Bandung Catat 248 Kasus Suspek Campak Hingga Maret 2024

Bandung Catat 248 Kasus Suspek Campak Hingga Maret 2024

Rifat Alhamidi - detikJabar
Selasa, 31 Mar 2026 23:43 WIB
Waspada Campak
Ilustrasi campak (Foto: HaiBunda).
Bandung -

Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bandung mencatat peningkatan kasus penyakit campak secara signifikan. Hingga Maret 2024, tercatat sudah ada 248 kasus suspek campak, dengan 28 kasus di antaranya telah terkonfirmasi positif.

Plt Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kota Bandung, Dadan Mulyana Kosasih mengatakan, sebagian besar kasus terjadi pada kelompok balita. Meski demikian, ia memastikan seluruh pasien dilaporkan telah membaik tanpa adanya kasus kematian.

"Campak ini penyakit yang sangat mudah menular, bahkan lebih tinggi dari Covid-19. Satu orang bisa menularkan ke 17 sampai 18 orang. Tapi ini bisa dicegah dengan imunisasi," katanya, Selasa (31/3/2024).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dinkes pun mengajak warga untuk melengkapi imunisasi campak sebagai langkah utama menekan risiko penularan penyakit yang kini tengah mengalami tren peningkatan tersebut. Sebab, 69 persen balita yang positif campak ditemukan belum mendapatkan imunisasi.

"Ini menunjukkan pentingnya imunisasi. Mayoritas kasus yang kita temukan justru terjadi pada anak yang belum diimunisasi," ungkapnya.

ADVERTISEMENT

Data Dinkes menunjukkan, cakupan imunisasi campak rubella di Kota Bandung masih belum mencapai target nasional sebesar 95 persen. Imunisasi dasar campak (MR1) pada bayi usia 9 bulan tercatat sebesar 84,3 persen pada periode 2022 dan 2023.

Sementara itu, imunisasi lanjutan (MR2) pada usia 18 bulan tercatat masih lebih rendah, yakni 59,5 persen pada 2022 dan meningkat menjadi 66,9 persen pada 2023. Adapun imunisasi pada anak kelas 1 SD berada di angka 87 persen.

"Masih ada kesenjangan antara imunisasi dasar dan lanjutan. Banyak yang menganggap cukup di usia 9 bulan, padahal imunisasi lanjutan di 18 bulan itu wajib," jelasnya.

Sebagai langkah pencegahan, Dinkes Kota Bandung terus menggencarkan program imunisasi kejar (catch-up campaign) di seluruh kecamatan. Program ini menyasar anak-anak yang belum mendapatkan imunisasi lengkap, tanpa melihat keterlambatan usia selama masih dalam rentang usia balita.

"Silakan masyarakat datang ke puskesmas atau melalui kader. Imunisasi kejar tetap bisa diberikan selama anak masih dalam usia sasaran," ujar Dadan.

Untuk meningkatkan cakupan, Dinkes juga menggandeng aparat kewilayahan seperti kecamatan, kelurahan, Babinsa, dan Bhabinkamtibmas guna mengedukasi masyarakat. Dinkes mengingatkan warga untuk mewaspadai gejala campak yang umumnya diawali dengan demam tinggi, diikuti munculnya ruam pada kulit, serta gejala tambahan seperti batuk, pilek, dan mata merah.

Masyarakat diimbau segera membawa anak ke fasilitas kesehatan apabila mengalami gejala demam, tanpa harus menunggu munculnya ruam. Selain itu, untuk mencegah penularan, penderita yang diduga campak dianjurkan melakukan isolasi mandiri selama 14 hari dan menggunakan masker.

"Virus campak bisa bertahan di udara hingga dua jam. Jadi penggunaan masker dan isolasi mandiri sangat penting untuk mencegah penularan," ujarnya.

Dadan menjelaskan, imunisasi merupakan bentuk perlindungan paling efektif terhadap campak. Dengan cakupan imunisasi mencapai 95 persen, kekebalan kelompok (herd immunity) dapat terbentuk dan melindungi masyarakat secara luas.

"Kami mengajak seluruh masyarakat untuk mengecek kembali status imunisasi anaknya. Jika belum lengkap, segera lengkapi. Ini penting untuk melindungi anak dan lingkungan sekitar," pungkasnya.

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Video: Kemenkes Mulai Imunisasi Campak Nakes, Ini Catatan Dosisnya"
[Gambas:Video 20detik]
(ral/mso)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads