Tawaf merupakan salah satu rukun haji dan umrah yang wajib dilakukan oleh setiap muslim. Dalam pelaksanaannya, jemaah mengelilingi Ka'bah sebanyak tujuh kali dengan arah berlawanan jarum jam, dimulai dari Hajar Aswad.
Bagi sebagian orang, arah putaran tawaf mungkin menimbulkan pertanyaan. Mengapa jemaah harus mengelilingi Ka'bah ke arah kiri atau berlawanan arah jarum jam? Apakah ada alasan khusus di balik tata cara tersebut?
Selain memiliki dasar syariat yang kuat, sejumlah ulama dan penulis muslim juga mengaitkan arah tawaf dengan fenomena yang terjadi di alam semesta. Berikut penjelasannya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sejarah Tawaf dalam Islam
Dalam buku Ensiklopedia Fikih Indonesia: Haji & Umroh karya Ahmad Sarwat, Lc., M.A., dijelaskan bahwa tawaf adalah kegiatan mengelilingi Ka'bah sebanyak tujuh putaran yang dimulai dan diakhiri di Hajar Aswad dengan posisi Ka'bah berada di sebelah kiri orang yang bertawaf.
Tradisi tawaf sudah ada sejak masa para nabi terdahulu. Dalam buku Sejarah Ibadah karya Syahruddin El Fikri disebutkan bahwa setelah Ka'bah selesai dibangun, Nabi Adam AS diperintahkan Allah SWT untuk melakukan tawaf sebanyak tujuh kali.
Amalan tersebut juga dilakukan oleh para malaikat. Di bumi mereka mengelilingi Baitullah, sementara di langit mereka melakukan tawaf di Bayt al-Ma'mur. Tradisi ini kemudian diteruskan oleh para nabi setelah Nabi Adam AS.
Dalam riwayat yang dikutip Ibnu Katsir dalam Bidayah wa an-Nihayah, Rasulullah SAW pernah menjelaskan bahwa Nabi Hud AS dan Nabi Saleh AS juga pernah berhaji ke Baitullah. Demikian pula Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS yang melakukan tawaf setelah menyelesaikan pembangunan Ka'bah.
Sebelum datangnya Islam, masyarakat Arab jahiliah juga mengenal tawaf. Namun pelaksanaannya jauh berbeda dari tuntunan syariat Islam. Mereka melakukan tawaf sambil bertepuk tangan dan bersiul, bahkan sebagian melakukannya tanpa mengenakan pakaian.
Hal ini disinggung Allah SWT dalam Surah Al-Anfal ayat 35:
وَمَا كَانَ صَلَاتُهُمْ عِندَ ٱلْبَيْتِ إِلَّا مُكَآءً وَتَصْدِيَةً ۚ فَذُوقُوا۟ ٱلْعَذَابَ بِمَا كُنتُمْ تَكْفُرُونَ
Artinya: "Sembahyang mereka di sekitar Baitullah itu, lain tidak hanyalah siulan dan tepukan tangan. Maka rasakanlah azab disebabkan kekafiranmu itu."
Mengapa Tawaf Dilakukan Sebanyak 7 Kali?
Tawaf dilakukan sebanyak tujuh putaran sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Pada tiga putaran pertama, jemaah laki-laki dianjurkan berjalan cepat (raml), sedangkan empat putaran berikutnya dilakukan dengan berjalan biasa.
Keterangan ini dijelaskan dalam buku Rahasia Dahsyat Energi Sapu Jagat: Petunjuk Nabi Muhammad SAW untuk Terkabulnya Semua Hajat karya M. Ghofur Khalil.
Dasarnya adalah hadits yang diriwayatkan dari Ibnu Umar RA:
"Ibnu Umar RA masuk Makkah ketika waktu duha. Lalu beliau mendatangi Ka'bah dan menyentuh Hajar Aswad sambil mengucapkan, 'Bismillah, wallahu akbar.' Kemudian beliau lari-lari kecil tiga kali putaran, lalu berjalan pada empat putaran berikutnya. Ibnu Umar mengatakan bahwa Rasulullah SAW melakukan hal ini." (HR Ahmad, dishahihkan oleh Syuaib al-Arnauth)
Karena itu, jumlah tujuh putaran bukan ditentukan oleh pertimbangan logika manusia, melainkan mengikuti tuntunan Rasulullah SAW sebagai bagian dari ibadah yang bersifat tauqifi atau berdasarkan ketetapan syariat.
Alasan Tawaf Berlawanan Arah Jarum Jam Menurut Sains
Secara syariat, tawaf dilakukan berlawanan arah jarum jam karena demikianlah tata cara yang diajarkan Rasulullah SAW. Mengubah arah tawaf dapat menyebabkan ibadah tersebut tidak sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan.
Namun menariknya, sejumlah penulis muslim melihat adanya keselarasan antara arah tawaf dan pola gerakan benda-benda di alam semesta.
Dalam buku Ka'bah Rahasia Kiblat Dunia karya Muhammad Abdul Hamid Asy-Syarqawi dan Muhammad Raja'i Ath-Thahlawi dijelaskan bahwa berbagai sistem di alam bergerak dengan pola yang mirip dengan arah tawaf.
Misalnya:
- Elektron berputar mengelilingi inti atom.
- Bulan mengelilingi bumi.
- Bumi mengorbit matahari.
- Planet-planet mengelilingi pusat tata surya.
- Tata surya bergerak mengitari pusat galaksi.
- Galaksi berputar mengelilingi gugus galaksi.
Pola gerakan tersebut digambarkan memiliki arah yang serupa dengan putaran tawaf, yaitu berlawanan arah jarum jam jika diamati dari sudut pandang tertentu.
Karena itu, sebagian kalangan memandang bahwa tawaf menggambarkan harmoni antara manusia dan alam semesta dalam beribadah kepada Allah SWT.
Meski terdapat penjelasan yang dikaitkan dengan sains, tujuan utama tawaf tetaplah ibadah dan ketaatan kepada Allah SWT.
Tawaf mengajarkan bahwa seluruh kehidupan seorang muslim seharusnya berpusat kepada Allah sebagaimana jemaah mengelilingi Ka'bah sebagai simbol pusat ibadah umat Islam.
Dengan bergerak bersama jutaan muslim dari berbagai bangsa dalam satu arah yang sama, tawaf juga menjadi simbol persatuan, kesetaraan, dan kepatuhan kepada perintah Allah SWT.
Pada akhirnya, alasan utama tawaf dilakukan tujuh kali dan berlawanan arah jarum jam adalah karena mengikuti sunnah Rasulullah SAW. Adapun kesesuaian dengan fenomena alam yang dijelaskan dalam berbagai literatur dapat menjadi salah satu hikmah yang semakin menambah kekaguman terhadap syariat Islam.
Wallahu a'lam.
(hnh/kri)












































Komentar Terbanyak
Tega! Oknum KBIH Diduga Tipu 140 Jemaah Haji, Transaksi hingga Rp 1,4 M
Mengapa Indonesia Tak Dapat Labbaytum Award, Penyelenggara Haji Terbaik 2026 dari Saudi?
Kenapa Air Zamzam Tak Pernah Habis Meski Diambil Jutaan Jemaah?