Siapa Paman Nabi yang Kekal di Neraka? Begini Kisahnya

Siapa Paman Nabi yang Kekal di Neraka? Begini Kisahnya

Indah Fitrah - detikHikmah
Jumat, 29 Agu 2025 08:45 WIB
ilustrasi pria depresi
Foto: thinkstock
Jakarta -

Abu Lahab adalah salah satu paman Nabi Muhammad SAW yang dikenal sangat keras menentang dakwah beliau. Meski pada awalnya memiliki hubungan baik dengan keponakannya, sikapnya berubah drastis setelah Nabi menerima wahyu. Namanya pun diabadikan dalam surah Al-Lahab sebagai gambaran balasan bagi orang yang memusuhi risalah tauhid.

Sekilas tentang Abu Lahab

Menurut Tafsir Al-Azhar karya Buya Hamka, nama asli Abu Lahab adalah Abdul 'Uzza bin Abdul Muthalib. Ia mendapat julukan "Abu Lahab" atau "Si Menyala" karena wajahnya tampak berseri dan menarik. Istrinya bernama Arwa, lebih dikenal sebagai Ummu Jamil, saudara perempuan Abu Sufyan bin Harb sekaligus bibi dari Mu'awiyah.

Pada awalnya, Abu Lahab memperlihatkan kasih sayang. Saat Nabi Muhammad SAW lahir, ia begitu gembira hingga memerdekakan budaknya bernama Tsuwaibah untuk menyusui bayi Muhammad sebelum Halimah As-Sa'diyah datang dari Bani Sa'ad. Bahkan salah satu putra Abu Lahab sempat menikah dengan putri Rasulullah SAW.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Namun, semua itu berubah ketika Nabi menyampaikan dakwah. Abu Lahab tampil sebagai penentang paling keras, bahkan melampaui Abu Jahal.

ADVERTISEMENT

Perlawanan Terhadap Dakwah Nabi Muhammad SAW

Ketika turun perintah untuk memberi peringatan kepada keluarga terdekat, Nabi Muhammad SAW berdiri di Bukit Shafa dan menyeru kaumnya. Beliau bertanya apakah mereka akan mempercayai ucapannya jika diberitahu ada musuh yang datang dari balik bukit. Mereka menjawab bahwa Nabi Muhammad tidak pernah berdusta.

Setelah itu Nabi Muhammad SAW memperingatkan mereka tentang azab Allah yang menanti bagi orang yang ingkar. Mendengar peringatan itu, semua orang terdiam. Hanya Abu Lahab yang bersuara lantang: "Celaka engkau, hanya untuk ini engkau mengumpulkan kami?" Ucapan ini menjadi puncak penentangannya, hingga turunlah surah Al-Lahab yang mengabadikan kebinasaan dirinya dan istrinya.

Permusuhan itu tidak berhenti pada Abu Lahab saja. Istrinya, Ummu Jamil, ikut menentang Nabi. Riwayat dari al-Humaidi menceritakan bahwa ketika Ummu Jamil mendengar turunnya surah Al-Lahab, ia mendatangi Ka'bah dengan membawa batu. Saat itu Nabi duduk bersama Abu Bakar, tetapi Allah menutup pandangannya sehingga ia hanya melihat Abu Bakar.

Dengan marah ia berkata bahwa jika bertemu Nabi, batu itu akan dilemparkan ke wajah beliau. Setelah itu ia pun pergi.
Kisah ini menunjukkan bahwa permusuhan Abu Lahab dan istrinya bersifat terbuka, bahkan di hadapan orang-orang Quraisy.

Keringanan Azab Abu Lahab

Meski akhir hidup Abu Lahab digambarkan dalam Al-Qur'an sebagai penghuni neraka, ada sebuah riwayat yang menyebutkan ia mendapat keringanan siksa di hari tertentu. Imam Bukhari meriwayatkan dalam Shahih-nya, sebagaimana dikutip dalam buku Jalan Damai Rasulullah Risalah Rahmat bagi Semua karya Fuad Abdurahman.

Al-Abbas, paman Nabi yang lain, bermimpi melihat Abu Lahab setelah wafatnya. Dalam mimpi itu, Abu Lahab tampak memakai pakaian putih. Ia ditanya tentang keadaannya, dan Abu Lahab menjawab bahwa setiap malam Senin ia mendapatkan keringanan siksa. Hal itu karena pada hari kelahiran Nabi, ia pernah memerdekakan Tsuwaibah dengan penuh rasa gembira setelah menerima kabar kelahiran keponakannya.

Kisah Abu Lahab menjadi pelajaran penting bahwa kedekatan keluarga tidak otomatis menjadi penyelamat jika seseorang menolak kebenaran. Ia pernah bergembira dengan lahirnya Nabi Muhammad SAW, tetapi permusuhannya terhadap risalah yang dibawa keponakannya itu menjadikannya sosok yang diabadikan sebagai penghuni neraka.




(inf/lus)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads