Perubahan arah kiblat dari Baitul Maqdis (Masjid Al-Aqsa di Yerusalem) menuju Ka'bah di Masjidil Haram merupakan salah satu peristiwa penting dalam sejarah Islam. Peristiwa ini dialami Rasulullah SAW bersama para sahabat.
Saat itu Nabi Muhammad SAW bersama para sahabat sedang mendirikan salat, kemudian mengubah arah kiblat di tengah pelaksanaan salat berjamaah. Tanpa membatalkan salat, mereka langsung berputar mengikuti perintah Allah SWT yang baru saja turun.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Umat Islam Salat Menghadap Baitul Maqdis
Dikutip dari Buku Tarikh SMP Kelas IX karya H. Wafi Marziqi Ammar, ketika Rasulullah SAW di Makkah, beliau salat menghadap Baitul Maqdis, bahkan ketika hijrah ke Madinah pun beliau masih menghadapnya kurang lebih sepuluh bulan.
Meskipun demikian, Rasulullah SAW memiliki keinginan agar kiblat kaum muslimin diarahkan ke Ka'bah, rumah ibadah pertama yang dibangun untuk menyembah Allah SWT.
Keinginan tersebut bukan tanpa alasan. Ka'bah merupakan bangunan suci yang dibangun oleh Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS atas perintah Allah.
Rasulullah SAW sering menengadahkan wajah ke langit menantikan wahyu mengenai perubahan arah kiblat.
Turunnya Perintah Menghadap Ka'bah
Doa Rasulullah SAW akhirnya dikabulkan Allah SWT.
Pada suatu hari, Rasulullah SAW mengunjungi Ummu Bisyr bin Bara' bin Ma'rur dari suku Bani Salimah. Lalu Ummu Bisyr menjamu beliau. Kemudian tibalah waktu salat Zuhur.
Nabi SAW dan para sahabat mengerjakan salat di masjid. Ketika salat Zuhur sudah berjalan dua rakaat, turunlah malaikat Jibril yang mengisyaratkan untuk salat menghadap Baitullah dan Jibril pun salat menghadap ke sana.
Maka Nabi SAW memutar posisinya menghadap Ka'bah, bertukarlah posisi wanita pada kaum lelaki dan posisi kaum lelaki pada posisi wanita. Peristiwa ini kemudian menjadikan masjid itu dinamakan dengan Masjid Qiblatain.
Perintah ini menjadi titik balik arah kiblat umat Islam dari Baitul Maqdis menuju Ka'bah di Makkah.
Kisah ini diabadikan dalam Al-Qur'an surah Al-Baqarah ayat 144,
قَدْ نَرَىٰ تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِى ٱلسَّمَآءِ ۖ فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضَىٰهَا ۚ فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ ٱلْمَسْجِدِ ٱلْحَرَامِ ۚ وَحَيْثُ مَا كُنتُمْ فَوَلُّوا۟ وُجُوهَكُمْ شَطْرَهُۥ ۗ وَإِنَّ ٱلَّذِينَ أُوتُوا۟ ٱلْكِتَٰبَ لَيَعْلَمُونَ أَنَّهُ ٱلْحَقُّ مِن رَّبِّهِمْ ۗ وَمَا ٱللَّهُ بِغَٰفِلٍ عَمَّا يَعْمَلُونَ
Artinya: Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan di mana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Al Kitab (Taurat dan Injil) memang mengetahui, bahwa berpaling ke Masjidil Haram itu adalah benar dari Tuhannya; dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan.
Kabar mengenai perubahan kiblat itu pun segera menyebar ke berbagai wilayah di sekitar Madinah.
Sahabat Berputar di Tengah Salat
Peristiwa yang paling masyhur terjadi di Masjid Bani Salamah, yang kini dikenal dengan nama Masjid Qiblatain atau Masjid Berkiblat Dua.
Merangkum buku Ilmu Falak karya Riza Afrian Mustaqim, para sahabat yang salat bersama Rasulullah SAW segera mengikuti perintah setelah wahyu mengenai perubahan kiblat turun.
Tanpa membatalkan salat, imam beserta seluruh makmum berputar sekitar 180 derajat sehingga arah salat berubah menuju Ka'bah.
Peristiwa ini diriwayatkan dalam hadits sahih dari Abdullah bin Umar RA.
Rasulullah SAW bersabda sebagaimana diriwayatkan dalam Shahih al-Bukhari, "Ketika orang-orang sedang melaksanakan salat Subuh di Masjid Quba, datang seseorang lalu berkata, 'Sesungguhnya telah turun kepada Rasulullah SAW ayat Al-Qur'an pada malam tadi dan beliau diperintahkan menghadap Ka'bah. Maka menghadaplah kalian ke sana.' Saat itu mereka sedang menghadap ke Syam, lalu mereka pun berputar menghadap Ka'bah." (HR. Bukhari)
Riwayat lain juga menyebutkan peristiwa serupa terjadi di kalangan kaum muslimin yang sedang menunaikan salat ketika kabar perubahan kiblat tiba.
Nuwailah binti Muslim menceritakan, ketika ia melaksanakan salat Ashar di Masjid Bani Haritsah, berita pemindahan kiblat disampaikan oleh seseorang. Jemaah pun segera menyesuaikan diri dengan bertukar tempat antara jemaah laki-laki dan perempuan.
Kemudian Al Barra bin Azib RA berkata, "Sesungguhnya Nabi Muhammad SAW salat menghadap ke Baitul Maqdis selama 16 bulan atau 17 bulan. Beliau merasa heran jika kiblatnya adalah Baitul Maqdis, dimana sebelumnya adalah Ka'bah. Salat pertama yang menghadap ke Ka'bah adalah salat Ashar. Beliau salat bersama orang-orang. Lalu salah seorang jemaah keluar dari masjid dan menuju pada penghuni masjid lainnya yang ternyata sedang rukuk. Ia berkata, "Aku bersaksi dengan nama Allah SWT, aku benar-benar telah mendirikan salat bersama Nabi Muhammad SAW sambil menghadap Ka'bah. Maka orang-orang pun berputar menghadap Ka'bah." (HR. Bukhari)
Wallahu a'lam.
