Di antara riwayat yang sering dikutip dalam pembahasan adab ziarah kubur adalah kisah ketika Nabi Muhammad SAW menancapkan dua batang pohon kurma di atas sebuah makam. Peristiwa ini terekam dalam hadis sahih dan menjadi pelajaran penting tentang doa, rahmat, serta peringatan bagi umat.
Kisah tersebut diriwayatkan oleh para sahabat dan tercantum dalam kitab hadits sahih, di antaranya dalam Sahih Bukhari dan Sahih Muslim.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Disebutkan dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Ibnu Abbas RA,
مَرَّ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَلَى قَبْرَيْنِ فَقَالَ: أَمَا إِنَّهُمَا لَيُعَذَّبَانِ وَمَا يُعَذَّبَانِ فِي كَبِيرٍ، ثُمَّ قالَ بَلَى، إنَّهُ لَكَبِيْرٌ، أَمَّا أَحَدُهُمَا فَكَانَ يَمْشِي بِالنَّمِيمَةِ، وَأَمَّا الْآخَرُ فَكَانَ لَا يَسْتَتِرُ مِنْ بَوْلِهِ، قَالَ: فَدَعَا بِعَسِيبٍ رَطْبٍ فَشَقَّهُ بِاثْنَيْنِ، ثُمَّ غَرَسَ عَلَى هَذَا وَاحِدًا، وَعَلَى هَذَا وَاحِدًا، ثُمَّ قَالَ: لَعَلَّهُ أَنْ يُخَفَّفُ عَنْهُمَا مَا لَمْ يَيْبَسَا
Artinya: "Suatu ketika Nabi SAW melewati dua kuburan, kemudian beliau berkata; 'Sesungguhnya kedua penghuni kuburan ini sedang diazab, mereka berdua diazab bukan karena dosa besar. Adapun salah satunya dahulu tidak menutup diri ketika kencing. Adapun yang lainnya, dahulu sering berjalan sambil menyebar fitnah. Kemudian beliau mengambil pelepah kurma yang masih basah dan dibelah menjadi dua, masing-masing ditanam pada kedua kuburan tersebut. Para sahabat bertanya; 'Wahai Rasulullah, kenapa engkau melakukan ini?' Beliau menjawab; 'Mudah-mudahan ini bisa meringankan azab keduanya selama belum kering."
Dikutip dari buku Fikih Sunnah - Jilid 2 karya Sayyid Sabiq, hadits ini menjelaskan suatu hari, Nabi Muhammad SAW melewati dua kuburan. Beliau kemudian bersabda bahwa kedua penghuni kubur tersebut sedang diazab, dan azab itu bukan karena perkara yang dianggap besar oleh manusia.
Dalam riwayat disebutkan, salah satu dari keduanya tidak menjaga diri dari percikan air kencing, sementara yang lain gemar mengadu domba (namimah).
Setelah itu, Rasulullah SAW meminta diambilkan pelepah kurma yang masih basah. Beliau membelahnya menjadi dua bagian, lalu menancapkan masing-masing pada kedua makam tersebut. Para sahabat bertanya tentang tindakan itu, dan beliau menjawab bahwa diharapkan selama pelepah itu belum kering, azab keduanya diringankan.
Ulama menjelaskan bahwa tindakan Nabi SAW bukanlah sekadar simbol, melainkan bentuk doa dan harapan agar siksa keduanya diringankan. Pelepah yang masih basah diyakini bertasbih kepada Allah SWT, sebagaimana seluruh makhluk bertasbih dengan cara yang hanya diketahui oleh-Nya. Selama tasbih itu berlangsung, diharapkan membawa keberkahan bagi penghuni kubur.
Bukan Dalil Umum untuk Menanam Pohon di Kuburan
Sebagian ulama menegaskan bahwa perbuatan tersebut adalah kekhususan Nabi SAW, karena beliau mengetahui keadaan penghuni kubur melalui wahyu.
Oleh sebab itu, tindakan menancapkan pelepah atau tanaman di kuburan tidak otomatis menjadi sunnah umum bagi umat Islam, kecuali jika dimaksudkan sebagai tanaman biasa tanpa keyakinan tertentu.
Kisah ini pada akhirnya mengingatkan setiap muslim untuk menjaga lisan, menjaga kebersihan, serta memperbanyak doa bagi sesama.
(dvs/inf)












































Komentar Terbanyak
Wamenhaj Dahnil Anzar Nilai Presiden Prabowo Layak Jadi Bapak Haji Indonesia
Mengapa Nabi Isa Disebut Belum Wafat dalam Islam?
Secara Hisab, Idul Adha 1447 H Jatuh pada 27 Mei 2026