Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Ciamis mencatat sebanyak 13.400 Anak Tidak Sekolah (ATS) berdasarkan data awal Pusat Data dan Teknologi Informasi (Pusdatin). Namun, angka tersebut kini tengah diverifikasi ulang karena diduga belum sepenuhnya valid.
Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Ciamis, Erwan Darmawan, membenarkan temuan tersebut. Saat ini, Disdik tengah menggandeng pemerintah desa untuk melakukan verifikasi faktual guna memastikan kondisi di lapangan.
"Sekitar 13 ribuan data awal, tapi ini masih kita verifikasi. Karena ada kemungkinan dari data itu, orangnya sudah pindah, tidak dikenal, atau bahkan sudah meninggal," kata Erwan saat dihubungi, Rabu (29/4/2026).
Menurut Erwan, meski angka 13.400 terlihat besar, namun jika dibandingkan dengan total jumlah penduduk Ciamis secara keseluruhan, angka tersebut tergolong relatif.
"Posisi Ciamis tidak paling tinggi di Jawa Barat. Mudah-mudahan dengan proses verifikasi ini angkanya bisa terus berkurang," ujarnya.
Untuk menekan angka anak tidak sekolah, Disdik Ciamis menggandeng Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) melalui pendekatan jemput bola. Petugas mendatangi langsung anak-anak yang putus sekolah untuk mengidentifikasi penyebabnya sekaligus mengajak mereka kembali belajar.
"PKBM kita dorong untuk jemput bola. Mereka tidak hanya mengajak sekolah lagi, tapi juga mencari tahu kendala yang dihadapi anak-anak tersebut," jelasnya.
Erwan menyebutkan sejumlah pemicu tingginya angka ATS di Ciamis. Di antaranya adalah kendala ekonomi, baik karena keterbatasan biaya maupun pilihan anak untuk bekerja. Selain itu, pernikahan dini menjadi penyebab lain yang membuat anak enggan kembali ke bangku sekolah.
"Ada juga yang sudah menikah, lalu merasa malu untuk kembali sekolah. Ini yang kita coba dekati dan beri pemahaman," jelasnya.
Faktor lain yang ditemukan yakni minimnya dukungan orang tua serta pilihan anak untuk bekerja dibandingkan sekolah. Di sisi lain, terdapat pula anak yang melanjutkan pendidikan ke pesantren namun tidak tercatat dalam sistem formal, sehingga masuk dalam kategori ATS.
"Kita juga kerja sama dan mendorong pesantren untuk mendirikan PKBM, sehingga anak itu tetap bisa mendapatkan ijazah," katanya.
Simak Video " Video: Jembatan Putus, Siswa di Cianjur Seberangi Sungai Demi Bersekolah"
(mso/mso)