Bukit Panagaran Tak Sekadar Wisata, Tapi Harapan Baru Warga Cikaso

Bukit Panagaran Tak Sekadar Wisata, Tapi Harapan Baru Warga Cikaso

Fahmi Labibinajib - detikJabar
Selasa, 19 Mei 2026 10:00 WIB
Enah saat berjualan di Bukit Panagaran Kuningan
Enah saat berjualan di Bukit Panagaran Kuningan (Foto: Fahmi Labibinajib/detikJabar)
Kuningan -

Semburan pelangi selepas hujan, mulai menyapa Bukit Panagaran, Kuningan. Sore itu di salah satu sudut objek wisata Bukit Panagaran, terdapat seorang penjual makanan dan minuman ringan bernama Enah (46) tampak sibuk melayani pembeli.

Bagi Enah, Bukit Panagaran bukan sekadar tempat wisata. Lokasi ini adalah titik balik hidupnya. Dua tahun lalu, ia hanyalah seorang ibu rumah tangga biasa. Namun, sejak bukit ini bersolek menjadi destinasi wisata. Enah memberanikan diri menjemput rezeki dengan menjadi seorang pedagang.

Enah memaparkan, semenjak berjualan, dalam sehari ia bisa menghasilkan omzet ratusan ribu rupiah hingga jutaan rupiah. Uang tersebut Enah gunakan untuk memenuhi kebutuhan keluarganya sehari hari.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kan kalau sebelumnya mah. ibu-ibu yang nggak ada pekerjaan, sekarang punya pekerjaan. Tapi alhamdulillah semenjak ada ini jadi ikut jualan di sini. Hari biasa mah kadang Rp200 ribu sampai Rp300 ribu. Tergantung ada yang renang saja, tapi kalau lagi ada yang kemah itu bisa sampai Rp 1 juta," tutur Enah.

Tak hanya berjualan, geliat ekonomi di Bukit Panagaran juga menyentuh sektor pertanian. Saat musim panen cabai tiba, Enah dan puluhan ibu-ibu di sekitar desa beralih peran menjadi pemetik cabai dengan sistem upah harian. Sekali panen, hamparan lahan di sana bisa menghasilkan hingga 4 kuintal cabai segar.

ADVERTISEMENT

"Sekilonya Rp 40 ribu kalau jual ke bandar. Tapi kalau eceran di pasar mah kan hampir Rp 45 - Rp 50 ribu . Saya jual ke bandar ke Cirebon, Jagasatru. Kemarin sekali panen tuh bisa 4 kuintal. Itu ada 10 orang ibu ibu yang terlibat mah," tutur Enah.

Bukit Panagaran, KuninganBukit Panagaran, Kuningan Foto: Fahmi Labibinajib/detikJabar

Cerita manis pemberdayaan juga dirasakan oleh Enday (35). Sudah setahun terakhir, ia menggantungkan hidup sebagai pengelola ternak milik Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Sebelum adanya Bukit Panagaran, Enday adalah seorang buruh serabutan. Hidupnya dulu penuh ketidakpastian; hari ini bekerja, esok belum tentu.

Kini, hidup Enday jauh lebih stabil. Mengurus puluhan ekor kambing memberinya ketenangan finansial yang cukup untuk menghidupi anak dan istrinya.

"Enak jadi perawat kambing, sudah setahun lebih kerja di sini. Pendapatnya pasti seminggu itu bisa dapat Rp 700 ribu seharinya Rp 100 ribu. Ada 70 kambing yang dirawat. Lumayan daripada proyekan bangunan. Nggak menentu, kan nggak setiap hari ada juga. Alhamdulillah betah. Kerja juga santai. Cukup yang penting buat makan keluarga ada," tutur Enday.

Sementara itu, Direktur BUMDes Sangga Emas Cikaso, Saparudin memaparkan semenjak adanya agrowisata Bukit Panagaran. Pihaknya memang banyak mempekerjakan warga sekitar. Mereka dipekerjakan di berbagai macam sektor seperti penggarap lahan, penjaga ternak, pengelola teknis wisata, hingga pedagang. Para pekerja tersebut diupah dengan sistem harian. Lewat cara tersebut, diharapkan dapat memberikan manfaat ekonomi bagi warga sekitar.

"Kita punya karyawan untuk perempuan 12 orang, dan kalau laki-lakinya kalau sekali musim taman itu ada sekitar ini 100 orang untuk nyangkul. Ada juga yang memelihara kambing 2 orang sama UMKM. Untuk upahnya itu perhari untuk perempuan Rp 65.000 dari jam 6 sampai Dzuhur. Kalau untuk laki-lakinya Rp100.000 perhari," pungkas Saparudin.

(yum/yum)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads