13.400 Anak di Ciamis Tidak Sekolah, Begini Penjelasan Dinas Pendidikan

13.400 Anak di Ciamis Tidak Sekolah, Begini Penjelasan Dinas Pendidikan

Dadang Hermansyah - detikJabar
Rabu, 29 Apr 2026 15:55 WIB
Ilustrasi Anak Ujian Sekolah
Ilustrasi sekolah (Foto: Getty Images/iStockphoto/hxdbzxy).
Ciamis -

Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Ciamis mencatat sebanyak 13.400 Anak Tidak Sekolah (ATS) berdasarkan data awal Pusat Data dan Teknologi Informasi (Pusdatin). Namun, angka tersebut kini tengah diverifikasi ulang karena diduga belum sepenuhnya valid.

Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Ciamis, Erwan Darmawan, membenarkan temuan tersebut. Saat ini, Disdik tengah menggandeng pemerintah desa untuk melakukan verifikasi faktual guna memastikan kondisi di lapangan.

"Sekitar 13 ribuan data awal, tapi ini masih kita verifikasi. Karena ada kemungkinan dari data itu, orangnya sudah pindah, tidak dikenal, atau bahkan sudah meninggal," kata Erwan saat dihubungi, Rabu (29/4/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut Erwan, meski angka 13.400 terlihat besar, namun jika dibandingkan dengan total jumlah penduduk Ciamis secara keseluruhan, angka tersebut tergolong relatif.

"Posisi Ciamis tidak paling tinggi di Jawa Barat. Mudah-mudahan dengan proses verifikasi ini angkanya bisa terus berkurang," ujarnya.

ADVERTISEMENT

Untuk menekan angka anak tidak sekolah, Disdik Ciamis menggandeng Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) melalui pendekatan jemput bola. Petugas mendatangi langsung anak-anak yang putus sekolah untuk mengidentifikasi penyebabnya sekaligus mengajak mereka kembali belajar.

"PKBM kita dorong untuk jemput bola. Mereka tidak hanya mengajak sekolah lagi, tapi juga mencari tahu kendala yang dihadapi anak-anak tersebut," jelasnya.

Erwan menyebutkan sejumlah pemicu tingginya angka ATS di Ciamis. Di antaranya adalah kendala ekonomi, baik karena keterbatasan biaya maupun pilihan anak untuk bekerja. Selain itu, pernikahan dini menjadi penyebab lain yang membuat anak enggan kembali ke bangku sekolah.

"Ada juga yang sudah menikah, lalu merasa malu untuk kembali sekolah. Ini yang kita coba dekati dan beri pemahaman," jelasnya.

Faktor lain yang ditemukan yakni minimnya dukungan orang tua serta pilihan anak untuk bekerja dibandingkan sekolah. Di sisi lain, terdapat pula anak yang melanjutkan pendidikan ke pesantren namun tidak tercatat dalam sistem formal, sehingga masuk dalam kategori ATS.

"Kita juga kerja sama dan mendorong pesantren untuk mendirikan PKBM, sehingga anak itu tetap bisa mendapatkan ijazah," katanya.

Disdik Ciamis juga berupaya menekan angka putus sekolah baru atau drop out (DO), sekaligus memastikan lulusan SD dan SMP tetap melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

Erwan pun mengajak masyarakat untuk ikut berperan aktif dalam menekan angka anak tidak sekolah dengan mendorong anak-anak di lingkungan sekitar agar kembali belajar.

"Kalau ada anak di sekitar yang tidak sekolah, ayo kita ajak kembali sekolah. Kita sudah siapkan wadahnya," pungkasnya.

Sementara itu, Sekretaris Dinas Pendidikan Kabupaten Ciamis, Muharam A Zajuli, menambahkan bahwa proses verifikasi data ATS terus berjalan. Dari sekitar 13 ribu data awal, sebanyak 59 persen di antaranya telah berhasil diverifikasi.

"Dari sekitar 13 ribu data awal, saat ini kurang lebih 59 persen sudah kami verifikasi. Kami juga sudah mulai mengidentifikasi alasan dan melakukan kategorisasi," ujar Muharam.

Ia menjelaskan, sebagian besar anak yang masuk kategori ATS diketahui sudah bekerja. Selain faktor ekonomi, ada pula yang memilih tidak melanjutkan sekolah karena kurangnya motivasi belajar hingga faktor pernikahan di usia dini.

"Paling banyak karena sudah bekerja. Faktor ekonomi juga cukup dominan, ada juga yang malas belajar, dan juga menikah," jelasnya.

Ke depan, pihaknya akan terus memutakhirkan data sekaligus mendorong anak-anak tersebut kembali mengenyam pendidikan, baik melalui jalur formal maupun nonformal seperti program paket atau PKBM.

"Kami akan terus memperbarui data ATS dan mendorong mereka kembali sekolah. Ada yang masuk ke satuan pendidikan formal, ada juga yang melalui paket atau PKBM. Sasaran kami anak usia 7 sampai 18 tahun," pungkasnya.

Halaman 2 dari 2


Simak Video " Video: Jembatan Putus, Siswa di Cianjur Seberangi Sungai Demi Bersekolah"
[Gambas:Video 20detik] (mso/mso)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads