Ternyata Begini Cara Rasulullah Berjalan, Duduk, dan Bersandar

Ternyata Begini Cara Rasulullah Berjalan, Duduk, dan Bersandar

Kristina - detikHikmah
Selasa, 23 Jun 2026 08:45 WIB
ilustrasi nabi muhammad
Kaligrafi Nabi Muhammad SAW. Foto: iStock
Jakarta -

Rasulullah SAW adalah teladan sempurna dalam berbagai aspek kehidupan. Termasuk saat berjalan, duduk, dan bersandar. Setiap yang beliau lakukan penuh ketenangan dan kewibawaan.

Para generasi salaf, seperti dikatakan Ibnu Qayyim Al-Jauziyah dalam Zadul Ma'ad terjemahan Saefuddin Zuhri, mengatakan Rasulullah SAW berjalan dengan ketenangan dan kewibawaan tanpa keangkuhan dan kemalasan.

Apabila berjalan, Rasulullah SAW melakukannya dengan merunduk seolah sedang melewati jalanan menurun. Kata Ibnu Qayyim, gambaran ini menerangkan dua hal bahwa gaya berjalan Rasulullah SAW tidak seperti malas dan tidak juga seperti hina, tetapi ini adalah gaya berjalan yang paling seimbang dan proporsional.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dalam kitab Asy-Syamail Al-Muhammadiyah, Imam At-Tirmidzi memaparkan hadits yang menggambarkan bagaimana cara Rasulullah SAW menjalani kesehariannya. Dikatakan, Rasulullah SAW berjalan dengan cepat. Saking cepatnya, para sahabat kesulitan mengikutinya.

ADVERTISEMENT

"Tiada satu pun kulihat lebih indah daripada Rasulullah SAW, seolah-olah mentari beredar di wajahnya. Juga tiada seorang pun yang kulihat lebih cepat jalannya daripada Rasulullah SAW, seolah-olah bumi ini dilipat-lipat untuknya. Sungguh, kami harus bersusah payah melakukan hal itu, sedangkan Rasulullah SAW tidak memperdulikan." (Diriwayatkan oleh Qutaibah bin Sa'id dari Ibnu Luthai'fah dari Abi Yunus yang bersumber dari Abu Hurairah RA)

Rasulullah SAW terlihat sangat berwibawa ketika duduk. Qabilah binti Makhramah pernah melihat Nabi SAW duduk qurfasha yakni bertumpu pada pinggul dengan kedua paha merapat ke perut dan tidak memegang betis.

"Ia (Qabilah) melihat Rasulullah SAW di masjid sedang duduk qurfasha." Qabilah berkata: "Manakala aku melihat Rasulullah SAW sedang duduk dengan khusyuk, maka aku pun dibawa oleh perasaan takjub karena wibawanya."

Saat di masjid, Nabi SAW juga duduk qurfasha sambil bersandar (ihtiba) dengan kedua tangannya. Adapun ketika berbaring di masjid, beliau melakukannya dengan telentang dan salah satu kakinya ditumpangkan di kaki lainnya.

Salah seorang sahabat juga pernah melihat Rasulullah SAW duduk bertelekan sebuah bantal di sebelah kirinya. Namun, beliau tidak melakukan ini ketika makan.

Rasulullah SAW bersabda, "Aku tak mau makan sambil bertelekan, aku tak mau makan sambil bertelekan." (Riwayat bersumber dari Abu Juhaifah RA)

Ketika sedang sakit, Rasulullah SAW keluar dari rumah dengan bertelekan pada Usamah bin Zaid. Kala itu beliau memakai kain buatan Qatar (qithri) yang diselempangkan. Kemudian beliau salat bersama para sahabat.

Rasulullah SAW juga pernah duduk dan menyandarkan tangannya di atas bahu Fadlal bin Abbas RA setelah beliau minta tolong mengencangkan balutan di kepala. Fadlal bercerita:

"Aku masuk ke rumah Rasulullah SAW tatkala beliau sedang sakit yang membawa ajalnya. Di kepalanya ada balutan kain kuning. Kepadanya kuucapkan salam, kemudian beliau bersabda: "Wahai Fadlal, apa kabarmu?" Aku menjawab: "Baik wahai Rasulullah!" Rasulullah bersabda: "Kuatkan balutan yang ada di kepalaku ini!" Fadlal meneruskan ceritanya: "Maka kulakukan perintah Rasulullah SAW itu. Kemudian beliau duduk, lalu meletakkan tangannya di atas bahuku, kemudian beliau berdiri lalu masuk ke masjid." Dan kisah selanjutnya terdapat dalam hadits perihal wafatnya Rasulullah SAW.




(kri/inf)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads