Tragis! Bocah 7 Tahun Meninggal Akibat Campak Berujung Komplikasi Otak

Tragis! Bocah 7 Tahun Meninggal Akibat Campak Berujung Komplikasi Otak

Sarah Oktaviani Alam - detikJabar
Jumat, 17 Apr 2026 19:00 WIB
Measles, Mumps, Rubella vaccine in a vial, immunization and treatment of infection, scientific experiment
Ilustrasi imunisasi atau vaksin campak. Foto: Getty Images/Kittisak Kaewchalun
Jakarta -

Kasus tragis menimpa seorang anak laki-laki berusia 7 tahun di Amerika Serikat yang meninggal dunia setelah mengalami komplikasi otak akibat campak. Peristiwa ini memicu kekhawatiran baru terkait dampak jangka panjang penyakit yang sangat menular tersebut.

Anak tersebut diketahui terinfeksi campak saat berusia 7 bulan. Namun, ketika menginjak usia 6 tahun, ia mulai mengalami penurunan fungsi kognitif disertai kejang.

Dokter kemudian mendiagnosisnya dengan Subacute Sclerosing Panencephalitis (SSPE), gangguan otak langka yang dapat muncul bertahun-tahun setelah infeksi campak.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Penyakit ini umumnya diawali dengan perubahan halus, seperti gangguan memori, mudah marah, atau perubahan suasana hati. Seiring waktu, kondisi dapat berkembang menjadi kejang otot, kehilangan koordinasi, kerusakan otak berat, hingga koma, dan hampir selalu berujung kematian.

Gejala SSPE biasanya muncul dalam rentang 6 hingga 10 tahun setelah infeksi awal.

ADVERTISEMENT

Campak sendiri kerap diawali gejala mirip flu, seperti batuk, pilek, sakit tenggorokan, dan mata berair. Kondisi ini kemudian berkembang menjadi demam tinggi serta ruam merah yang menyebar ke seluruh tubuh.

Virus campak dapat bertahan di dalam tubuh dan mengalami mutasi tertentu yang kemudian memicu SSPE di kemudian hari.

"Campak itu seperti menetap di otak Anda dan menyebabkan perubahan pada tingkat seluler yang terjadi secara diam-diam," kata Sharon Nachman, kepala penyakit infeksi pediatrik di Children's Hospital of Orange Country, California.

"Anda bisa saja terkena campak saat berusia 2 tahun, dan sekarang Anda kuliah, dan tiba-tiba otak Anda rusak dan Anda tidak memiliki masa depan," tambahnya, dikutip dari NYPost.

Secara statistik, sekitar 4 hingga 11 dari 100 ribu kasus campak berkembang menjadi SSPE. Risiko tersebut meningkat hingga 18 per 100 ribu jika infeksi terjadi pada anak di bawah usia 5 tahun.

Kasus serupa juga pernah terjadi, termasuk kematian anak usia sekolah di Los Angeles akibat komplikasi setelah terinfeksi campak saat bayi, sebelum memenuhi syarat vaksinasi.

Hingga kini, belum ada obat yang dapat menyembuhkan SSPE. Penanganan yang tersedia hanya bertujuan memperlambat perkembangan penyakit.

Meski tergolong jarang, dengan sekitar 4 hingga 5 kasus per tahun di AS, jumlah SSPE diperkirakan meningkat seiring lonjakan kasus campak.

Data menunjukkan, pada 2024 terdapat 2.242 kasus campak di AS, dengan 93 persen terjadi pada individu yang tidak divaksinasi atau status vaksinasinya tidak diketahui. Bahkan, tiga kematian terkait campak dilaporkan pada 2025.

Status vaksinasi anak tersebut tidak diketahui. Namun, pencegahan paling efektif terhadap campak dan komplikasinya adalah vaksin MMR (measles, mumps, rubella), yang diberikan pertama kali pada usia 12-15 bulan dan dosis kedua sebelum anak memasuki usia sekolah.

Tingkat vaksinasi MMR dan imunisasi rutin lainnya dilaporkan menurun sejak pandemi COVID-19, sehingga meningkatkan risiko munculnya kembali wabah penyakit menular seperti campak.

Artikel ini telah tayang di detikHealth. Baca selengkapnya di sini.

(sao/sud)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads