya ibu-ibu pasar, sehari bisa sampai lima orang," ujarnya.
Dengan tarif antara Rp10 ribu hingga Rp25 ribu, tergantung jarak, Kacung masih bisa membawa pulang penghasilan yang cukup untuk kebutuhan harian.
Di tengah gempuran transportasi modern, becak memang perlahan tersisih. Namun bagi sebagian orang, profesi ini bukan sekadar alat mencari nafkah, melainkan juga bagian dari denyut kehidupan kota yang belum sepenuhnya hilang.
(iqk/iqk)
