Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur menjadi sorotan setelah salah seorang pengusaha sound horeg melontarkan kata "goblok" dalam sebuah acara televisi nasional. Pernyataan tersebut disampaikan saat membahas fatwa MUI Jatim mengenai sound horeg.
Pengusaha sound horeg Setyo Budi Mularso menyampaikan pendapatnya dalam acara Catatan Demokrasi bertema Sound Horeg: Musik Berujung Petaka. Dalam kesempatan itu, Setyo menyebut MUI Jatim "goblok" di hadapan Ketua Komisi Fatwa MUI Jatim KH Ma'ruf Khozin.
Kiai Ma'ruf, sapaan KH Ma'ruf Khozin, mengatakan dirinya tidak merasa sakit hati atas perkataan tersebut. Ia memilih menyikapinya sebagai bagian dari proses dakwah dan pembelajaran.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Nggak ada, biasa saja, bagi kami, kalau dikatain seperti itu ya kami memang selalu harus belajar setiap hari," kata Kiai Ma'ruf dikutip dari detikJatim, Kamis (10/9/2026).
Tak Kenal Pengusaha Sound Horeg yang Menghina MUI
Kiai Ma'ruf mengatakan dirinya belum pernah mengenal Setyo Budi Mularso sebelum bertemu dalam acara tersebut. Ia pun mengaku tidak mengetahui latar belakang pengusaha sound horeg itu hingga tiba-tiba mendapatkan perkataan yang dianggap tidak pantas.
"Kita belum pernah kenal sebelumnya. Kalau Mas David (pengusaha sound horeg lainnya) pernah bertemu saya dari awal tahun kemarin. Beliau (David) sound horeg bersedia untuk memperbaiki, beliau anak buahnya kenal baik dengan Gus Iqdam, jadi masih ada santrinya lah," jelasnya.
"Yang Pak Budi ini, kami tidak pernah kenal, ternyata beliau salah satu pengusaha. Ya mungkin saya nggak tahu latar belakangnya bagaimana, tiba-tiba menganggap kami goblok," tambahnya.
Meski demikian, Kiai Ma'ruf menegaskan tidak ingin membalas perkataan tersebut dengan kemarahan. Ia mengibaratkan posisi MUI Jatim dalam persoalan sound horeg seperti hubungan antara dokter dan pasien.
Menurut Kiai Ma'ruf, seorang dokter tetap harus memberikan nasihat kepada pasien meskipun nasihat tersebut tidak selalu diterima dengan baik. Ia menggunakan contoh dokter yang meminta seseorang berhenti merokok.
"Ketika menghadapi hal yang semacam itu, sama seperti dengan dokter. Ada dokter jantung menasehati orang jangan merokok. Nah, orang yang merokok itu dia menikmati rokoknya, dia akan mencaci maki terhadap dokter. Tapi dokternya nggak boleh marah. Suatu saat bertemu dengan orang tadi, tetap dokternya harus mengobati," jelas Kiai Ma'ruf.
Ia mengatakan sikap serupa juga ingin diterapkannya dalam menghadapi polemik sound horeg. Menurutnya, tugas MUI adalah menyampaikan pandangan keagamaan, bukan membalas cacian.
"'Nah, saya berada di situasi seperti itu. Saya berada di situasi nggak boleh membalas kemarahan, tidak boleh membalas caciannya. Cuma kita perlu memberitahu, sama dengan dokter kalau merokok, bahayanya ini. Saya juga begitu, ini secara agama, begini, begini, begini," tambahnya.
Tak Pilih Hukuman, MUI Jatim Sebut Fatwa Lebih Efektif
Kiai Ma'ruf mengatakan MUI Jatim tidak mengambil langkah berupa hukuman atau punishment. Menurutnya, fatwa menjadi jalan tengah dalam menyikapi persoalan tersebut.
"Banyak yang berbenah, banyak, ini kalau di Jawa Timur pakai Sunan Kalijaga, ya nggak mempan. Ibarat orang sakit, ini obat dosisnya perlu lebih tinggi. Tapi kita tidak menggunakan cara yang ketiga, yakni punishment atau hukuman, kita nggak pakai itu. Jadi sebenarnya kita masih tengah, kita masih tengah. Tapi bagi teman-teman yang di Jawa Tengah mungkin mereka mendengar kata "haram" itu sudah (emosi), sampai digituin lah. Tapi bagi saya, kalau (kata goblok) ditujukan ke saya pribadi, nggak masalah. Kita ini terus belajar kok, tiap hari kan kita belajar," bebernya.
Kiai Ma'ruf menegaskan dirinya tidak mempermasalahkan apabila perkataan tersebut ditujukan kepada dirinya secara pribadi. Namun, ia menilai penyebutan "goblok" terhadap institusi MUI Jatim merupakan hal yang berbeda.
Berita selengkapnya klik di sini
Simak Video "Video: Galak ke MUI Jatim, Budi Langsung Tobat Mau Jual Sound Horeg Usai Dimarahi Istri"
[Gambas:Video 20detik] (dvs/lus)
