Kalimat Insya Allah sering diucapkan dalam percakapan sehari-hari, terutama saat berjanji atau merencanakan sesuatu di masa depan. Namun, masih banyak yang bingung dengan penulisannya.
Sebagian orang menulis Insya Allah, sementara yang lain menulis Insha Allah. Padahal, kalimat ini dianjurkan dalam Al-Qur'an dan memiliki makna penting, sehingga penulisannya perlu diperhatikan agar tidak salah.
Penulisan yang Benar Insya Allah atau Insha Allah
Dalam bahasa Arab, penulisan yang benar adalah إِنْ شَاءَ اللَّه yang berarti "Jika Allah menghendaki". Menurut KBBI, bentuk baku dalam bahasa Indonesia ditulis Insya Allah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara itu, dalam penulisan bahasa Indonesia, huruf "sh" bisa merujuk pada huruf ﺹ. Karena itu, jika ditulis dalam bahasa Arab, "Insha Allah" bisa menjadi إنصا, bukan إِنْ شَاءَ.
Meski begitu, mengutip NU Online, Pengasuh Pesantren Luhur Baitul Hikmah Malang, Gus Ach Dhofir Zuhry menjelaskan bahwa penulisan huruf Arab ke latin bisa berubah. Saat ini, huruf ص juga bisa ditulis dengan huruf S bertitik di bawah (Ṣ). Jadi, perbedaan ini tidak perlu diperdebatkan.
Pada dasarnya, Insya Allah dan Insha Allah hanya berbeda dalam cara penulisan. Mengutip laman IAIN Kendari, dalam bahasa Indonesia huruf ش ditulis "Sy" (Insya), sedangkan dalam bahasa Inggris ditulis "Sh" (Insha).
Mengutip buku Sepenggal Cerita Sejuta Makna oleh Abdul Wahid al-Faizin dijelaskan bahwa insya Allah adalah kalimat sederhana, tetapi memiliki makna yang dalam. Kalimat ini menunjukkan kuatnya keyakinan seseorang yang mengaitkan rencana di masa depan dengan kehendak Allah SWT.
Ia juga menjelaskan bahwa insya Allah menjadi bentuk sikap pasrah dan tawakal seorang hamba atas apa yang direncanakan. Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT dalam Surah Ali Imran ayat 159,
فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللّٰهِ لِنْتَ لَهُمْ ۚ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيْظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوْا مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِى الْاَمْرِۚ فَاِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِيْنَ
Fabimā raḥmatim minallāhi linta lahum, wa lau kunta faẓẓan galīẓal-qalbi lanfaḍḍū min ḥaulik(a), fa'fu 'anhum wastagfir lahum wa syāwirhum fil-amr(i), fa iżā 'azamta fa tawakkal 'alallāh(i), innallāha yuḥibbul-mutawakkilīn(a).
Artinya: "Maka, berkat rahmat Allah engkau (Nabi Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Seandainya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka akan menjauh dari sekitarmu. Oleh karena itu, maafkanlah mereka, mohonkanlah ampunan untuk mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam segala urusan (penting). Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertawakal."
Kapan Waktu Mengucapkan Insya Allah yang Tepat?
Menurut M. Quraish Shihab dikutip dari buku Shihab & Shihab Edisi Ramadhan, dijelaskan bahwa ucapan insya Allah pada dasarnya bukan berarti seseorang baru akan berusaha jika Allah SWT menghendaki.
Namun, insya Allah diucapkan setelah seseorang sudah memiliki niat dan tekad untuk melakukan sesuatu. Meski begitu, ia tetap menyadari bahwa hasil akhirnya bergantung pada kehendak Allah SWT.
Ia menjelaskan bahwa ucapan insya Allah tidak boleh dipahami sebagai alasan untuk menyerahkan suatu rencana kepada Allah SWT tanpa disertai usaha sama sekali.
Lebih lanjut, ia juga mengingatkan agar sering mengucapkan la hawla wa la quwwata illa billah yang berarti tidak ada kekuatan dan kemampuan untuk melakukan atau menghindari sesuatu kecuali dengan pertolongan Allah SWT.
Mengucapkan insya Allah sendiri termasuk salah satu perintah dari Allah SWT yang terdapat di dalam Al Quran surah Al Kahf ayat 23-24,
-Ayat 23
وَلَا تَقُوْلَنَّ لِشَا۟يْءٍ اِنِّيْ فَاعِلٌ ذٰلِكَ غَدًاۙ
Wa lā taqūlanna lisyai'in innī fā'ilun żālika gadā(n).
Artinya: "Jangan sekali-kali engkau mengatakan terhadap sesuatu, 'Aku pasti melakukan hal itu besok,'"
-Ayat 24
اِلَّآ اَنْ يَّشَاۤءَ اللّٰهُ ۖوَاذْكُرْ رَّبَّكَ اِذَا نَسِيْتَ وَقُلْ عَسٰٓى اَنْ يَّهْدِيَنِ رَبِّيْ لِاَقْرَبَ مِنْ هٰذَا رَشَدًا
Illā ay yasyā'allāh(u), ważkur rabbaka iżā nasīta wa qul 'asā ay yahdiyani rabbī li'aqraba min hāżā rasyadā(n).
Artinya: "kecuali (dengan mengatakan), 'Insya Allah.' Ingatlah kepada Tuhanmu apabila engkau lupa dan katakanlah, 'Mudah-mudahan Tuhanku akan memberiku petunjuk kepada yang lebih dekat kebenarannya daripada ini.'"
(lus/lus)












































Komentar Terbanyak
Wamenhaj Dahnil Anzar Nilai Presiden Prabowo Layak Jadi Bapak Haji Indonesia
Mengapa Nabi Isa Disebut Belum Wafat dalam Islam?
Jemaah Haji RI Ditangkap di Madinah Usai Videokan Wanita Tanpa Izin