Hingar bingar di masa Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) tahun ajaran 2026/2027, SD Negeri 2 Salakaria di Kecamatan Sukadana, Kabupaten Ciamis, tak terlihat lagi.
Di kala sekolah lain sibuk menyambut peserta didik baru, suasana di sekolah yang berada di pelosok Ciamis itu justru tampak sepi. Di hari pertama sekolah tidak ada upacara pembukaan MPLS maupun barisan murid baru yang memenuhi halaman sekolah.
Suasana sepi itu terjadi karena sekolah itu, hanya mendapatkan satu siswa pendaftar. Akibat sepi peminat, kegiatan MPLS yang telah dipersiapkan khusus untuknya terpaksa ditunda.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Maya Nurhidayah, guru kelas 1 di sekolah itu mengatakan, jika pihak sekolah sudah menyediakan berbagai kebutuhan untuk menyambut murid barunya. Mulai dari alat peraga hingga materi pengenalan sekolah telah dipersiapkan sejak beberapa hari sebelumnya.
"Sedih juga karena hari pertama seharusnya MPLS. Muridnya hanya satu orang, tetapi hari ini tidak bisa masuk karena sakit," kata Maya kepada detikJabar, Rabu (15/7).
Maya mengungkapkan, tahun ajaran ini merupakan pengalaman pertamanya menjabat sebagai wali kelas 1. Sebelumnya, ia mengajar siswa kelas 2. Meski hanya memiliki satu murid, semangatnya tak berkurang sedikit pun.
"Awalnya yang mendaftar ada dua anak, tetapi satu lagi pindah ke Bogor. Saya tetap semangat menyambut murid baru meski hanya satu orang," ungkapnya.
Maya berharap siswanya segera pulih agar kegiatan MPLS bisa segera dilaksanakan. Menurutnya, mengajar satu murid justru membuka ruang untuk memberikan perhatian lebih dalam proses belajar-mengajar.
"Kalau hanya satu murid, saya bisa lebih fokus mendampingi. Saya ingin memberikan pengalaman belajar yang menyenangkan, memberi motivasi, dan membuatnya betah di sekolah. Rasanya seperti mengajar les privat," harap Maya yang merupakan guru honorer di sekolah tersebut.
Sementara itu, Kepala SD Negeri 2 Salakaria, Deni Purnama, menyebut total siswa di sekolahnya saat ini hanya 32 orang. Rinciannya: kelas 1 satu siswa, kelas 2 tujuh siswa, kelas 3 sembilan siswa, kelas 4 lima siswa, kelas 5 lima siswa, dan kelas 6 enam siswa.
Deni menjelaskan, minimnya jumlah peserta didik dipengaruhi kondisi lingkungan sekitar yang memang memiliki jumlah anak usia sekolah relatif sedikit.
"Wilayah kami dikenal sebagai kampung KB sehingga jumlah anak usia sekolah tidak banyak. Biasanya setiap tahun kami menerima sekitar lima siswa, tetapi tahun ini hanya satu. Mudah-mudahan tahun depan jumlahnya kembali meningkat," jelasnya.
Meski demikian, Demi memastikan kualitas layanan pendidikan tetap menjadi prioritas. Para guru tetap mengajar secara maksimal dengan dukungan fasilitas belajar yang memadai. Salah satunya penggunaan Interactive Flat Panel (IFP) sebagai media pembelajaran di kelas.
"Jumlah murid memang sedikit, tetapi kami terus berupaya memberikan pendidikan terbaik. Alhamdulillah sekolah ini juga pernah meraih prestasi tingkat Provinsi Jawa Barat di bidang keagamaan, serta juara tingkat kabupaten untuk cabang tari dan Pendidikan Agama Islam," jelasnya.
Deni mengakui bahwa mengelola sekolah dengan jumlah siswa minim bukanlah perkara mudah. Namun, kekompakan para guru menjadi kekuatan utama agar proses belajar-mengajar tetap berjalan dengan baik.
"Semua guru saling mendukung. Kalau ada kekurangan, kami berusaha menutupinya bersama-sama demi memberikan pelayanan terbaik kepada anak-anak," tuturnya.
Situasi ini pun mendapat sorotan dari Dinas Pendidikan Kabupaten Ciamis. Kepala Dinas Pendidikan, Erwan Darmawan, menegaskan bahwa fenomena ini terjadi bukan karena rendahnya kualitas pendidikan di sekolah tersebut, melainkan lebih disebabkan oleh faktor demografi penduduk di lingkungan sekitar.
"Setelah kami evaluasi, ternyata bukan karena sekolah ini tidak berkualitas. Memang jumlah anak usia sekolah di lingkungan sini sudah sedikit. Banyak penduduk yang usianya sudah lanjut dan kawasan ini juga merupakan Kampung KB, sehingga jumlah kelahiran tidak banyak," tutur Erwan.
Meski hanya menerima satu siswa baru, Erwan menilai semangat para guru di SDN 2 Salakaria tetap tinggi. Bahkan, sekolah tersebut pernah menorehkan prestasi hingga tingkat Provinsi Jawa Barat.
"Tadi kami melihat langsung, guru-gurunya tetap semangat. Sekolah ini juga punya prestasi, bahkan pernah menjadi juara tingkat provinsi. Artinya kualitas sekolah tetap terjaga meskipun jumlah siswanya sedikit," terangnya.
Erwan memastikan tidak ada perbedaan pelayanan antara sekolah yang memiliki banyak siswa dengan sekolah yang jumlah muridnya minim.
"Sedikit atau banyak siswanya, pelayanan pendidikan harus tetap sama. Justru dengan jumlah siswa yang sedikit, guru bisa memberikan perhatian yang lebih maksimal kepada peserta didik," ujarnya.
Erwan menambahkan, SDN 2 Salakaria bukan satu-satunya sekolah dengan jumlah murid yang sedikit. Kondisi serupa juga ditemukan di beberapa sekolah dasar lainnya di Kabupaten Ciamis.
"Ada beberapa sekolah lain yang siswanya juga sedikit, seperti di wilayah Lakbok, Rancah, Ciamis dan beberapa daerah lainnya. Karena itu kami datang untuk memberi semangat kepada guru dan siswa agar tetap optimistis menjalankan proses belajar mengajar," tambahnya.
Erwan menegaskan, hal terpenting bagi pemerintah adalah memastikan seluruh anak usia sekolah tetap memperoleh layanan pendidikan, di mana pun mereka bersekolah.
"Orang tua memiliki hak memilih sekolah, baik SD negeri, SD swasta maupun Madrasah Ibtidaiyah. Tugas kami adalah memastikan layanan pendidikan tersedia dan terus ditingkatkan. Kalau masih ada kekurangan, itu menjadi bahan evaluasi kami," tuturnya.
Erwan menegaskan, keberadaan sekolah dengan jumlah siswa yang sedikit tetap menjadi perhatian pemerintah daerah.
"Walaupun muridnya hanya satu orang, layanan pendidikannya tetap harus maksimal. Anak-anak memiliki hak yang sama untuk mendapatkan pendidikan yang berkualitas," tegas Erwan.
(wip/yum)
