Ulama Pendiri NU di Balik Muktamar Pertama Tahun 1926

Ulama Pendiri NU di Balik Muktamar Pertama Tahun 1926

Hanif Hawari - detikHikmah
Sabtu, 25 Jul 2026 14:00 WIB
Logo NU
Foto: dok. PBNU
Jakarta -

Muktamar pertama Nahdlatul Ulama (NU) yang digelar pada 1926 menjadi tonggak penting dalam sejarah organisasi Islam di Indonesia. Di balik penyelenggaraan muktamar tersebut, terdapat deretan ulama yang memiliki peran berbeda-beda, mulai dari pemberi restu, penggagas organisasi, hingga sosok yang merancang identitas NU.

Banyak masyarakat mengenal Hadratussyaikh KH Hasyim Asy'ari sebagai pendiri NU. Namun, sejarah mencatat bahwa berdirinya jam'iyah ini merupakan hasil ikhtiar kolektif para ulama. Bahkan, NU pernah menerbitkan buku Muassis Nahdlatul Ulama: Manaqib 26 Tokoh Pendiri NU yang memuat biografi 26 tokoh pendiri organisasi tersebut.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tokoh Pendiri NU

Dari puluhan nama itu, terdapat sejumlah ulama yang memiliki kontribusi besar dalam proses lahirnya NU dan penyelenggaraan muktamar pertama pada 16 Rajab 1344 H atau bertepatan dengan 31 Januari 1926.

1. Syekh Kholil Bangkalan, Guru Spiritual Para Pendiri NU

Nama Syekh Kholil Bangkalan tak bisa dilepaskan dari sejarah berdirinya NU. Ulama kelahiran 27 Januari 1820 itu dikenal sebagai guru dari banyak kiai besar, termasuk KH Hasyim Asy'ari.

ADVERTISEMENT

Dalam tradisi NU, Syekh Kholil dikenang sebagai sosok yang memberikan restu atas pendirian organisasi tersebut. Restu itu menjadi penguat bagi para ulama pesantren untuk membentuk wadah perjuangan yang mampu menjaga ajaran Ahlussunnah wal Jamaah.

Semasa hidupnya, Syekh Kholil menuntut ilmu di Makkah kepada sejumlah ulama besar, di antaranya Syekh Nawawi al-Bantani, Syekh Utsman bin Hasan ad-Dimyati, serta Sayyid Ahmad bin Zaini Dahlan. Setelah kembali ke Tanah Air, ia mendirikan pesantren di Bangkalan yang kemudian melahirkan banyak ulama berpengaruh.

2. KH Hasyim Asy'ari Menjadi Rais Akbar Pertama

Tokoh sentral lainnya ialah Hadratussyaikh KH Hasyim Asy'ari yang dipercaya menjadi Rais Akbar pertama NU sejak organisasi tersebut berdiri.

Ulama kelahiran Jombang pada 14 Februari 1871 itu dikenal memiliki otoritas keilmuan yang tinggi. Saat menimba ilmu di Makkah, KH Hasyim belajar kepada ulama-ulama terkemuka seperti Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi dan Syekh Muhammad Salih al-Samarqandi. Ia bahkan pernah mengajar di Masjidil Haram.

Sepulang ke Indonesia, KH Hasyim mendirikan Pondok Pesantren Tebuireng pada 1899 yang kemudian menjadi salah satu pusat pendidikan Islam terbesar di Nusantara.

Dalam organisasi NU, KH Hasyim tidak hanya memimpin, tetapi juga menyusun Qanun Asasi sebagai prinsip dasar organisasi serta merumuskan kitab I'tiqad Ahlussunnah wal Jamaah yang menjadi pedoman warga NU dalam bidang keagamaan, sosial, hingga kebangsaan.

3. KH Abdul Wahab Chasbullah, Penggerak Lahirnya NU

Jika KH Hasyim dikenal sebagai pemimpin organisasi, maka KH Abdul Wahab Chasbullah merupakan motor penggerak lahirnya NU.

Jauh sebelum NU berdiri, KH Wahab telah mendirikan sejumlah organisasi yang menjadi cikal bakal kebangkitan kaum pesantren. Pada 1914, ia membentuk kelompok diskusi Tashwirul Afkar atau Nahdlatul Fikr. Dua tahun kemudian lahir Nahdlatul Wathan, disusul Nahdlatut Tujjar pada 1918.

Pengalaman membangun organisasi tersebut menjadi modal penting ketika para ulama sepakat mendirikan Nahdlatul Ulama pada 1926.

KH Wahab juga dipercaya memimpin Komite Hejaz, delegasi ulama Indonesia yang menyampaikan aspirasi kepada Raja Ibnu Saud agar tetap memberikan kebebasan kepada umat Islam menjalankan ibadah sesuai mazhab masing-masing di Tanah Suci.

4. KH Bisri Syansuri, Penguat Fondasi Keilmuan NU

Nama KH Bisri Syansuri juga termasuk dalam tiga tokoh utama pendiri NU bersama KH Hasyim Asy'ari dan KH Abdul Wahab Chasbullah.

Ulama kelahiran 18 September 1886 itu menimba ilmu kepada banyak kiai besar, seperti KH Kholil Kasingan, KH Syu'aib Sarang, Syekh Kholil Bangkalan, hingga KH Hasyim Asy'ari.

Selain aktif membangun NU, KH Bisri juga dikenal sebagai pelopor pendidikan perempuan di lingkungan pesantren. Di Pondok Pesantren Mamba'ul Ma'arif Denanyar, Jombang, ia membuka kelas khusus bagi santri putri yang kemudian menjadi inspirasi bagi banyak pesantren lain.

5. KH As'ad Syamsul Arifin Membawa Pesan Penting dari Syekh Kholil

Peran KH As'ad Syamsul Arifin juga sangat penting dalam sejarah berdirinya NU.

Ulama asal Situbondo itu dipercaya membawa pesan dari Syekh Kholil Bangkalan kepada KH Hasyim Asy'ari. Pesan tersebut dipahami sebagai isyarat sekaligus dorongan agar para ulama segera mendirikan organisasi yang kemudian dikenal sebagai Nahdlatul Ulama.

Di kemudian hari, KH As'ad juga dikenal sebagai pejuang kemerdekaan dan ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional pada 2016.

6. KH Mas Alwi Mengusulkan Nama Nahdlatul Ulama

Tak banyak yang mengetahui bahwa nama Nahdlatul Ulama merupakan usulan KH Mas Alwi atau Sayid Alwi Abdul Aziz al-Zamadghon.

Sebelum nama itu disepakati, sempat muncul usulan lain seperti Jami'iyah Ulama. Namun, KH Mas Alwi mengusulkan nama Nahdlatul Ulama yang berarti kebangkitan para ulama karena dinilai lebih mencerminkan semangat perjuangan organisasi.

Usulan tersebut akhirnya diterima dan menjadi nama resmi organisasi hingga sekarang.

7. KH Ridwan Abdullah Perancang Lambang NU

Identitas visual NU juga lahir dari tangan KH Ridwan Abdullah.

Atas arahan KH Hasyim Asy'ari, ia diminta merancang lambang yang benar-benar orisinal dan mampu mencerminkan kewibawaan organisasi.

Proses pembuatannya tidak mudah. Berulang kali sketsa yang dibuat belum mendapat persetujuan. Hingga akhirnya, setelah melakukan salat istikharah, KH Ridwan mengaku memperoleh ilham berupa gambaran jagat raya yang dikelilingi sembilan bintang. Konsep itulah yang kemudian disempurnakan menjadi lambang resmi NU yang masih digunakan hingga kini.

Berawal dari Komite Hejaz

Lahirnya NU tidak dapat dipisahkan dari dinamika dunia Islam pada awal abad ke-20. Saat itu, Raja Ibnu Saud berencana menjadikan mazhab Wahabi sebagai satu-satunya mazhab yang berlaku di Makkah sekaligus menghapus sejumlah situs bersejarah Islam yang dianggap berpotensi menimbulkan praktik bid'ah.

Rencana tersebut memicu penolakan dari kalangan ulama pesantren di Indonesia yang selama ini memegang teguh tradisi keberagaman mazhab.

Karena tidak dilibatkan dalam Kongres Islam Internasional di Makkah, para ulama membentuk Komite Hejaz yang dipimpin KH Abdul Wahab Chasbullah. Delegasi ini menyampaikan aspirasi agar kebebasan bermazhab tetap dijaga.

Setelah perjuangan tersebut membuahkan hasil, para ulama memandang perlunya organisasi yang lebih kuat dan terstruktur untuk menghadapi berbagai tantangan umat. Kesepakatan itulah yang kemudian melahirkan Nahdlatul Ulama pada 31 Januari 1926, yang ditandai dengan penyelenggaraan muktamar pertama dan pengangkatan KH Hasyim Asy'ari sebagai Rais Akbar.



(hnh/inf)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads