Pemerintah Kabupaten Kuningan melalui Dinas Kesehatan (Dinkes) tengah mengintensifkan upaya pencegahan penyebaran virus campak. Langkah ini diambil merespons tren peningkatan kasus serupa di wilayah Jawa Barat.
Berdasarkan data yang dihimpun Dinkes Kabupaten Kuningan, tercatat sebanyak 35 dugaan kasus suspek campak sepanjang periode Januari hingga Maret 2026. Dari puluhan suspek tersebut, empat kasus di antaranya telah terkonfirmasi positif.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kuningan, Denny Mustafa, mengungkapkan bahwa angka suspek tahun ini mengalami kenaikan dibandingkan tahun 2025. Sebagai perbandingan, pada tahun lalu hanya ditemukan 32 kasus suspek yang seluruhnya dinyatakan negatif setelah melalui uji laboratorium.
"Di tahun 2026 dari Januari sampai Maret ada 35 dugaan kasus suspek campak. Dari 35 tersebut ada sekitar 4 kasus positif campak. Tapi alhamdulillah sudah sembuh, belum ada kematian karena campak. Untuk selama kurun waktu tahun 2025 kita mengirimkan 32 sample suspek atau terduga campak. Tapi semuanya negatif," tutur Denny, Kamis (2/4/2026).
Denny menjelaskan bahwa peningkatan status suspek ini mengindikasikan mulai menyebarnya virus campak di wilayah Kuningan. Kendati demikian, Pemerintah Kabupaten Kuningan hingga saat ini belum menetapkan status Kejadian Luar Biasa (KLB).
"Betul naik. Karena sedang terjadi eskalasi kenaikan di mana-mana di Indonesia, semua naik. Tapi di Kuningan sendiri masih tergolong rendah, jadi belum masuk kriteria KLB kayak Cirebon. Karena menurut WHO sendiri KLB itu kriterianya ketika ada kasus lima atau lebih dalam kurun waktu empat minggu berturut-turut, dan kasus tersebut memiliki hubungan dekat. Artinya itu yang satu kakaknya ini atau tetangganya itu," tutur Denny.
Lebih lanjut, Denny memaparkan bahwa penyakit ini memiliki tantangan tersendiri dalam pendeteksian dini. Gejala klinis campak sering kali menyerupai flu biasa, seperti batuk dan demam tinggi, sehingga diperlukan uji laboratorium untuk memastikan diagnosis. Adapun transmisi virus ini terjadi melalui udara dan kontak fisik secara langsung.
"Sulit. Banyak sekali jenis virus yang memiliki gejala serupa sama campak seperti flu biasa dan roseola. Kadang-kadang sama-sama ada ruamnya, sama-sama panasnya. Tapi begitu dicek ternyata bukan virus campak. Makanya harus dikonfirmasi dengan pemeriksaan PCR di Bandung. Sejauh ini untuk 35 yang suspek itu sebagian sudah keluar hasilnya, dan alhamdulillah negatif. Yang belum keluar sekitar 13 sample," tutur Denny.
Meskipun secara medis dapat disembuhkan, campak tetap membawa risiko fatal. Keterlambatan penanganan medis, terutama pada pasien dengan sistem imun yang rendah, dapat memicu penurunan kesadaran hingga risiko kematian.
"Virusnya cepat masa inkubasinya paling 3 sampai 6 hari atau seminggu dengan indikasi batuk pilek dan sakit mata. Tapi bisa menyebabkan kematian karena terjadi penurunan kesadaran. Jadi sudah sepsis, artinya sepsis itu virusnya sudah menyebar ke seluruh tubuhnya, mungkin sampai ke otak sehingga terjadi penurunan kesadaran, dan akhirnya sampai meninggal," tutur Denny.
Sebagai langkah preventif, Dinkes Kuningan kini menggencarkan program vaksinasi MR (Measles Rubella) yang menyasar kelompok balita dengan usia minimal 9 bulan. Selain itu, masyarakat diimbau untuk disiplin menjaga kebersihan diri, menggunakan masker, serta menghindari kontak langsung dengan individu yang menunjukkan gejala klinis campak.
"Vaksinasi MR. Namanya vaksinasi MR. MR itu singkatan Measles Rubella. Measles itu campak, Rubella itu campak Jerman. Karena asalnya dari Jerman. Di Puskesmas semua menyediakan. Dan kami juga punya cakupan sasaran seperti Posyandu, kemudian juga sekolah. Karena cakupan vaksinnya itu belum mencapai target. Targetkan 80 persen balita di vaksin. Kita masih di bawah 80 persen masih 78 persen," pungkas Denny.
(yum/yum)